Seorang anak laki-laki berusia 10 tahun datang ke RSGM Prof. Soedomo UGM dengan keluhan yang sudah akrab baginya: luka perih di bibir bawah kiri, dasar mulut, dan lidah. Bukan pertama kali. Bukan pula kebetulan. Luka itu muncul hampir setiap bulan, selalu di tempat yang sama, selalu setelah ia mengunyah atau berbicara cukup lama. Kali ini, pemicunya adalah space maintainer mandibula yang baru dipasang tiga hari sebelumnya — dan ternyata sedikit bergeser.
Kasus ini kemudian didokumentasikan dan dipublikasikan dalam jurnal Improve Quality in Dentistry (IMUNITY) Volume 2, 2025, oleh dr. drg. Faisal Rizki bersama Dr. drg. Indra Bramanti, M.Sc., Sp.KGA(K), dosen spesialis kedokteran gigi anak dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada. Temuan mereka menegaskan sesuatu yang selama ini sering luput dari perhatian: stomatitis aftosa rekuren, atau RAS, pada anak bukan sekadar masalah daya tahan tubuh. Ia adalah penyakit multifaktorial yang bisa dipicu oleh benda-benda sekecil kawat labial yang salah posisi.
Luka yang Kembali dan Kembali Lagi
RAS adalah penyebab ulkus mulut paling umum, menyerang 5 hingga 25 persen populasi umum. Usia puncaknya: 10 hingga 19 tahun. Artinya, anak sekolah dan remaja adalah kelompok yang paling rentan — justru di usia ketika mereka banyak menggunakan alat ortodonti, sedang dalam masa pergantian gigi, dan belum sepenuhnya sadar akan kebersihan mulut.
Pada pasien dalam laporan ini, dua faktor mekanis teridentifikasi sebagai biang keladi. Pertama, space maintainer lepasan berbahan akrilik dengan tepi yang tajam menekan jaringan lunak dasar mulut dan bibir. Kedua, kebiasaan mengunyah hanya pada satu sisi — sisi kanan — yang sudah berlangsung lama sejak pasien merasa tidak nyaman saat gigi geraham permanennya tumbuh. Akibatnya, lidah berulang kali tergigit saat mengunyah dan berbicara.
“Trauma mekanis dari penggunaan space maintainer dan kebiasaan mengunyah unilateral menjadi faktor predisposisi utama RAS pada pasien ini.”
Kebiasaan mengunyah satu sisi itu dibuktikan secara objektif melalui tes mengunyah permen karet sebanyak 20 kali. Hasilnya: skor 3, yang menunjukkan pencampuran bolus hanya minimal — tanda bahwa fungsi mastikasi bilateral pasien jauh dari optimal. Deviasi mandibula saat menutup mulut pun terdeteksi dalam pemeriksaan klinis.
Mengukur Luka dengan Angka
Salah satu aspek menarik dari laporan kasus ini adalah penggunaan Ulcer Severity Score (USS), instrumen penilaian yang mengkonversi karakteristik ulkus menjadi angka. Enam parameter dinilai: jumlah ulkus, ukuran, durasi, periode bebas ulkus, lokasi, dan tingkat nyeri. Skor awal pasien adalah 23 — cukup tinggi, dengan tiga ulkus aktif sekaligus di lokasi berbeda.
Penanganan dilakukan dua jalur sekaligus. Jalur pertama adalah modifikasi gaya hidup: pasien diinstruksikan mengunyah dari kedua sisi, menjaga kebersihan mulut, mengonsumsi suplemen vitamin C untuk mendukung regenerasi jaringan, serta melakukan penyesuaian pada space maintainer — tepi akrilik diperhalus dan kawat labial diposisikan ulang agar tidak lagi menekan mukosa bibir.
Jalur kedua adalah terapi topikal dengan aloclair gel 8 mg, dioleskan tipis dua kali sehari. Gel ini mengandung polyvinylpyrrolidone (PVP) yang bekerja sebagai agen anti-inflamasi sekaligus menjaga kelembapan luka — kombinasi yang relevan mengingat RAS melibatkan respons inflamasi akut dengan vasodilasi, eksudat plasma, dan akumulasi leukosit di area lesi.
Hasilnya terukur. Tiga hari setelah terapi, USS turun ke 22. Tujuh hari kemudian, skor kembali turun ke 18. Penurunan paling signifikan terjadi pada parameter nyeri, yang mencapai nol pada kunjungan kontrol kedua.
Bukan Sekadar Sariawan Biasa
Yang membuat laporan ini penting bukan hanya penanganannya, melainkan pendekatannya. Dr. drg. Indra Bramanti, M.Sc., Sp.KGA(K) dan dr. drg. Faisal Rizki menekankan bahwa RAS tidak bisa diperlakukan sebagai keluhan tunggal yang cukup diobati dengan salep. Ia membutuhkan investigasi menyeluruh terhadap faktor-faktor lokal yang saling bertumpuk.
Pada kasus ini, ada space maintainer yang bergeser, ada kawat labial yang salah arah, ada kebiasaan mengunyah yang asimetris, ada kebersihan mulut yang buruk (skor OHI-S 3,5, kategori buruk), dan ada gingivitis kronis di regio anterior mandibula. Semua itu bukan faktor terpisah — melainkan jaringan pemicu yang saling memperkuat.
Laporan ini juga jujur soal keterbatasannya. Faktor lain yang berpotensi berkontribusi pada RAS, seperti kondisi nutrisi, stres psikologis, dan status imun, tidak dieksplorasi secara mendalam. Para penulis menyarankan bahwa penelitian lanjutan perlu menggunakan analisis multivariat untuk memetakan faktor-faktor tersebut secara lebih komprehensif.
Bagi para klinisi, pesan dari kasus ini cukup jelas: setiap alat yang dipasang di mulut anak membawa tanggung jawab pengawasan. Tepi yang tajam, kawat yang menekan, atau plat yang terlalu lebar bukan sekadar ketidaknyamanan kecil — ia bisa menjadi pemicu luka yang berulang selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, tanpa pernah benar-benar sembuh jika akarnya tidak ditangani.
Dan untuk anak 10 tahun itu, perubahan dimulai dari hal yang tampak sederhana: belajar mengunyah dari dua sisi.
Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Pexels