Di bawah sorot lampu yang hangat & gemuruh tepuk tangan yang berdecak panjang, sebuah memori institusi tak sekadar dipentaskan, namun “dinyawakan” melalui sendratari. Malam itu, ruang pertunjukan seolah menjelma lorong waktu. Gerak tubuh para penari, denting musik pengiring, dan tata artistik yang matang menyatukan fragmen sejarah menjadi satu narasi utuh tentang perjalanan Universitas Gadjah Mada, khususnya Fakultas Kedokteran Gigi (FKG).
Sendratari hadir bukan hanya sebagai hiburan, melainkan sebagai refleksi kultural yang memadukan denyut tradisi dengan semangat generasi kini. Ia adalah wajah lain dari kampus: bukan ruang kuliah dan laboratorium, melainkan panggung yang menghidupkan nilai, sejarah, dan identitas.

Dari Ngasem hingga Sekip, perjalanan FKG UGM dirangkai dalam alur dramatari yang cair nan meliuk-liuk. Setiap fase dari Ngasem, Mangkubumen, Bulaksumur, hingga Sekip diterjemahkan dalam bahasa tubuh yang khas, menciptakan dialog antara masa lalu dan masa kini. Di sinilah sendratari merasuk dalam perjalanan 78 tahun FKG UGM, menyederhanakan sejarah menjadi pengalaman yang bisa dirasakan, bukan sekadar diingat sesaat.
Yang membuat pertunjukan ini terasa berbeda adalah siapa yang berada di atas panggung. Mereka bukan penari profesional, melainkan civitas akademika FKG UGM yang terdiri dari: mahasiswa, dosen, bahkan dekan FKG UGM Prof. drg. Suryono, SH, MM, Ph.D. Kehadiran figur akademik dalam balutan kostum tari menghadirkan pesan kuat, ilmu pengetahuan dan kebudayaan tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling bersinergi dalam nafas lingkungan akademik.

“Ini bukan sekadar pentas, tetapi cara kami merayakan perjalanan panjang institusi,” demikian kira-kira semangat yang ingin disampaikan para penggagasnya. Di tangan sutradara Wibowo dan para penata tari, gerak tidak hanya menjadi estetika, tetapi juga narasi dalam bentuk tari.
Musik yang mengiringi pun tidak sekadar latar. Musik menjadi denyut emosi, kadang lirih, kadang menggelegar yang menyusup ke dalam relung kesadaran penonton. Sementara tata busana dan artistik menghadirkan visual yang kaya, mempertegas pergeseran dinamika zaman tanpa kehilangan kesinambungan.

Di tengah arus budaya populer yang serba cepat dan instan, sendratari ini justru menunjukkan bahwa tradisi masih memiliki tempat, bahkan bisa tampil segar dan relevan. Ada keberanian untuk meramu ulang bentuk klasik menjadi lebih komunikatif tanpa kehilangan ruhnya.
Lebih dari itu, pertunjukan ini menyiratkan sesuatu yang lebih dalam, tentang semangat belajar, tentang mimpi yang dikejar bersama, dan tentang pengabdian untuk negeri. Narasi yang terselip dalam dialog dan lirik mengingatkan bahwa pendidikan bukan hanya soal capaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan kebersamaan untuk menjadi cerita penuh makna.

Di balik layar, nama Angga Wibowo berdiri sebagai nahkoda sendratari 78 tahun FKG UGM. Ia merangkai ide menjadi cerita, menghidupkan konsep menjadi pengalaman visual yang utuh. Dalam arahannya, gerak bukan sekadar koreografi, melainkan bahasa yang menyampaikan makna. Bersamanya, dua penata tari, Bima Alfian dan Raven Gref, merajut langkah demi langkah menjadi harmoni. Setiap hentakan kaki, setiap lengkungan tangan, dirancang untuk berbicara—tentang perjalanan, tentang identitas, tentang kebersamaan.
Iringan musik yang mengalun bukan sekadar latar. Di tangan Ngatmin, nada menjadi nyawa kedua bagi gerak. Denting dan ritme mengalir, mengikat emosi penonton dengan cerita yang disampaikan di atas panggung. Sementara itu, proses pemilihan wajah-wajah yang akan menghidupkan cerita dipercayakan kepada Samuel Devan dan Patricia Pramesti, dua nama yang tak hanya memilih, tetapi juga membentuk karakter peran.
Di sisi visual, detail menjadi segalanya. Puput Rahmawati menghadirkan kostum yang bukan hanya indah dipandang, tetapi juga memperkuat karakter. Setiap kain, warna, dan tekstur adalah bagian dari narasi. Lalu, ruang pertunjukan dihidupkan oleh sentuhan Nurcholish Ramadhan, yang menjadikan arena bukan sekadar tempat, melainkan dunia tempat cerita berlangsung.

Sendratari ini tak mungkin berdiri tanpa tangan-tangan di balik layar. Nama-nama seperti Taruna, Audrey, Dewi, Chika, dan Nunu bergerak cepat memastikan busana selalu siap. Di sisi arena, Sidik dan Hansel memastikan setiap sudut panggung aman dan tertata. Sementara Abid, Talitha, Annisa, Devina, dan Hero menghidupkan detail artistik yang sering luput dari perhatian, tetapi justru menentukan keutuhan pengalaman.
Dan ketika lampu panggung menyala, sorot akhirnya jatuh pada para penari, mereka yang membawa cerita itu hidup. Dari sosok Dekan FKG UGM Prof. Suryono yang sarat sebagai senior & pengalaman, hingga energi muda seperti Marwa A’yunie Maulida, Muhammad Zakil M., dan Auracahya M.B.. Nama-nama lain seperti Devina Naswa Alifah, Gagayu Sucita, Manuella Maureen, hingga Raras Dwi Nugraheni menghadirkan warna yang berbeda dalam satu kesatuan.
Mereka datang dari latar yang beragam, tetapi di atas panggung, identitas itu melebur. Gerak mereka menjadi satu bahasa. Bahasa yang tak memerlukan kata, tetapi mampu menyentuh rasa. Dalam setiap langkah Andika Fachrie, dalam setiap ekspresi Qotrunada Nabila, hingga dalam energi yang dibawa Ahmad Faiq M. dan rekan-rekannya, tersimpan kerja keras, latihan panjang, dan mimpi yang sama.

Pertunjukan ini bukan hanya soal siapa tampil di depan penonton, tetapi tentang bagaimana setiap individu seperti Monawati Rahayu Bhakti hingga Arba Adhya menjadi bagian dari cerita yang lebih besar. Sebuah cerita tentang kolaborasi, dedikasi, dan keberanian untuk menghadirkan monumen 78 tahun FKG UGM.

Pada akhirnya, panggung sendratari bukan sekadar ruang pertunjukan. Perjalanan FKG UGM menjadi ruang pertemuan antar generasi, antara ilmu dan seni, antara tradisi dan modernitas. Ketika pementasan berakhir, yang tersisa bukan hanya tepuk tangan, melainkan kesadaran bahwa menyusuri kilas balik sebuah institusi mampu diceritakan dengan penuh makna, agar seperti kata Sheila on 7…semoga doa yang tersampaiakan, jadi cahaya jalan di depan, kau yang terbaik, memori baik…oh 78 tahun FKG UGM.
(Reporter: Andri Wicaksono, Fotografer: Fajar Budi Harsakti & Arsip Tim Sendratari 78 Tahun FKG UGM)