Berita

/

Artikel, Berita Terbaru

Peta yang Bicara: Ketika Ketinggian dan Air Sumur Menentukan Kesehatan Gusi Warga Pundong

Dari 152 pasien yang tercatat di poli gigi Puskesmas Pundong sepanjang 2016, ada satu temuan yang sulit diabaikan: warga yang tinggal di dataran tinggi desa Seloharjo, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul, punya risiko menderita penyakit periodontal parah hampir 55 kali lebih besar dibanding warga di dataran rendah. Angka itu bukan sekadar statistik — di baliknya ada cerita tentang air sumur, kebiasaan menyikat gigi, dan kesenjangan ekonomi yang terukir dalam peta digital. Penelitian yang dipublikasikan di Journal of Information Systems for Public Health pada Desember 2018 ini dilakukan oleh Prayudha Benni Setiawan, S.Kp.G, M.P.H. bersama Prof. Dr. Hartono, D.E.A., D.E.S.S. dari Fakultas Geografi UGM, menggunakan teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk memetakan sebaran penyakit periodontal — kerusakan jaringan pendukung gigi — di wilayah yang terkenal dengan variasi kontur dan kondisi sosial ekonominya.

Gusi yang Rusak, Bukan Sekadar Soal Malas Sikat Gigi

Penyakit periodontal adalah kondisi di mana jaringan pendukung gigi — mulai dari gusi, ligamen periodontal, hingga tulang alveolar — mengalami peradangan dan kerusakan akibat bakteri. Dalam bahasa awam, ini adalah penyakit gusi yang bila dibiarkan bisa berujung pada gigi yang goyah dan tanggal.

Banyak orang mengira penyakit ini semata soal kemalasan menyikat gigi. Penelitian ini membuktikan bahwa persoalannya jauh lebih kompleks. Tim peneliti mengumpulkan data primer langsung dari rumah para pasien, mencatat koordinat GPS setiap penderita, lalu menumpangkan data itu ke peta digital menggunakan perangkat lunak ArcGIS dan SatScan.

Hasilnya: dari 152 kasus yang dianalisis, sebagian besar — 82 kasus atau 53,95% — didiagnosis mengalami localized gingivitis dengan deposit kalkulus, yakni peradangan gusi yang disertai penumpukan karang gigi pada sekelompok gigi tertentu. Sebanyak 48 kasus lainnya sudah berkembang menjadi generalized periodontitis — kondisi yang lebih serius karena melibatkan seluruh gigi dengan kerusakan yang lebih luas.

Air Sumur Pegunungan Kapur dan Risiko yang Tersembunyi

Temuan paling mengejutkan dari penelitian ini bukan soal kebiasaan merokok atau tingkat pendidikan — dua variabel yang secara statistik tidak terbukti berkaitan signifikan dengan keparahan penyakit. Yang justru paling kuat pengaruhnya adalah dua faktor yang jarang masuk radar kesadaran publik: ketinggian tempat tinggal dan pH air yang digunakan sehari-hari.

Warga yang tinggal di dataran tinggi, khususnya kawasan pegunungan kapur di Desa Seloharjo, memiliki risiko menderita generalized periodontitis 54,93 kali lebih tinggi dibanding warga di dataran rendah. Angka odds ratio ini tergolong luar biasa besar dalam epidemiologi.

Kuncinya ada pada air. Wilayah pegunungan kapur memiliki kandungan mineral — terutama kalsium — yang tinggi di sumber airnya. Air dengan pH basa dan kadar kalsium tinggi ini, bila dikonsumsi terus-menerus, mempercepat pembentukan kalkulus pada gigi. Kalkulus adalah endapan keras dari plak yang mengeras, dan bila tidak dibersihkan secara profesional, ia menjadi pemicu utama peradangan jaringan periodontal yang semakin parah.

Data mempertegas ini: individu yang menggunakan sumber air ber-pH basa memiliki risiko 41,14 kali lebih besar mengalami generalized periodontitis dibanding mereka yang menggunakan air ber-pH normal.

“Peningkatan jumlah kalsium dan mineral lain dalam saliva dan plak gigi ini salah satunya disebabkan oleh karena konsumsi air dengan kandungan kalsium yang tinggi sehingga mempercepat pengapuran dan pengendapan plak menjadi kalkulus.”

Ini artinya, warga yang rajin sikat gigi sekalipun bisa tetap berisiko tinggi jika sumber airnya kaya mineral — sebuah faktor yang sama sekali berada di luar kendali individu.

Kemiskinan dan Frekuensi Sikat Gigi: Dua Faktor yang Bisa Diubah

Di sisi faktor yang lebih bisa diintervensi, penelitian ini menemukan dua variabel lain yang bermakna secara statistik. Pertama, status ekonomi: warga miskin memiliki risiko 2,29 kali lebih besar mengalami penyakit periodontal parah dibanding warga dengan ekonomi lebih baik. Dari total responden, 69,74% berstatus miskin — angka yang menggambarkan realitas sosial Kecamatan Pundong.

Kedua, frekuensi menyikat gigi. Warga yang menyikat gigi kurang dari dua kali sehari memiliki risiko 4,2 kali lebih tinggi mengalami generalized periodontitis. Ini selaras dengan berbagai penelitian global yang menegaskan bahwa frekuensi dan waktu menyikat gigi — termasuk kebiasaan sikat gigi sebelum tidur — berkaitan erat dengan tingkat keparahan penyakit periodontal.

Analisis spasial menggunakan Purely Spatial Poisson Model juga mengidentifikasi satu klaster kasus di Desa Seloharjo dengan radius 2,24 kilometer yang mencakup 49 penderita. Meski secara statistik klaster ini tidak bermakna signifikan (p-value = 1,00), citra satelit Google Earth mengonfirmasi bahwa pusat klaster tersebut memang berada di dataran tinggi dengan sumber air ber-pH basa — mempertegas keterkaitan geografis yang telah ditemukan.

Menariknya, analisis buffering menunjukkan bahwa sebagian besar penderita (58,87%) tinggal dalam radius satu kilometer dari fasilitas kesehatan. Kedekatan fisik dengan puskesmas rupanya tidak otomatis melindungi seseorang dari penyakit periodontal — ada faktor-faktor struktural lain yang lebih menentukan.

Ketika Peta Menjadi Alat Kesehatan

Penelitian ini membuka perspektif baru: bahwa peta bukan hanya alat navigasi, melainkan juga instrumen diagnosa kesehatan masyarakat. Dengan memvisualisasikan distribusi kasus periodontal berdasarkan ketinggian, pH air, dan kondisi sosial ekonomi, pembuat kebijakan bisa merancang intervensi yang lebih tepat sasaran — bukan sekadar kampanye sikat gigi massal yang seragam.

Bagi warga di pegunungan kapur Pundong, solusinya mungkin bukan hanya edukasi kebersihan gigi, tetapi juga perhatian pada kualitas air yang mereka konsumsi setiap hari. Sementara bagi kelompok miskin, akses ke layanan pembersihan karang gigi secara berkala bisa menjadi intervensi yang jauh lebih berdampak daripada sekadar imbauan.

Penyakit periodontal, pada akhirnya, adalah cermin dari ketimpangan yang lebih luas — antara yang tinggal di lembah dan yang di puncak bukit kapur, antara yang bisa membayar dokter gigi dan yang tidak.

Penulis: drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes, Hazra Alifia Muharam

Foto: Freepik

Sumber DOI: https://doi.org/10.1046/j..2003.com122.x

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
23 Juli 2026

Kopi Robusta Hijau untuk Gusi yang Terluka: Menjanjikan, tapi Belum Cukup

23 Juli 2026

Sel Surya dari Laboratorium: Ketika Nanopartikel TiO₂ Menjadi Kunci Energi Terbarukan

23 Juli 2026

Apa itu Penulisan Systematic Review?

id_ID