Sel-sel kanker lidah dikenal sebagai salah satu yang paling agresif di antara seluruh kanker rongga mulut. Mereka menyebar cepat, bersembunyi di jaringan limfatik, dan kerap membuat angka harapan hidup pasiennya tidak melampaui 50 persen. Pertanyaan yang bertahan di benak para peneliti selama bertahun-tahun adalah: adakah celah molekuler yang bisa ditembus untuk menghentikan mereka?
Sebuah studi terbaru dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada menawarkan jawaban yang menjanjikan. Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Taibah University Medical Sciences pada November 2025 ini menunjukkan bahwa sebuah molekul sintetis bernama antisense oligonucleotide (ASO) mampu menghambat proliferasi dan memicu apoptosis pada sel karsinoma sel skuamosa lidah manusia, secara signifikan.
Tersangka Utama: LINC00673
Di balik keagresifan kanker lidah, ada satu nama yang terus muncul dalam literatur onkologi molekuler: LINC00673. Ini bukan gen pengode protein biasa. LINC00673 adalah long non-coding RNA (lncRNA), yakni molekul RNA yang panjangnya lebih dari 200 nukleotida, tidak menghasilkan protein, namun memiliki pengaruh besar terhadap perilaku sel.
Studi-studi sebelumnya mencatat bahwa ekspresi LINC00673 yang tinggi pada karsinoma sel skuamosa lidah oral berkorelasi dengan ukuran tumor yang lebih besar, invasi lokal yang lebih dalam, stadium TNM yang lebih tinggi, serta angka harapan hidup keseluruhan yang lebih rendah. Pendek kata, semakin banyak LINC00673 di dalam sel tumor, semakin buruk prognosis pasien.
Di sinilah drg. Kadek Gede Putra Wibawa, MDSc, bersama Prof. Supriatno, PhD, dan Prof. Juni Handajani, PhD, dari FKG UGM memulai pendekatannya. Jika LINC00673 adalah pemicunya, maka mematikan LINC00673 seharusnya bisa menghentikan laju sel kanker.
Strategi Molekuler: Mengirim Umpan untuk Menghancurkan Target
Antisense oligonucleotide adalah untaian tunggal DNA atau RNA sintetis yang dirancang untuk mengenali dan mengikat sekuens RNA target secara spesifik, seperti kunci yang hanya cocok untuk satu gembok. Begitu ASO menempel pada LINC00673, kompleks RNA-ASO yang terbentuk akan merekrut enzim RNase H1 yang kemudian mendegradasi RNA target tersebut. Fungsi biologis LINC00673 pun terganggu.
Dalam penelitian ini, sel H357 (lini sel karsinoma sel skuamosa lidah manusia) digunakan sebagai model. Tim menyintesis ASO dengan sekuens spesifik 5′-TGGCACCTCTTTCTTGTCCT-3′ yang dirancang menggunakan platform sFold, lalu divalidasi melalui Nucleotide BLAST untuk memastikan spesifisitasnya. Sel-sel kemudian dibagi ke dalam beberapa kelompok perlakuan: ASO, sense oligonucleotide (SO), scramble control oligonucleotide (SCO), transfeksi tanpa oligonukleotida, dan kontrol negatif.
Proliferasi sel diukur menggunakan uji MTT, sementara apoptosis dideteksi melalui pewarnaan ganda acridine orange dan ethidium bromide (AO-EB).
Sel Kanker yang Berhenti Tumbuh, Lalu Mati
Hasilnya cukup mencolok. Setelah inkubasi 24 jam, semua kelompok perlakuan menunjukkan penurunan viabilitas sel dibandingkan kontrol negatif. Namun, hanya kelompok ASO yang mempertahankan efek hambatan proliferasi secara signifikan setelah 48 jam, di seluruh konsentrasi yang diuji (1,56 hingga 12,5 μM). Kelompok SO dan SCO tidak menunjukkan perbedaan bermakna dibandingkan kontrol pada hari kedua.
Temuan dari uji apoptosis tidak kalah menarik. Di bawah mikroskop fluoresensi, sel-sel yang hidup tampak berwarna hijau, sementara sel yang mengalami apoptosis memancarkan fluoresensi kuning-hijau hingga oranye-merah, bergantung pada tahap kematiannya. Kelompok kontrol dan perlakuan SO serta SCO didominasi sel berwarna hijau, tanda bahwa mereka masih hidup. Sebaliknya, sel-sel yang diberi ASO LINC00673 menunjukkan perubahan morfologi khas apoptosis: kondensasi kromatin pada konsentrasi 6,25 μM, dan membrane blebbing pada konsentrasi 12,5 μM.
“Persentase apoptosis pada sel yang diberi perlakuan ASO LINC00673 pada konsentrasi 6,25 μM mencapai 26%, dan meningkat menjadi 35,8% pada konsentrasi 12,5 μM, secara statistik berbeda signifikan dibandingkan kelompok kontrol.” — dari hasil penelitian Wibawa et al., 2025
Perbedaan yang konsisten antara kelompok ASO dan SCO menjadi bukti bahwa efek yang diamati adalah on-target effect, bukan sekadar artefak dari proses transfeksi.
Dari Laboratorium ke Harapan Klinis
Penelitian ini bukan klaim kemenangan final atas kanker lidah. Para peneliti sendiri menegaskan bahwa ini adalah eksplorasi awal. Pengukuran langsung terhadap kadar ekspresi LINC00673, efisiensi transfeksi, dan mekanisme biomolekuler yang mendasari masih perlu dikaji lebih dalam.
Namun konteksnya tidak bisa diabaikan. Indonesia tercatat sebagai negara ke-10 dengan insiden kanker rongga mulut tertinggi di dunia pada 2022, dengan sekitar 6.500 kasus baru. Kanker lidah menyumbang lebih dari 50 persen dari seluruh kasus karsinoma sel skuamosa rongga mulut, dengan tingkat kelangsungan hidup yang stagnan selama beberapa dekade.
ASO sebagai modalitas terapi bukan hal baru di dunia medis, namun penerapannya pada lncRNA spesifik di kanker lidah masih tergolong segar. Di kanker payudara, knockdown LINC00673 menggunakan ASO terbukti menekan ekspresi cyclin-D1. Di karsinoma sel skuamosa esofagus, inhibisi LINC00673 memicu cell cycle arrest. Pola yang serupa kini mulai tergambar pada sel kanker lidah.
Penelitian ini didanai oleh Kemendiktisaintek melalui program PMDSU, skema yang dirancang untuk mendorong mahasiswa magister Indonesia menyelesaikan riset berkualitas doktoral. Bahwa hasilnya berakhir di jurnal internasional terindeks Elsevier adalah catatan tersendiri.
Kanker lidah belum kalah. Tapi kini ada satu celah baru yang terbuka, dan para peneliti di Yogyakarta sedang mengintipnya dengan seksama.
Sumber DOI : https://doi.org/10.1016/j.jtumed.2025.10.007
Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Freepik