Perkembangan pesat radiologi dentomaksilofasial memasuki babak baru yang ditandai dengan integrasi teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI). Namun, di balik kemajuan tersebut, muncul sejumlah persoalan kritis yang menuntut kewaspadaan kalangan medis dan akademik. Hal ini mengemuka dalam pemaparan ilmiah bertajuk Advances in Dentomaxillofacial Radiology yang disampaikan oleh Prof. Dr. Norliza Ibrahim, pakar pencitraan oral dan maksilofasial dari University of Malaya yang dimoderatori oleh drg. Isti Rahayu Suryani, M.Biotech., Sp.Rad.OM., Subsp.RDP., Ph.D.
Dari Sinar-X ke Sensor Digital: Evolusi yang Mengubah Praktik Klinis
Radiologi gigi berakar dari penemuan sinar-X pada 1895, yang segera diadopsi dalam praktik kedokteran gigi hanya dalam hitungan minggu. Pada masa awal, proses pencitraan sangat manual, dengan waktu paparan yang panjang dan risiko tinggi terhadap paparan radiasi.
Transformasi signifikan terjadi pada 1982 ketika Francis Mouyen memperkenalkan RadioVisioGraphy (RVG), sistem radiografi digital pertama. Inovasi ini menjadi tonggak penting dalam mengatasi keterlambatan proses film konvensional dan membuka jalan bagi teknologi sensor digital seperti Photostimulable Phosphor (PSP) dan CMOS.
“Digitalisasi bukan sekadar percepatan proses, tetapi juga membuka peluang manipulasi citra dan peningkatan akurasi diagnosis,” ungkap Prof. Norliza dalam paparannya .
Namun demikian, sistem digital tidak sepenuhnya tanpa masalah. Peran dokter gigi radiologi sebagai human practicion sebagai final validasi.

Keterbatasan Teknologi: Ketika Resolusi Menipu Diagnosis
Dalam praktiknya, radiografi digital menghadapi tantangan teknis seperti Partial Volume Effect (PVE) dan Partial Object Effect (POE), yang dapat mengaburkan batas struktur anatomi. Fenomena ini terjadi akibat ukuran voxel atau bidang pandang (Field of View/FOV) yang tidak optimal.
Penelitian menunjukkan bahwa: FOV besar meningkatkan cakupan, tetapi menurunkan resolusi. FOV kecil meningkatkan fokus, tetapi dapat memperbesar artefak, terutama jika terdapat objek logam di luar area pemindaian.
Akibatnya, kualitas citra menjadi kompromi antara cakupan dan ketajaman. Ini berimplikasi langsung pada akurasi diagnosis, khususnya dalam kasus kompleks seperti resorpsi akar atau lesi tersembunyi.
“Teknologi canggih tidak otomatis menjamin diagnosis yang tepat. Tanpa pemahaman terhadap keterbatasannya, justru bisa menyesatkan,” tegasnya.
AI dalam Radiologi Gigi: Akurasi Tinggi, Risiko Nyata
Kemunculan kecerdasan buatan dalam radiologi membawa optimisme baru. Sistem seperti Clinical Decision Support System (CDSS) dan platform Integrated Dental Management System (IDMS) mampu membantu interpretasi citra, pencatatan digital, hingga rekomendasi perawatan berbasis data.
Dalam salah satu proyek AI terbaru, sistem mampu mengenali pola resorpsi tulang mandibula dengan akurasi hingga 95,61% pada area posterior .
Namun, di balik capaian tersebut, terdapat sejumlah risiko serius: Ketergantungan pada kualitas data: AI hanya sebaik data latihnya. Bias algoritma: Dapat menghasilkan keputusan yang tidak adil atau tidak akurat. Masalah privasi: Data pasien rentan terhadap kebocoran. Temuan insidental: AI bisa menemukan kelainan di luar tujuan pemeriksaan, memunculkan dilema etis. Tanggung jawab hukum: Siapa yang bertanggung jawab jika AI salah diagnosis?
“Risiko terbesar bukan pada teknologinya, tetapi pada bagaimana kita menggunakannya tanpa pemahaman kritis,” ujar Prof. Norliza.
Pelajaran dari Masa Lalu: Radiasi dan Kelalaian
Sejarah radiologi juga mencatat dampak buruk dari kelalaian terhadap keselamatan radiasi. Pada awal abad ke-20, teknisi sering menguji mesin dengan menyinari tangan mereka sendiri,praktik yang kemudian menyebabkan kerusakan jaringan hingga kanker.
Kasus radiografer yang mengalami karsinoma ibu jari setelah 15 tahun bekerja menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi harus selalu diiringi dengan prinsip keselamatan.

Antara Inovasi dan Etika: Jalan Tengah yang Diperlukan
Kemajuan radiologi dentomaksilofasial tidak dapat dihindari. Teknologi seperti CBCT, AI, dan sistem digital telah meningkatkan kualitas pelayanan dan efisiensi diagnosis. Namun, tanpa pendekatan yang kritis dan etis, inovasi tersebut berpotensi menimbulkan risiko baru.
Prinsip utama yang harus dijaga adalah: Justifikasi: Setiap paparan radiasi harus memiliki alasan medis yang jelas. Optimisasi: Dosis radiasi harus serendah mungkin dengan hasil maksimal.
“Kemajuan sejati bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang bagaimana teknologi dan keselamatan berjalan beriringan,” pungkasnya.
Radiologi dentomaksilofasial tumbuh sebagai salah satu representasi perkembangan teknologi di kedokteran gigi. Di satu sisi, teknologi membuka peluang diagnosis yang lebih presisi. Di sisi lain, kompleksitas baru menuntut kompetensi, etika, dan regulasi yang lebih ketat.
(Reporter: Andri Wicaksono, S.Sos., M.I.Kom, Fotografi: Fajar Budi Harsakti, SE)