Berita

/

Artikel, Berita Terbaru

Minyak Temu Putih Turunkan Gula Darah Sekaligus Atasi Gingivitis pada Tikus Hiperglikemia

Kadar gula darah tikus percobaan itu melonjak dari 89,12 mg/dL menjadi 192,24 mg/dL — naik sekitar 215 persen — setelah induksi streptozotocin. Lalu, hanya dalam tujuh hari pemberian minyak atsiri temu putih (Curcuma zedoaria) secara oral, kadar gula itu turun bermakna. Gusi yang sebelumnya meradang, kemerahan, mengkilap, dan mudah berdarah, kembali tampak sehat.

Itulah temuan utama penelitian Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., PBO. dan Dhinintya Hyta Narissi dari Departemen Biologi Oral, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, yang dipublikasikan dalam Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) edisi Juni 2015.

Ketika Gula Darah Tinggi Merusak Gusi

Hubungan antara hiperglikemia dan penyakit periodontal bukan sekadar korelasi sederhana. Kondisi gula darah tinggi memicu produksi berlebih advanced glycation end-products (AGe), senyawa yang merangsang makrofag melepaskan sitokin proinflamasi seperti TNF-α dan IL-6. AGe juga mempercepat destruksi jaringan periodontal melalui aktivasi neutrofil polimorfonuklear dan peningkatan matrix metalloproteinase (MMP) serta reactive oxygen species (ROS) di jaringan periodonsium.

Dalam eksperimen ini, dua puluh lima tikus Wistar jantan dibagi menjadi kelompok perlakuan dan kontrol. Kondisi hiperglikemia dibuat dengan injeksi streptozotocin (STZ) dosis 40 mg/kg secara intraperitoneal. Gingivitis kemudian diinduksi dengan memasang ligatur sutra pada margin gingiva insisivus mandibula anterior selama enam hari, hingga seluruh tikus menunjukkan tanda gingivitis klinis. Kelompok perlakuan menerima minyak temu putih dengan tiga variasi dosis: 10, 30, dan 50 μl/ml, sementara kontrol positif mendapat glibenklamid dan kontrol negatif mendapat propilen glikol.

Dua Masalah, Satu Tanaman

Hasil analisis Manova menunjukkan perbedaan bermakna kadar gula darah antara kelompok perlakuan dan kontrol positif (p<0,05). Uji post hoc LSD memperlihatkan bahwa dosis 50 μl/ml memberikan efek penurunan gula darah yang paling signifikan dibanding dosis lebih rendah. Yang menarik, dosis 10 μl/ml dan 30 μl/ml tidak berbeda bermakna satu sama lain secara statistik, menunjukkan efek yang relatif setara pada rentang dosis tersebut.

Dari sisi jaringan gingiva, seluruh tikus pada kelompok perlakuan menunjukkan gingiva sehat setelah tujuh hari pemberian minyak temu putih. Efek ini diduga berasal dari kandungan kurkumin dan sesquiterpenoid dalam minyak tersebut. Kurkumin bekerja dengan menghambat jalur siklooksigenase sehingga menekan produksi prostaglandin, sementara sesquiterpenoid menghambat pelepasan TNF-α dari makrofag. Adapun efek hipoglikemik minyak temu putih diduga terjadi melalui perlindungan sel beta pankreas dari kerusakan akibat STZ, serta peningkatan sekresi insulin.

Temuan ini membuka pertanyaan yang lebih besar: jika satu tanaman rimpang dapat bekerja di dua jalur patologis sekaligus, seberapa jauh potensi fitofarmaka lokal Indonesia belum dieksplorasi untuk kasus komorbiditas diabetes dan penyakit mulut?

Penulis: Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto: ChatGPT

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
2 Juli 2026

Ketika Klopidogrel Membuat Luka Tak Mau Berhenti Berdarah

2 Juli 2026

Ketika Gigi Susu Patah: Pulpektomi Vital Selamatkan Senyum Anak 4 Tahun

2 Juli 2026

Mulut yang Tak Bisa Menutup: Ketika Alat Sederhana Bisa Mengubah Tumbuh Kembang Wajah Anak

id_ID