Berita

/

Berita Terbaru

Apakah Semua AI Sama?

Saat ini, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) hadir dalam berbagai wujud untuk membantu urusan harian manusia. Meski terlihat serba bisa, nyatanya tidak semua AI diciptakan dengan kemampuan dan fungsi yang sama.

Perbedaan fungsi ini perlu menjadi perhatian bagi para dosen dan peneliti. Sebagai orang yang rutin mempublikasikan artikel ilmiah, dosen dituntut sadar dan jeli dalam memilih AI yang sesuai dengan kebutuhan.

Dosen FK-KMK UGM, dr. Dian Kesumapramudya Nurputra, M.Sc., Ph.D., Sp.A, Subsp. Neuro(K), menjelaskan bahwa mesin AI secara garis besar terbagi menjadi dua kategori. Kategori pertama adalah AI Umum yang dilatih menggunakan data acak dari internet, yang biasanya hanya aman dipakai untuk memancing ide tulisan.

dr. Dian mengatakan para akademisi untuk beralih ke kategori kedua, yakni Research-Grade AI atau AI khusus riset. Dalam kegiatan Peningkatan Academic Exellence, Rabu (1/7), para dosen Departemen Biomedika FKG UGM diperkenalkan dengan AI yang digunakan untuk riset seperti Elicit, Consensus, dan Claude.

“Lebih dari 30 persen peneliti saat ini sudah aktif menggunakan AI dalam alur kerja publikasi mereka. Penggunaan teknologi yang tepat guna terbukti mampu mempercepat proses pencarian dan tinjauan pustaka (literature review) hingga 4,7 kali lipat,” ucapnya.

Saat menggunakan perangkat khusus riset ini, dosen dapat memosisikan AI sebagai teman diskusi atau rekan kerja. Agar mesin menghasilkan jawaban yang akurat, dr. Dian membagikan struktur perintah (prompt) yang sistematis, meliputi penentuan Peran (Role), Konteks (Context), Tugas (Task), Format luaran (Format), dan Batasan (Constraint).

“Dengan memasukkan struktur prompt seperti ini, kita dapat menghemat waktu dan mendapat hasil yang optimal,” tambahnya.

Walau menjanjikan kecepatan, penggunaan AI tentu memiliki rambu-rambu etika. dr. Dian membeberkan sejumlah fungsi AI yang masih berstatus wajar dan diperbolehkan bagi peneliti. Diantaranya adalah AI dapat digunakan untuk memperbaiki tata bahasa (grammar and language polishing), menggali kerangka tulisan (brainstorming), serta merapikan format maupun membuat tabel deskriptif sederhana.

Tercatat, sebanyak 68 persen jurnal ilmiah papan atas (top-tier) saat ini sudah memiliki kebijakan ketat terkait deklarasi (disclosure) AI. Penulis harus mencantumkan penggunaan AI pada bagian metode penelitian (methods) atau pada kolom ucapan terima kasih (acknowledgment).

“Yang tidak boleh dilupakan yaitu setiap output yang dihasilkan oleh AI perlu diverifikasi oleh penggunanya. Kita sebagai peneliti harus mengedepankan etika,” pesannya.

Penulis: Fajar Budi Harsakti
Foto: Fajar Budi Harsakti

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
8 Juli 2026

Prodi Doktor IKG FKG UGM, Pertajam Kualitas Penelitian Yang Berdampak Nyata Bagi Masyarakat

8 Juli 2026

Michelle Sunico Segarra, DDM., MOH., PhD Paparkan Green Dentistry Kunci Masa Depan

8 Juli 2026

International Dental Summer Course FKG UGM 2026 Resmi Dibuka !

id_ID