Berita

/

Artikel, Berita Terbaru, SDG 17, SDG 3, SDG 4, SDG 9

Senyum Baru dari Dua Pendekatan: Bedah Periodontal dan Kawat Gigi untuk Tonjolan Dua Rahang

Perempuan itu datang dengan keluhan yang sudah lama ia simpan: gigi depan atas yang berdesakan, gigi taring yang menonjol keluar, dan deretan gusi yang terlalu banyak terlihat saat ia tersenyum. Usianya baru 19 tahun, tetapi rasa tidak percaya diri itu sudah menemaninya bertahun-tahun. Di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Gadjah Mada, perjalanan perawatannya menjadi lebih dari sekadar urusan kawat gigi.

Kasus ini kini dipublikasikan dalam Journal of International Dental and Medical Research (Volume 18, Nomor 1, 2025) oleh tim peneliti FKG UGM, termasuk Dr. drg. Dyah Karunia, Sp.Ort., dan Dr. drg. Ananto Ali Alhasyimi, MDSc., Sp.Ort., Subsp.DDTK(K) sebagai penulis koresponden. Temuan mereka menegaskan satu hal yang kerap diremehkan dalam praktik klinis: perawatan ortodontik saja tidak selalu cukup.

Ketika Gigi Sudah Rapi, Gusi Belum Bicara Selesai

Pasien terdiagnosis dengan maloklusi Kelas I disertai bimaxillary prognathism, suatu kondisi di mana gigi-gigi anterior pada rahang atas maupun bawah berada lebih ke depan dari posisi idealnya. Profil wajahnya cembung, dengan hubungan skeletal Kelas II. Pemeriksaan awal mencatat overjet +2,39 mm, overbite +1,87 mm, gigi 63 yang persisten, serta gingival display anterior lebih dari 2 mm.

Bimaxillary protrusion bukan kondisi langka, terutama di kalangan pasien Asia. Faktor genetik, kebiasaan bernapas lewat mulut, serta pola pergerakan bibir dan lidah turut berkontribusi pada pembentukan kondisi ini. Masalahnya sering kali bukan hanya posisi gigi, tetapi juga bagaimana jaringan lunak di sekitarnya merespons.

Tim memasang alat ortodontik cekat menggunakan teknik MBT dengan braket slot 0,022 inci. Sebelum pemasangan braket, gigi 63 yang persisten terlebih dahulu dicabut. Selama 18 bulan, sekuens archwire dimulai dari NiTi 0,012 inci hingga SS 0,017 x 0,025 inci, dilengkapi open coil spring dan power chain untuk menutup diastema serta memperbaiki interdigitasi.

Hasilnya menjanjikan secara dental. Namun, satu masalah bertahan: senyum pasien masih memperlihatkan gusi lebih dari 2 mm. Gigi-giginya tampak pendek dan persegi. Kawat gigi sudah menyelesaikan tugasnya, tetapi estetika senyum belum tuntas.

Lebar Biologis dan Keputusan yang Tidak Mudah

Pemeriksaan lanjutan menggunakan probe UNC-15 mengungkap bahwa lebar biologis pada regio gigi 15 hingga 25 kurang dari 2,0 mm. Diagnosis yang ditegakkan adalah altered passive eruption (APE) tipe 1B, kondisi di mana jaringan gingiva tidak bermigrasi ke posisi yang seharusnya sehingga mahkota klinis tampak lebih pendek dari proporsi idealnya.

Di sinilah peran periodonsia masuk. Tim memutuskan untuk melakukan prosedur crown lengthening disertai osteoreduction, yaitu pengurangan tulang alveolar untuk mencapai lebar biologis yang ideal.

Prosedur dimulai dengan teknik aseptik menggunakan povidone iodine, dilanjutkan anestesi lokal pada lipatan mukobukalis. Insisi dilakukan pada gigi 15 hingga 25 menggunakan scalpel dengan blade #15-C, flap diangkat, kemudian osteoreduction dikerjakan dengan bone bur dan handpiece kecepatan rendah. Pengurangan tulang dihitung berdasarkan bone sounding, hingga perlekatan jaringan ikat mencapai 1,07 mm untuk menghasilkan lebar biologis ideal 2,04 mm. Flap kemudian diposisikan ulang dan dijahit, diikuti pemasangan periodontal dressing.

Pasien menjalani kontrol satu minggu, dua minggu, satu bulan, dan dua bulan pascaoperasi. Tidak ada komplikasi yang tercatat.

Senyum yang Seimbang, Hasil yang Bertahan

Perubahan yang didokumentasikan setelah seluruh rangkaian perawatan selesai cukup signifikan. Overjet turun dari +2,39 mm menjadi +2 mm, overbite terkoreksi dari +1,87 mm menjadi +2 mm. Hubungan kaninus kiri bergeser dari Kelas II menjadi Kelas I. Analisis sefalometri pascaperawatan mencatat peningkatan sudut SNA dari 78,7° menjadi 81,4°, sudut SNB dari 72,8° menjadi 77,4°, penurunan sudut konveksitas dari 14,7° menjadi 13,7°, serta peningkatan sudut interinsisal yang signifikan dari 110,7° menjadi 126,6°.

“Jaringan gingiva menunjukkan kesehatan yang baik, bentuk normal, dan pasien menyatakan kepuasan tinggi terhadap hasil yang dicapai.” — Alissa Shella Destyarrum et al., Journal of International Dental and Medical Research, 2025

Kasus ini menjadi contoh konkret mengapa pendekatan interdisipliner bukan sekadar opsi tambahan, melainkan kebutuhan klinis. APE adalah kondisi yang sering luput dari diagnosis karena penampilannya tidak selalu mencolok, terutama bila pasien datang dengan keluhan utama berupa gigi berjejal atau protrusif. Tanpa pemeriksaan periodontal yang cermat, perawatan bisa berakhir dengan gigi yang rapi secara teknis tetapi senyum yang tetap tidak proporsional.

Bagi Dr. drg. Dyah Karunia, Sp.Ort., dan tim peneliti FKG UGM, kasus ini bukan hanya tentang teknis bedah atau mekanika kawat gigi. Ini tentang memahami bahwa wajah manusia adalah sistem yang utuh, dan senyum yang baik lahir dari kerja sama yang baik pula antara berbagai disiplin ilmu.

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
23 Juli 2026

Aerogel TiO₂: Terobosan Material Sel Surya dari Laboratorium UI

23 Juli 2026

Suplemen Omega-3 dari Ganggang Laut Ternyata Bisa Memperlambat Pergerakan Gigi Ortodontik

23 Juli 2026

IKGA FKG UGM & RSGM UGM Perkuat Edukasi Pencegahan Penyakit Gigi Anak di TK Rumahku Tumbuh

id_ID