Berita

/

Artikel, Berita Terbaru, SDG 12, SDG 13, SDG 17, SDG 3, SDG 6, SDG 7

Mengubah Paradigma ‘Drill and Fill’: Menuju Praktik Kedokteran Gigi Berkelanjutan dengan Circular Care

Selama ini, masyarakat umum memahami profesi dokter gigi hanya sebatas rutinitas pengeboran dan penambalan gigi pasien. Namun, di balik ruang klinik yang steril, tersimpan jejak ekologis yang cukup masif bagi lingkungan hidup. Mulai dari penggunaan air dan energi listrik tingkat tinggi hingga gunungan limbah plastik sekali pakai. Menyadari hal tersebut, sebuah pemikiran transformatif digulirkan untuk mendesain ulang dampak lingkungan dari praktik dental melalui transisi radikal menuju ekonomi sirkular (circular care).

Urgensi ini menjadi topik utama dalam kuliah umum seri pra-acara International Kintar Summer Parcs 2026. Menariknya, pemaparan analitik ini tidak datang dari seorang dokter gigi, melainkan dari seorang pakar teknik lingkungan terkemuka dunia, Prof. Dr. Chettiyappan Visvanathan, B.Tech., M.Engg., PhD, yang tercatat dalam daftar 2% ilmuwan teratas global versi Stanford University ini menantang paradigma lama para praktisi medis melalui presentasi bertajuk “From Grass to Circular Care: Redesigning The Environmental Impact of Dental Practice Drill, Fill, and Sustain”.

Mitos Limbah vs Realitas Emisi Karbon

Dalam survei interaktif menggunakan Mentimeter di awal sesi, mayoritas peserta yang terdiri dari mahasiswa dan akademisi kedokteran gigi berasumsi bahwa generasi sampah medis dan pembuangan plastik adalah dampak lingkungan paling kritis dari klinik mereka. Namun, Prof. Dr. Chettiyappan Visvanathan, B.Tech., M.Engg., PhD, mematahkan miskonsepsi tersebut dengan menyajikan data analitik yang mengejutkan.

“Strategi keberlanjutan yang efektif di kedokteran gigi tidak boleh hanya menangani pengurusan limbah,” tegas Prof. Dr. Chettiyappan Visvanathan, B.Tech., M.Engg., PhD,. Berdasarkan studi kasus kedokteran gigi di Mahidol University, Thailand, kontributor utama dari jejak karbon (carbon footprint) fakultas dan klinik dental sebenarnya berasal dari dua sektor non-medis: penggunaan energi listrik operasional dan faktor transportasi.

Proses sterilisasi alat yang intensif, pencitraan diagnostik, hingga sistem pendingin udara (AC) ruangan mengonsumsi listrik dalam jumlah yang sangat besar. Lebih jauh lagi, data analitik dari studi kasus klinis menunjukkan bahwa mobilitas atau perjalanan bolak-balik pasien serta staf menuju klinik justru menjadi penyumbang dominan emisi gas rumah kaca.

Langkah Konkret dan Dilema Plastik Sekali Pakai

Meski emisi karbon menjadi prioritas utama, Prof. Dr. Chettiyappan Visvanathan, B.Tech., M.Engg., PhD, tidak menafikan bahwa konsumsi sumber daya harian di klinik gigi tetap membutuhkan perhatian serius. Setiap satu prosedur pemeriksaan pasien secara umum menghabiskan sekitar 320 gram plastik sekali pakai—seperti masker dan sarung tangan lateks—serta mengonsumsi sekitar 20 liter air bersih.

Untuk menekan dampak ini, beberapa langkah solutif berbasis riset mulai diterapkan di wilayah regional Asia Tenggara:

  1. Optimasi Rute Berbasis GIS: Terinspirasi dari studi kasus di Myanmar, pengangkutan limbah medis dari belasan klinik gigi kini diatur menggunakan sistem optimalisasi rute berbasis Geographic Information System (GIS) untuk meminimalkan emisi bahan bakar armada pengangkut.
  2. Segregasi Ketat dari Hulu: Mengedukasi perawat dan mahasiswa kedokteran gigi sejak tahun pertama mengenai pentingnya pemilahan sampah. Sebab, secara global, 80% dari total sampah di fasilitas kesehatan sebenarnya merupakan sampah umum non-medis yang bisa didaur ulang jika tidak tercampur.
  3. Efisiensi Energi: Mengoptimalkan sistem ventilasi ruangan dan mulai melirik transisi menuju sumber energi terbarukan di area klinik.

Melalui pendekatan kedokteran gigi sirkular (circular dentistry), para calon dokter gigi masa depan didorong untuk berpikir ulang (rethink) terhadap setiap aspek operasional mereka. Prof. Dr. Chettiyappan Visvanathan, B.Tech., M.Engg., PhD, menekankan bahwa tugas dokter gigi memang melakukan pengoboran (drill) dan penambalan (fill), namun tugas bersama antardisiplin ilmu adalah memastikan bahwa seluruh rantai perawatan tersebut berjalan secara berkelanjutan (sustain) demi keselamatan bumi.

Reporter ( Nanda , Andri )

Foto : Tangkapan Layar Zoom Meeting

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
21 Juli 2026

FKG UGM Usung Konsep Green Dentistry pada Summer Course 2026

21 Juli 2026

Ketika Karier Mandek, Siapa yang Bertanggung Jawab?

21 Juli 2026

Nanokitosan Lawan Bakteri Tersembunyi di Balik Kawat Gigi

id_ID