Berita

/

Artikel, Berita Terbaru, SDG 10, SDG 11, SDG 17, SDG 3, SDG 4, SDG 5, SDG 9

Riwayat Karies, Kebiasaan Makan, dan Plak: Tiga Faktor Paling Dominan Picu Karies pada Anak Sekolah

Lebih dari delapan puluh persen anak sekolah dasar di Provinsi Yogyakarta mengalami karies. Angka itu bukan sekadar statistik; ia mencerminkan kebiasaan sehari-hari yang terbentuk di meja makan, di kantin sekolah, bahkan di depan layar televisi ketika iklan camilan manis silih berganti. Sebuah penelitian yang melibatkan Prof. Dr. drg. Al. Supartinah Santoso, Sp.KGA dari Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi UGM bersama tim peneliti lintas disiplin berusaha menjawab pertanyaan yang tampak sederhana namun jawabannya ternyata berlapis: faktor apa yang paling kuat memprediksi karies pada anak?

Ketika Riwayat Lama Menjadi Beban Masa Depan

Penelitian observasional dengan desain potong lintang ini melibatkan 430 anak usia 10-11 tahun dari 16 sekolah dasar di seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Yogyakarta. Pengambilan sampel dilakukan secara proporsional dari Kabupaten Sleman, Kulon Progo, Gunung Kidul, Bantul, hingga Kota Yogyakarta. Para peneliti mengumpulkan data pH saliva, indeks plak (PHPM), pengalaman karies (indeks deft/DMFT), perilaku ibu, perilaku anak, akses layanan kesehatan, program UKGS, hingga pengaruh teman sebaya.

Dari sebelas variabel yang diuji melalui regresi logistik multivariat, sembilan terbukti signifikan. Dan yang menempati posisi teratas bukan sesuatu yang asing: pengalaman karies sebelumnya. Anak yang sudah pernah mengalami karies memiliki Prevalence Odds Ratio (POR) sebesar 4,048 dengan koefisien regresi 1,398, jauh melampaui variabel lain. Artinya, gigi berlubang di masa kecil bukan sekadar cerita lama. Ia adalah prediktor paling kuat bahwa karies baru akan terus datang.

Posisi kedua ditempati perilaku makan anak, dengan POR 3,316. Sebanyak 51,16 persen anak dalam penelitian ini dikategorikan memiliki kebiasaan makan yang berisiko tinggi: konsumsi cokelat, permen, roti, mie, donat, dan es krim yang frekuensinya sulit dibendung. Makanan-makanan ini menurunkan pH plak, dan jika tidak segera dibersihkan, plak yang menempel di permukaan email akan menjadi asam dalam waktu tertentu. Untuk kembali ke pH netral, dibutuhkan waktu 30 hingga 60 menit.

Plak, Pengetahuan, dan Sikat Gigi yang Belum Jadi Kebiasaan

Di peringkat ketiga, jumlah plak yang tinggi ditemukan pada 58,60 persen anak, menempatkannya sebagai faktor risiko langsung yang tak kalah penting. Perilaku menyikat gigi yang buruk menjadi hulu masalah ini. Dua pertiga anak, tepatnya 66,28 persen, dinilai memiliki perilaku menjaga kesehatan gigi yang rendah. Menyikat gigi setelah sarapan dan sebelum tidur belum menjadi rutinitas yang konsisten.

Ironisnya, pengetahuan anak tentang kesehatan gigi pun masih lemah: 52,79 persen masuk kategori rendah. Pengetahuan yang minim ini menjadi faktor predisposisi yang kemudian membentuk perilaku. Tanpa pemahaman mengapa gigi harus dijaga, instruksi “sikat gigi dua kali sehari” hanya menjadi hafalan yang mudah terlupakan.

Program Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) sebenarnya dirancang untuk menambal celah ini. Namun dalam penelitian ini, 61,16 persen anak menyatakan bahwa aktivitas UKGS di sekolah mereka masih tergolong rendah. Sikat gigi bersama dan penyuluhan kesehatan gigi belum berjalan optimal, dan ini tercermin dari posisi UKGS sebagai faktor risiko kedelapan dalam urutan yang ditemukan penelitian ini.

Ibu, Layanan Kesehatan, dan Ekosistem yang Membentuk Mulut Anak

Peran ibu muncul dalam dua dimensi yang berbeda. Di satu sisi, perilaku ibu dalam menjaga kesehatan gigi anak secara umum tergolong tinggi (60,47 persen). Namun dalam hal pemilihan makanan untuk anak, lebih dari separuh ibu, yakni 51,86 persen, masuk kategori buruk. Kondisi ini berkaitan erat dengan tingkat pendidikan: 57,67 persen ibu hanya berpendidikan SMP ke bawah, dan pendapatan keluarga yang mayoritas di bawah Rp 1.000.000 per bulan turut membatasi akses terhadap pilihan makanan yang lebih sehat.

Akses ke layanan kesehatan gigi juga menjadi titik lemah. Sebanyak 67,67 persen anak mendapat perawatan gigi kurang dari dua kali setahun. Kunjungan yang jarang ini bukan semata soal biaya, melainkan juga soal pengetahuan dan prioritas yang belum terbentuk dalam keluarga.

Dari seluruh variabel yang dianalisis, tim peneliti kemudian merumuskan sebuah persamaan prediksi karies:

p = 1/{1 + 2,7^(-2,336 + 0,658X₁ + 0,868X₂ + 1,398X₃ + 0,629X₄ + 0,516X₆ + 0,745X₇ + 0,743X₈ + 1,199X₉ + 0,613X₁₀)} — Prof. Dr. drg. Al. Supartinah Santoso, Sp.KGA dan tim, dalam persamaan prediksi karies anak berbasis regresi logistik multivariat

Persamaan ini bukan sekadar rumus statistik. Ia adalah peta risiko: sembilan variabel yang bila diketahui kondisinya, dapat memperkirakan seberapa besar kemungkinan seorang anak akan mengalami karies.

Satu Formula, Banyak Pintu Intervensi

Yang membuat penelitian ini relevan secara praktis adalah justru karena sebagian besar faktor risikonya bersifat dapat diubah. Kebiasaan makan bisa dibentuk ulang. Perilaku menyikat gigi bisa dilatih. Program UKGS bisa dioptimalkan. Pengetahuan ibu bisa ditingkatkan melalui edukasi yang tepat sasaran.

Prevalensi karies sebesar 80,93 persen dengan rata-rata indeks deft/DMFT sebesar 3 pada anak usia 10-11 tahun di Yogyakarta adalah angka yang berat untuk diabaikan. Setiap gigi yang berlubang tanpa perawatan bukan hanya soal rasa sakit. Ia memengaruhi kemampuan anak mengunyah, berbicara, berkonsentrasi di kelas, bahkan tumbuh kembang secara keseluruhan.

Persamaan prediksi yang dihasilkan penelitian ini membuka kemungkinan untuk mendeteksi anak-anak berisiko tinggi lebih awal, jauh sebelum karies itu terbentuk. Dan intervensi paling sederhana yang mungkin dimulai hari ini adalah memastikan seorang anak menyikat giginya dengan benar, dua kali sehari, dengan seseorang di rumah yang mengingatkan.

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
16 Juli 2026

Melihat Tulang Tumbuh Kembali: Riset FKG UGM Uji Material Scaffold Tulang lewat Pewarnaan Histologis

16 Juli 2026

Alat Tambal Gigi yang Paling Aman? Ini Jawaban Peneliti UGM!

16 Juli 2026

Nano Kitosan dari Udang Air Tawar: Senjata Baru Lawan Bakteri Penyebab Gigi Berlubang

id_ID