Setiap kali pasien diminta duduk di depan mesin panoramik, sinar-X menembus jaringan lunak mulut dalam hitungan detik. Prosedur itu terasa biasa saja. Tapi di balik paparan singkat itu, mukosa gingiva menyimpan jejak kerusakan yang tak kasatmata: volume cairan sulkus gingiva meningkat, dan penanda kerusakan DNA mulai terbentuk.
Pertanyaannya, bisakah kerusakan itu dicegah dengan sesuatu sesederhana plester yang ditempelkan di gusi?
Plester Kecil, Perlindungan Molekuler
Peneliti dari Departemen Radiologi Dentomaksilofasial FKG UGM, Dr. drg. Rurie Ratna Shantiningsih, MDSc; dan drg. Silviana Farrah Diba, Sp.RKG, bersama drg. Anggun Dwi Andini, Sp.KGA menguji gagasan itu secara klinis. Mereka mengembangkan mucoadhesive gingival patch berbahan aktif beta-karoten, senyawa antioksidan yang lazim ditemukan pada wortel dan sayuran berwarna oranye, lalu menempelkannya pada mukosa gingiva gigi insisivus sentral atas sebelum pasien menjalani radiografi panoramik.
Dua puluh subjek dibagi menjadi kelompok sampel yang mendapat patch dan kelompok kontrol yang tidak. Setelah paparan, cairan sulkus gingiva (GCF) dikumpulkan menggunakan kertas saring yang dimasukkan ke sulkus gingiva labial selama satu menit. Volume GCF diukur melalui pewarnaan ninhydrin 2%, sementara kadar 8-oxo-dG, penanda aduk DNA akibat reaksi oksidatif, dideteksi dengan metode ELISA.
Hasilnya tajam. Kelompok yang menggunakan patch menunjukkan volume GCF dan kadar 8-oxo-dG yang lebih rendah secara signifikan dibandingkan kelompok kontrol (p < 0,05). Rata-rata kadar 8-oxo-dG pada kelompok kontrol mencapai 1,082 ± 0,547, sedangkan pada kelompok yang memakai patch hanya 0,767 ± 0,368.
Dari Antioksidan ke Prinsip ALARA
Mekanismenya berkaitan erat dengan sifat beta-karoten sebagai peredam reactive oxygen species (ROS). Paparan sinar-X memicu reaksi oksidatif yang meningkatkan permeabilitas pembuluh darah kapiler gingiva, sehingga GCF merembes lebih banyak ke sulkus. Beta-karoten bekerja dengan menekan aktivasi NF-κB, jalur inflamasi utama yang diaktifkan ROS, sekaligus meredam oksigen singlet secara kimiawi.
Ini bukan sekadar temuan laboratorium. Studi ini merespons prinsip ALARA (As Low As Reasonably Achievable), pilar utama proteksi radiasi dalam kedokteran gigi, dengan menawarkan pendekatan yang praktis dan non-invasif. Patch mudah diaplikasikan, langsung menempel pada mukosa tanpa memerlukan prosedur tambahan, dan bekerja lokal tepat di jaringan yang paling rentan terpapar.
Penelitian ini membuktikan bahwa perlindungan terhadap radiasi diagnostik tidak selalu harus datang dari luar tubuh, seperti apron timbal. Kadang, ia bisa datang dari dalam mulut itu sendiri, dalam bentuk plester setipis daun, menempel diam-diam di gusi, menahan reaksi yang bahkan tak terasa sakit.
Sumber DOI : http://doi.org/10.22146/majkedgiind.42486
Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : ChtGPT