Bagi drg. Henytaria Fajrianti, Sp.KG & drg. Nadya Kurnia Putri, Sp.Pros, perjalanan selama satu bulan di Korea Selatan menjadi salah satu perjalanan semacam itu. Keduanya tidak sekadar mengikuti pelatihan internasional. Mereka pulang dengan membawa pengalaman tentang bagaimana teknologi, ilmu pengetahuan, dan pelayanan kepada pasien dapat berjalan beriringan.
Keduanya merupakan dosen Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada yang mengikuti Medical Korea Academy 2026, program pelatihan yang diselenggarakan Korea Health Industry Development Institute (KHIDI) pada 27 Juni hingga 26 Juli 2026 lalu. Salah satu bagian penting dari program tersebut berlangsung di Chosun University Dental Hospital, Korea Selatan.

Di sana, mereka mengamati secara langsung bagaimana pelayanan kedokteran gigi berlangsung, berdiskusi dengan akademisi dan klinisi, serta mempelajari berbagai perkembangan teknologi yang kini semakin dekat dengan ruang praktik dokter gigi.
Ada intraoral scanner. Ada pemindaian wajah. Ada CAD/CAM dan alur kerja digital dalam pembuatan gigi tiruan. Ada pula teknologi implan dan bone graft. Tetapi di balik istilah-istilah teknologi itu, ada satu hal yang menjadi benang merah: bagaimana teknologi dapat membuat pelayanan kepada pasien menjadi lebih baik.

Laporan kegiatan tersebut mencatat bahwa penggunaan teknologi digital yang mereka amati di Chosun University Dental Hospital tidak berhenti sebagai kecanggihan alat. Teknologi itu diterapkan sebagai bagian dari praktik sehari-hari untuk meningkatkan kualitas pelayanan pasien.

Belajar dari ruang klinik Chosun University Dental Hospital
Belajar bagi seorang dosen tidak selalu berlangsung di ruang kelas. Kadang, pembelajaran justru terjadi ketika seseorang berdiri di ruang klinik, memperhatikan cara kerja tenaga kesehatan lain, membandingkan sistem, bertanya, lalu mencoba memahami mengapa sebuah prosedur dilakukan dengan cara tertentu.
Pengalaman itulah yang menjadi bagian penting dari Medical Korea Academy 2026. Program tersebut mempertemukan peserta dengan berbagai materi, mulai dari sistem kesehatan Korea, hukum medis, manajemen pasien, hingga teknologi kedokteran gigi. Peserta juga memperoleh kesempatan melakukan observasi di Chosun University Dental Hospital dan mempelajari perkembangan teknologi seperti intraoral dan face scanner, digital workflow untuk pembuatan gigi tiruan, serta teknologi implan.
Bagi drg. Henytaria & drg. Nadya, pengalaman itu bukan sekadar tambahan di daftar riwayat pendidikan. Ada pengetahuan yang perlu diperdalam. Ada pengalaman yang perlu dibagikan. Tentunya ada praktik baik yang bisa disesuaikan, dapat menjadi inspirasi bagi pendidikan kedokteran gigi di Indonesia.

Disinilah makna perjalanan itu menjadi lebih besar. Dalam catatan kegiatan, keduanya merencanakan untuk menyebarluaskan pengetahuan & pengalaman yang diperoleh kepada mahasiswa, sejawat, dan tenaga kesehatan melalui pembelajaran, seminar, maupun diskusi ilmiah. Pengalaman tersebut juga akan diintegrasikan ke dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Dengan kata lain, manfaat perjalanan dua orang dosen itu diharapkan tidak berhenti pada diri mereka. Di situlah sebuah program internasional menemukan arti yang lebih berdampak.

Teknologi boleh semakin canggih. Peralatan kedokteran gigi boleh semakin presisi. Sistem pelayanan kesehatan boleh semakin terdigitalisasi. Namun, semua itu pada akhirnya kembali kepada satu tujuan: peningkatan kualitas kesehatan gigi & mulut masyarakat.
(drg. Henytaria Fajrianti & drg. Nadya Kurnia Putri dari Korea Selatan, Redaksi: Andri Wicaksono)