Pada hari kesepuluh setelah pencabutan, luka di gusi anak-anak yang diolesi propolis 10% sudah menutup sempurna. Sementara pada kelompok yang tidak mendapat perlakuan apapun, luka masih terbuka dengan rata-rata luas 17,79% dari ukuran awal. Perbedaan ini bukan kebetulan — dan angka-angka di baliknya menyimpan cerita menarik tentang cairan lebah yang sudah dikenal sejak abad pertama.
Itulah temuan utama penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Kedokteran Gigi (J Ked Gi, Vol. 7, No. 2, April 2016), yang dilakukan oleh Heri Iswanto bersama dua pembimbing dari Departemen Kedokteran Gigi Anak FKG UGM: drg. Sri Kuswandari dan drg. Putri Kusuma Wardani Mahendra, M.Kes., Sp.KGA.
Gigi Susu yang Tak Mau Tanggal Sendiri
Gigi desidui persistensi adalah gigi susu yang tidak tanggal meski gigi permanen penggantinya sudah mulai tumbuh. Kondisi ini lazim ditemui pada anak usia sekolah dasar, dan penanganannya hampir selalu berujung pada pencabutan. Luka yang ditinggalkan butuh beberapa hari untuk pulih, melewati tiga fase berurutan: inflamasi, proliferasi, dan maturasi.
Pada fase proliferasi inilah kunci penyembuhan terletak. Jaringan granulasi terbentuk, pembuluh darah baru bermunculan, dan sel-sel epitel mulai merayap menutup luka dari tepi ke tengah. Proses ini bisa dipercepat — atau sebaliknya, terhambat — oleh kondisi rongga mulut anak. Di sinilah propolis masuk sebagai kandidat yang menarik untuk diteliti.
Propolis adalah resin yang dikumpulkan lebah dari tunas dan kulit pohon, lalu dicampur dengan enzim lebah untuk melapisi sarang. Kandungan utamanya adalah flavonoid dan fenol, termasuk Caffeic Acid Phenethyl Ester (CAPE), yang bekerja sekaligus sebagai antibakteri, antiinflamasi, dan antioksidan.
Tiga Parameter, Satu Kesimpulan
Penelitian ini melibatkan 24 luka pasca pencabutan gigi desidui persistensi pada anak usia 6–10 tahun. Enam belas luka mendapat aplikasi topikal propolis 10% dua kali sehari — siang dan malam — selama tiga hari menggunakan cotton buds steril. Delapan sisanya dibiarkan sembuh alami sebagai kelompok kontrol.
Tim peneliti memantau perkembangan luka pada hari pertama, ketiga, kelima, ketujuh, dan kesepuluh dengan tiga parameter: luas luka, degradasi warna, dan simptom nyeri. Foto digital diambil setiap sesi pengamatan, lalu ditracing dan diukur menggunakan perangkat lunak Google SketchUp — metode yang cermat untuk mengukur perubahan luas luka secara objektif.
Hasilnya tajam. Pada hari ketiga, luka kelompok propolis rata-rata menyusut menjadi 34,65% dari ukuran awal. Kelompok kontrol masih bertahan di 66,85%. Uji Mann-Whitney mengonfirmasi perbedaan bermakna secara statistik (p < 0,05) dari hari ketiga hingga kesepuluh.
“Aplikasi topikal propolis 10% secara klinis dapat mempercepat penyembuhan luka pasca pencabutan gigi desidui persistensi.” — Heri Iswanto, Sri Kuswandari, dan Putri Kusuma Wardani Mahendra, M.Kes., Sp.KGA., dalam kesimpulan penelitian
Dari sisi warna luka, perbedaannya sama mencolok. Hari ketiga, 25% luka pada kelompok propolis sudah kembali berwarna merah muda mendekati normal. Di kelompok kontrol, tidak satu pun luka yang mencapai kondisi serupa. Pada hari ketujuh, seluruh luka kelompok propolis (100%) sudah berwarna pink normal, sementara kelompok kontrol baru mencapai 12,5%.
Tanpa Nyeri Sejak Hari Pertama
Temuan yang mungkin paling relevan bagi para orang tua adalah soal rasa sakit. Pada kelompok kontrol, 100% subjek melaporkan nyeri pada hari pertama dan ketiga pasca pencabutan. Kelompok propolis? Tidak ada satu pun yang mengeluhkan nyeri — bahkan sejak hari pertama.
Ini bukan kebetulan mekanistik. Flavonoid dalam propolis diketahui menekan jalur lipoxygenase dari metabolisme asam arakhidonat, jalur yang bertanggung jawab atas produksi mediator nyeri dan inflamasi. Propolis juga menghambat PGE2, mereduksi sitokin proinflamasi, dan mempengaruhi aktivitas sel-sel radang secara langsung. Efek anestetik lokalnya bahkan disebut lima kali lebih efektif dibanding kokain dalam beberapa literatur farmakologi.
Dari sisi keamanan, propolis tergolong aman. Konsumsi jangka panjang tidak menunjukkan dampak negatif pada darah, hati, maupun ginjal. Dosis aman pada manusia diperkirakan sekitar 70 mg per hari. Gel propolis juga tidak toksik dalam uji aplikasi rongga mulut pada hewan coba.
Alam sebagai Mitra Klinik
Penelitian drg. Putri Kusuma Wardani Mahendra, M.Kes., Sp.KGA. bersama tim ini memperkuat posisi propolis sebagai agen terapeutik berbasis alam yang layak dipertimbangkan dalam praktik kedokteran gigi anak. Bahan yang sudah digunakan manusia selama dua ribu tahun ini ternyata memiliki fondasi ilmiah yang cukup kokoh untuk berdiri di samping obat-obatan konvensional.
Konsentrasi 10% yang digunakan dalam penelitian ini tersedia di pasaran dan relatif terjangkau. Aplikasinya sederhana, tidak invasif, dan — yang paling penting bagi pasien anak — tidak menimbulkan rasa sakit. Dalam konteks praktik klinik gigi anak yang kerap bergulat dengan kecemasan dan ketidaknyamanan pasien, itu bukan hal kecil.
Pertanyaan yang tersisa: apakah temuan ini cukup kuat untuk mendorong protokol klinis baru? Skala penelitian ini memang terbatas, 24 subjek dengan desain eksperimental semu. Replikasi dengan sampel lebih besar dan variasi konsentrasi propolis masih diperlukan. Tapi arahnya sudah jelas — dan lebah, seperti biasa, tampaknya tahu lebih banyak dari yang kita sangka.
Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Pexels