Bayangkan setiap tegukan teh hijau membawa lebih dari sekadar kesegaran. Di balik warna kekuningan itu tersimpan senyawa bernama epigallocatechin gallate, atau EGCG, yang ternyata mampu membangunkan sel-sel penjaga tubuh agar bekerja lebih agresif memangsa bakteri.
Itulah temuan yang dipublikasikan oleh Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., PBO. dari Departemen Biologi Oral Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada dalam jurnal Dentika Dental Journal (2012). Penelitiannya sederhana dalam desain, namun hasilnya cukup mengejutkan.
Ketika Makrofag Diajak Minum Teh
Dua puluh ekor tikus Wistar jantan dibagi menjadi dua kelompok. Selama 14 hari, kelompok perlakuan mendapat larutan EGCG konsentrasi 0,1%, sementara kelompok kontrol hanya diberi aquabidest. Setelah itu, sel mononuklear diisolasi dari darah masing-masing tikus, lalu diuji kemampuannya memfagosit bakteri Aggregatibacter actinomycetemcomitans, patogen yang dikenal sebagai pemicu periodontitis agresif.
Hasilnya bicara sendiri. Indeks fagositosis kelompok EGCG mencapai 2,91, jauh di atas kelompok kontrol yang hanya 1,49. Uji-t menunjukkan perbedaan bermakna dengan nilai p<0,05. Lebih gamblang lagi: persentase peningkatan fagositosis mencapai 113,36 persen. Satu sel mononuklear bahkan mampu menelan hingga 12 bakteri sekaligus.
“Dapat disimpulkan bahwa EGCG konsentrasi 0,1% dapat meningkatkan aktivitas fagositosis sel mononuklear tikus Wistar.” — Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., PBO., Departemen Biologi Oral FKG UGM
Polifenol, Imunitas, dan Batas yang Masih Terbuka
EGCG adalah komponen dominan dalam daun teh (Camellia sinensis), menyumbang sekitar 49 persen dari total fraksi polifenol. Secara biologis, ia dikenal sebagai antioksidan paling poten di antara empat katekin utama teh. Penelitian-penelitian sebelumnya telah mencatat kemampuannya menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans dan mencegah perlekatan Porphyromonas gingivalis pada epitel bukal.
Namun Handajani mencatat satu nuansa penting: ekstrak daun teh utuh kemungkinan lebih efektif dibanding EGCG murni yang berdiri sendiri. Ketika senyawa-senyawa dalam teh bekerja bersama-sama, efek sinergisnya tidak bisa digantikan oleh satu komponen tunggal saja. EGCG yang telah diisolasi mungkin sudah kehilangan “teman-temannya” yang turut berkontribusi.Temuan ini membuka pertanyaan yang relevan bagi kedokteran gigi: apakah konsumsi teh sehari-hari, yang sudah menjadi kebiasaan jutaan orang Indonesia, secara diam-diam juga sedang melatih sistem imun mukosa mulut? Jawabannya belum tuntas. Tapi secangkir teh, rupanya, menyimpan lebih banyak cerita dari yang tertulis di kemasannya.
Sumber DOI:
Penulis: Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto: Freepik