Berita

/

Artikel, Berita Terbaru

Pemutih Gigi di Klinik Bukan Tanpa Risiko: Ini yang Terjadi pada Mineral Gigi Anda

Bagi banyak orang, gigi putih bukan sekadar soal kesehatan, ini soal kepercayaan diri. Tapi di balik prosedur in-office bleaching yang populer itu, ada risiko yang jarang dibicarakan. Hilangnya mineral penyusun gigi. Penelitian yang diterbitkan dalam Majalah Kedokteran Gigi (Desember 2014) oleh Dr. drg. Yulita Kristanti, M.Kes. bersama tim peneliti Universitas Gadjah Mada mengungkap bahwa penggunaan hidrogen peroksida 40% dalam prosedur pemutihan gigi di klinik menyebabkan kehilangan mineral yang signifikan. Yang lebih penting, penelitian ini menemukan cara untuk meminimalkan kerusakan tersebut, yakni dengan penggunaan desensitizing agent mengandung fluor, dioleskan sebelum dan sesudah tindakan bleaching dilakukan.

Siapa yang belum pernah mendengar keluhan gigi linu setelah perawatan pemutihan? Rasa ngilu itu bisa berlangsung antara 4 hingga 39 hari. Selama ini, keluhan tersebut diatasi dengan desensitizing agent, yaitu bahan yang dioleskan pada gigi untuk mengurangi sensitivitas. Namun ada persoalan yang lebih dalam dari sekadar rasa linu.

Hidrogen peroksida konsentrasi tinggi yang dipakai dalam prosedur in-office bleaching tidak hanya memutihkan gigi. Bahan ini juga mengubah struktur hidroksiapatit, yaitu mineral utama penyusun gigi, dan menurunkan kadar kalsium serta fluor di dalam jaringan keras gigi. Ketika mineral berkurang, tubulus dentinalis, yakni saluran-saluran kecil di dalam lapisan dentin, akan melebar. Kondisi inilah yang membuat gigi lebih mudah terasa ngilu dan lebih rentan terhadap bakteri maupun bahan kimia yang bisa menembus ke arah pulpa, atau bagian dalam gigi yang mengandung saraf dan pembuluh darah. Singkatnya, rasa linu yang sudah mereda bukan berarti gigi sudah pulih sepenuhnya.

Penelitian Dr. drg. Yulita Kristanti, M.Kes. dan tim membagi spesimen gigi premolar pertama maksila ke dalam empat kelompok perlakuan. Dua kelompok mendapat desensitizing agent tanpa fluor (CPP-ACP), sementara dua kelompok lainnya mendapat desensitizing agent mengandung fluor (CPP-ACFP). Pada masing-masing jenis bahan, satu kelompok mendapat aplikasi hanya sesudah bleaching, satu kelompok lagi mendapat aplikasi sebelum dan sesudah bleaching.

Kandungan mineral gigi diukur menggunakan X-Ray Diffraction (XRD) di Laboratorium Geologi Fakultas Teknik UGM, sebelum dan sesudah perlakuan. Hasilnya cukup mengejutkan. Kelompok yang hanya mendapat CPP-ACP sesudah bleaching mengalami penurunan mineral paling drastis, dari 72,95% menjadi hanya 22,88%. Sebaliknya, kelompok yang mendapat CPP-ACFP sebelum dan sesudah bleaching menunjukkan kehilangan mineral paling kecil, dari 69% menjadi 64,4%. Perbedaan ini bermakna secara statistik.

“Desensitizing agent mengandung F sebelum dan sesudah perlakuan in office bleaching menunjukkan penurunan mineral paling kecil.”

Perbedaan antara CPP-ACP dan CPP-ACFP terletak pada keberadaan ion fluor. Ketika fluor hadir, mineral yang terbentuk bukan lagi hidroksiapatit biasa, melainkan fluorapatit, yang lebih keras dan lebih tahan terhadap pelarutan asam. Fluor juga aktif membatasi proses demineralisasi sekaligus merangsang remineralisasi, dibantu oleh ion kalsium dan fosfat yang sudah terkandung dalam bahan tersebut.

Temuan ini menegaskan satu hal yang sering diabaikan dalam praktik klinis: urutan dan waktu aplikasi desensitizing agent sama pentingnya dengan jenis bahan yang dipilih. Mengaplikasikan CPP-ACFP hanya sesudah bleaching sudah lebih baik daripada CPP-ACP saja, tapi hasilnya masih jauh di bawah jika dibandingkan dengan protokol dua tahap: sebelum dan sesudah bleaching.

Mengapa demikian? Aplikasi sebelum bleaching memberikan lapisan perlindungan awal pada permukaan gigi, sehingga ketika bahan bleaching bekerja, mineral gigi tidak langsung terpapar tanpa perlindungan. Aplikasi sesudah bleaching kemudian berfungsi untuk memulihkan mineral yang tetap hilang selama prosedur berlangsung.

Penelitian ini juga mencatat bahwa dentin peritubular, yaitu lapisan dentin yang mengelilingi tubulus, lebih tahan terhadap hidrogen peroksida dibandingkan dentin intertubular. Hal ini disebabkan kandungan mineralnya yang lebih tinggi dan kadar kolagen yang lebih rendah. Sementara dentin intertubular, yang tersusun 92% dari matriks organik berupa kolagen, justru lebih rentan mengalami kerusakan akibat oksidasi.

Prosedur pemutihan gigi di klinik tidak perlu dihindari, tapi perlu dilakukan dengan protokol yang tepat. Penelitian ini memberikan dasar ilmiah yang jelas: penggunaan desensitizing agent mengandung fluor, dioleskan sebelum dan sesudah tindakan in-office bleaching, terbukti secara bermakna meminimalkan kehilangan mineral gigi dibandingkan protokol lainnya.

Penulis : drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes., Annisa Dwi Noviyanti

Foto : FreePik

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
15 Juli 2026

Pasta Gigi Fluorida Terbukti Pulihkan Permukaan Email Gigi Pasca Bleaching

15 Juli 2026

Kawat, Sekrup, dan Wajah yang Kembali Simetris: Teknik Baru Penanganan Fraktur ZMC dari FKG UGM

15 Juli 2026

Teknik Penyinaran Pulsed-Delay Terbukti Kurangi Kebocoran Mikro pada Tambalan Gigi

id_ID