Tawa riang anak-anak memenuhi aula TPA-KB-TK Tungga Dewi ketika 40 mahasiswa Prodi Doktor Ilmu Kedokteran Gigi FKG UGM beserta 10 dosen & tendik, hadir membawa misi sederhana namun berdampak besar, yakni: menanamkan kebiasaan menjaga kesehatan gigi dan mulut sejak usia dini. Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), para mahasiswa tidak hanya memberikan penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan gigi, tetapi juga membangun pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak-anak, sekaligus memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan lembaga pendidikan anak usia dini (29/06/2026).
Kegiatan ini merupakan implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi yang menggabungkan pendidikan, pelayanan kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat. Anak-anak menjadi pusat perhatian, bukan sekadar sebagai objek pemeriksaan, tetapi sebagai individu yang sedang membangun fondasi perilaku hidup sehat untuk masa depan.
Persiapan kegiatan dilakukan secara sistematis melalui pembagian tugas yang melibatkan seluruh mahasiswa doktoral. Setiap peserta memegang tanggung jawab spesifik, mulai dari koordinasi acara, penyuluhan, pemeriksaan klinis, distribusi peserta, dokumentasi, hingga pengelolaan perlengkapan dan konsumsi. Struktur kepanitiaan dirancang agar pelayanan berlangsung efektif, efisien, dan ramah anak.

Pendidikan Kesehatan Tidak Cukup Hanya Mengobati
Berbeda dengan kegiatan bakti sosial yang berfokus pada tindakan kuratif, program ini menempatkan edukasi sebagai inti utama. Tim penyuluhan membagi anak-anak TK A dan TK B ke dalam tiga kelompok kecil sehingga proses belajar berlangsung lebih interaktif.
Melalui media edukasi, alat peraga, dan demonstrasi menyikat gigi yang benar, anak-anak diperkenalkan mengenai pentingnya menjaga kebersihan rongga mulut, mengenali makanan yang baik bagi kesehatan gigi, hingga memahami bahwa menyikat gigi bukan sekadar rutinitas, melainkan kebiasaan yang menentukan kualitas hidup mereka di masa mendatang. Sementara itu, siswa Kelompok Bermain (KB) langsung mengikuti pemeriksaan gigi dengan pendampingan khusus sesuai karakteristik usia mereka.
Pendekatan ini menunjukkan pemahaman bahwa pendidikan kesehatan pada anak tidak dapat dilakukan melalui ceramah semata. Anak-anak belajar melalui pengalaman, permainan, interaksi, dan contoh yang menyenangkan.

Pemeriksaan Gigi Berjalan Sistematis dan Ramah Anak
Setelah sesi edukasi selesai, peserta diarahkan menuju sebelas meja pemeriksaan yang telah disiapkan. Setiap meja diisi oleh dua mahasiswa pemeriksa sehingga pelayanan berlangsung cepat tanpa mengurangi kualitas pemeriksaan.
Seluruh hasil pemeriksaan dicatat secara sistematis, kemudian anak memperoleh penjelasan sederhana mengenai kondisi kesehatan giginya. Jika ditemukan permasalahan yang memerlukan penanganan lebih lanjut, orang tua diberikan rekomendasi untuk melakukan pemeriksaan lanjutan di fasilitas pelayanan kesehatan gigi.
Agar kegiatan berjalan tertib, panitia juga menerapkan sistem distribusi peserta. Anak-anak yang telah selesai diperiksa diberi tanda khusus pada punggung tangan sebagai penanda bahwa mereka telah mengikuti pemeriksaan sehingga tidak terjadi pemeriksaan ganda. Alur ini sekaligus mengurangi antrean panjang yang sering menjadi tantangan dalam pelayanan kesehatan anak usia dini.

Investasi Kesehatan Dimulai Sejak Usia Emas
Kepala TPA-KB-TK Tungga Dewi, Heni Widiawati, S.Pd menyampaikan apresiasi atas dipilihnya sekolah tersebut sebagai mitra pengabdian masyarakat.
“Kami merasa terhormat dan bersyukur dapat menjadi bagian dari kegiatan yang sangat bermanfaat ini. Kami percaya bahwa kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian penting dari tumbuh kembang anak. Melalui kegiatan ini kami berharap anak-anak dapat belajar dan membiasakan hidup sehat sejak usia dini.”
Menurutnya, pendidikan anak tidak hanya berbicara mengenai kemampuan akademik maupun karakter, tetapi juga kesehatan sebagai fondasi tumbuh kembang.
Ia berharap kerja sama dengan FKG UGM dapat terus berlanjut sehingga sekolah mampu menghadirkan lingkungan belajar yang memperhatikan aspek pendidikan sekaligus kesehatan dan kesejahteraan anak secara menyeluruh.
Bahasa yang Dipahami Anak Menjadi Kunci Edukasi
Suasana hangat terlihat ketika Ketua Program Studi Doktor Ilmu Kedokteran Gigi FKG UGM, Prof. Drg. Ika Dewi Ana, M.Kes.,Ph.D., berinteraksi langsung dengan anak-anak menggunakan bahasa yang sederhana. Alih-alih memberikan penjelasan ilmiah, ia mengajak anak-anak berdialog.
“Anak-anak, kalau sudah besar nanti ingin giginya utuh atau ompong? Utuh ya? Nanti kita lihat giginya supaya tetap bagus, tidak hitam-hitam.”
Kalimat sederhana tersebut memancing antusiasme anak-anak dan menunjukkan bahwa komunikasi kesehatan kepada anak harus dibangun dengan pendekatan yang menyenangkan, bukan menakutkan.
Dalam kesempatan yang sama, Prof. Ika juga menegaskan pentingnya menjaga kesehatan gigi sejak dini.
“Kalau giginya sehat, nanti sampai besar tidak kesulitan makan, gizinya tetap masuk dan pertumbuhannya juga menjadi lebih baik.”
Pesan tersebut menegaskan bahwa kesehatan gigi bukan sekadar persoalan estetika, namun berkaitan erat dengan status gizi, kemampuan belajar, hingga kualitas hidup anak.

Belajar Kepemimpinan Melalui Pengabdian
Bagi mahasiswa Program Studi Doktor Ilmu Kedokteran Gigi, kegiatan ini juga menjadi ruang pembelajaran kepemimpinan. Mereka tidak hanya berperan sebagai tenaga kesehatan, tetapi juga sebagai komunikator, fasilitator, edukator, dan penggerak masyarakat. Pembagian tugas yang rinci mulai dari pengarah, penanggung jawab kegiatan, koordinator acara, tim penyuluhan, pemeriksa, distribusi peserta, hingga dokumentasi memperlihatkan bagaimana kegiatan pengabdian dirancang dengan standar manajemen yang profesional.
Model kerja kolaboratif tersebut mencerminkan bahwa pelayanan kesehatan masyarakat memerlukan sinergi multidisiplin, koordinasi yang baik, serta kemampuan berkomunikasi dengan berbagai kelompok usia.

Membangun Generasi dengan Senyum Sehat
Di balik kegiatan yang berlangsung hanya beberapa jam itu, tersimpan pesan yang jauh lebih besar. Masalah kesehatan gigi anak di Indonesia masih menjadi tantangan serius, sementara kebiasaan menjaga kebersihan gigi harus dibangun sejak usia emas.
Melalui pendekatan edukatif yang ramah anak, pemeriksaan yang sistematis, dan kolaborasi erat antara perguruan tinggi dengan lembaga pendidikan, kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat di TPA-KB-TK Tungga Dewi menunjukkan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana: mengajarkan cara menyikat gigi dengan benar, mengajak anak tersenyum tanpa rasa takut kepada dokter gigi, dan menanamkan kesadaran bahwa gigi sehat adalah bagian penting dari masa depan yang sehat.

Lebih dari sekadar pemeriksaan kesehatan, kegiatan ini menjadi investasi sosial yang membangun budaya hidup sehat sejak dini. Ketika anak-anak pulang dengan senyum ceria dan pemahaman baru tentang pentingnya merawat gigi, sesungguhnya mereka membawa bekal yang akan terus melekat hingga dewasa—bahwa menjaga kesehatan adalah kebiasaan yang dimulai dari hal-hal kecil, dilakukan bersama, dan ditanamkan sejak usia paling awal.
Secara keseluruhan kegiatan berada di bawah arahan Yosaphat Bayu Rosanto yang berperan sebagai pengarah dengan tanggung jawab memberikan supervisi, arah strategis, sekaligus melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program. Adapun koordinasi operasional dipercayakan kepada Sito Resmi Hayuning Wardani selaku Person in Charge (PIC), yang memastikan seluruh tahapan kegiatan berjalan sesuai rencana serta mengintegrasikan kerja setiap divisi di lapangan.
Penyelenggaraan acara dikoordinasikan oleh Welly Anggarani bersama Asri Riany Putri, Tine Martina Winarti, Dendy Murdiyanto, dan Levina Azaria Winantyo. Tim ini menyusun konsep kegiatan, mengatur alur acara, hingga memastikan setiap sesi edukasi dan pemeriksaan berlangsung tepat waktu. Sementara itu, kesiapan sarana edukasi dan pemeriksaan didukung oleh tim perlengkapan yang dipimpin Didit Istadi, didampingi Eko Hadianto dan Aulia Ayub, yang menyiapkan seluruh media pembelajaran, alat peraga, hingga perangkat pemeriksaan kesehatan gigi.
Kelancaran kegiatan juga ditopang oleh berbagai divisi pendukung. Nadia Putri Palupi bersama tim mengoordinasikan kebutuhan konsumsi sekaligus distribusi kaos kegiatan, sedangkan Moh. Yusuf, Rosa Pratiwi, dan William Ardy Surya mendokumentasikan setiap rangkaian kegiatan sebagai bagian dari pelaporan dan publikasi. Komunikasi dengan pihak sekolah dan peserta dikelola oleh tim humas yang dipimpin Iffah Mardhiyah bersama Shoimah Alfa Makmur, sementara jalannya acara dipandu oleh Vilianti Eka Fitri Rahatina & RegiaAristiyanto sebagai pembawa acara. Dukungan teknis multimedia ditangani Dias Bintang Raka Siwi bersama Budi Suhartono, sehingga seluruh sesi edukasi berlangsung interaktif dan komunikatif.
(Reporter: Nanda Ayu, Fotografi: Andri Wicaksono & Fajar Budi Harsakti)