Berita

/

Artikel, Berita Terbaru, SDG 10, SDG 17, SDG 3, SDG 4, SDG 5, SDG 9

Rahasia Tulang Leher: Kunci Tepat Waktu Perawatan Ortodonti pada Anak

Bayangkan seorang dokter gigi yang harus memutuskan kapan tepatnya memasang alat ortodonti pada seorang anak usia sembilan tahun. Terlalu dini, hasilnya tidak optimal. Terlalu lambat, kesempatan emas pertumbuhan terlewat. Selama ini, banyak klinisi mengandalkan usia kronologis sebagai patokan. Namun sebuah penelitian dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada menunjukkan bahwa jawabannya mungkin tersembunyi di tulang leher bagian atas, bukan di angka umur anak.

Penelitian yang diterbitkan dalam Padjadjaran Journal of Dentistry (2021) ini mengungkap pola pertumbuhan wajah yang berbeda antara anak laki-laki dan perempuan, diukur menggunakan metode Cervical Vertebrae Maturation Index (CVMI). Hasilnya membuka perspektif baru tentang bagaimana klinisi seharusnya menentukan momen terbaik untuk memulai perawatan ortodonti dini.

Tulang Leher sebagai Jendela Pertumbuhan Wajah

Tulang vertebra servikal, yakni ruas kedua, ketiga, dan keempat pada tulang leher, ternyata menyimpan informasi berharga tentang kematangan tulang kraniofasial secara keseluruhan. Metode CVMI bekerja dengan mengamati perubahan morfologi ketiga ruas tulang leher tersebut pada foto rontgen lateral sefalometri, alat diagnostik yang sudah rutin digunakan dalam perencanaan perawatan ortodonti.

Keunggulan metode ini cukup praktis: tidak perlu rontgen tambahan. Cukup dari satu foto lateral sefalometri, dokter gigi dapat sekaligus menilai dimensi wajah dan kematangan tulang. Keenam tahap CVMI mencerminkan perjalanan dari fase pertumbuhan yang masih datar hingga fase puncak pubertas, lalu melambat kembali.

Penelitian yang dilakukan oleh Ica Listania, drg. Sri Kuswandari, dan drg. Putri Kusuma Wardani Mahendra, M.Kes., Sp.KGA. dari Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak FKG UGM ini melibatkan 44 anak usia 8 hingga 11 tahun dari Madrasah Ibtidaiyah di Kecamatan Depok, Sleman, Yogyakarta. Pengambilan data berlangsung dari Juli 2019 hingga Januari 2020, menggunakan rontgen sefalometri digital di Instalasi Radiologi RSGM Prof. Soedomo UGM.

Maksila dan Mandibula Bergerak, Basis Kranial Diam

Dari empat dimensi anteroposterior yang diukur, yaitu S-N (basis kranial anterior), PNS-ANS (maksila), Go-Me, dan Co-Gn (mandibula), hasil yang paling mencolok muncul dari tulang rahang.

Dimensi maksila dan mandibula menunjukkan perbedaan signifikan seiring meningkatnya tahap kematangan CVMI, baik pada anak laki-laki maupun perempuan. Rahang bawah, yang diukur melalui dua parameter berbeda, bahkan memperlihatkan pertumbuhan paling konsisten dan paling dramatis di semua interval CVMI yang diteliti.

Sebaliknya, basis kranial anterior (jarak Sella turcica ke Nasion atau S-N) tidak menunjukkan perbedaan signifikan. Temuan ini sejalan dengan teori bahwa pertumbuhan basis kranial anterior sudah selesai lebih awal, sekitar usia delapan tahun, sehingga relatif stabil saat anak memasuki fase gigi bercampur menengah dan gigi permanen awal.

Yang menarik adalah pola waktunya. Pada laki-laki, percepatan pertumbuhan maksila terjadi lebih nyata di interval CVMI 2 ke CVMI 3, sementara pada perempuan, lonjakan signifikan muncul di interval CVMI 3 ke CVMI 4. Ini mengonfirmasi bahwa perempuan mengalami puncak pertumbuhan dua tahun lebih awal dibanding laki-laki, sebuah fakta biologis yang selama ini diketahui secara umum, namun kini terdokumentasi dengan data sefalometri yang terukur.

Momen Emas yang Tidak Boleh Terlewat

Implikasi klinis dari temuan ini cukup konkret. Perawatan ortodonti dengan alat fungsional, yang bertujuan memodifikasi pertumbuhan tulang rahang, akan memberikan hasil dua kali lebih efektif bila dilakukan tepat pada puncak pertumbuhan pubertas dibandingkan tiga tahun sebelum atau sesudahnya.

“Early orthodontic treatment, if started at the optimal maturation stage, can give the best results with the lowest predictable probability of treatment failure.”

Pernyataan ini bukan sekadar teori. Penelitian ini membuktikan bahwa pada interval CVMI 3 dan 4, mandibula masih bertumbuh secara bermakna pada kedua jenis kelamin. Artinya, ada jendela waktu yang dapat dimanfaatkan dokter gigi spesialis ortodonti maupun dokter gigi anak untuk memulai intervensi yang paling efektif.

Penggunaan CVMI menawarkan presisi yang tidak bisa diberikan oleh usia kronologis semata. Dua anak berusia sepuluh tahun bisa berada di tahap kematangan biologis yang sangat berbeda. Satu sudah melewati puncak pertumbuhannya, satu lagi baru akan memasuki fase tersebut.

Membaca Tulang, Merancang Masa Depan Senyum

Penelitian ini memperkuat argumen bahwa penilaian kematangan biologis, bukan sekadar angka di kartu identitas, harus menjadi pertimbangan utama dalam perencanaan perawatan ortodonti anak. Foto rontgen yang selama ini dipandang sebagai alat diagnostik gigi semata ternyata menyimpan informasi tentang seluruh perjalanan pertumbuhan tulang wajah seorang anak.

Bagi para klinisi, pesan penelitian ini sederhana namun menuntut perhatian ekstra: kenali tahap CVMI pasien anak Anda sebelum memutuskan kapan alat ortodonti dipasang. Karena pada pertumbuhan, seperti pada banyak hal lain dalam hidup, waktu yang tepat menentukan segalanya.

Sumber DOI : http://10.24198/pjd.vol33no2.30947

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
16 Juli 2026

Berlian Nano Jadi Mata untuk Mengintip Radikal Bebas di Dalam Sel Hidup

16 Juli 2026

Gigi Patah, Pulpa Terbuka: Kisah Penanganan Darurat pada Bocah 4 Tahun di RSGM Prof. Soedomo

16 Juli 2026

Bakteri Ini Ditemukan di Semua Jaringan Penderita Periodontitis dan Dampaknya Lebih Serius dari yang Dikira

id_ID