Pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. drg. Dyah Irnawati, MS Bidang Ilmu Biomaterial Polimer Kedokteran Gigi di FKG UGM
Di tengah tingginya angka penyakit gigi dan mulut di Indonesia, pidato pengukuhan Guru Besar di Universitas Gadjah Mada menghadirkan satu ironi besar: kemajuan teknologi biomaterial kedokteran gigi melesat cepat, tetapi persoalan dasar kesehatan masyarakat justru masih tertinggal.
Melalui pidato berjudul “Perjalanan Biomaterial Polimer Kedokteran Gigi: Dari Polimer Konvensional sampai Polimer Cerdas”, Prof. Dr. drg. Dyah Irnawati MS pada 7 April 2026 memaparkan transformasi fundamental dalam dunia material kedokteran gigi, dari bahan pasif menjadi sistem cerdas yang mampu merespons lingkungan biologis. Namun di balik optimisme ilmiah tersebut, terselip pertanyaan kritis: sejauh mana inovasi ini benar-benar menjawab krisis kesehatan gigi nasional?
Krisis Besar yang Tak Kunjung Tuntas
Data yang diungkap dalam pidato tersebut mencerminkan situasi yang mengkhawatirkan. Prevalensi karies mencapai 88,8% (Riskesdas 2018), sementara Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan: 43,6% masyarakat mengalami gigi rusak atau sakit. 21% kehilangan gigi. 7,3% mengalami abses gingiva.
Angka-angka ini bukan sekadar statistic melainkan indikator kegagalan sistemik dalam pencegahan dan perawatan kesehatan gigi. Ironisnya, Indonesia justru menjadi salah satu negara dengan pengeluaran perawatan gigi tertinggi kedua di Asia Tenggara. Artinya, biaya besar tidak berbanding lurus dengan hasil kesehatan. Masalah utama tampaknya bukan semata pada ketersediaan teknologi, tetapi pada distribusi akses, edukasi preventif, dan integrasi antara riset dan kebijakan publik.
Evolusi Biomaterial: Lompatan Ilmiah yang Signifikan
Pidato tersebut menelusuri sejarah panjang biomaterial polimer dalam kedokteran gigi: 1853: karet vulkanisasi sebagai basis gigitiruan. 1936: polimetil metakrilat (PMMA). Era modern: resin komposit berbasis bis-GMA
Kini, polimer digunakan hampir di seluruh aspek klinis—mulai dari gigi tiruan, tambalan, hingga bahan ortodontik. Namun, perkembangan paling revolusioner bukan pada penggunaannya, melainkan pada perubahan paradigma.
Selama puluhan tahun, biomaterial dirancang sebagai bahan inert yang tidak bereaksi dengan tubuh. Kini, pendekatan itu dianggap usang. Material modern justru dituntut untuk mampu berinteraksi aktif dengan jaringan. Menghambat pertumbuhan mikroba. Melepaskan agen terapeutik. Bahkan memperbaiki diri (self-healing)
Konsep ini melahirkan istilah “biomaterial cerdas”. Perubahan paradigma ini lebih banyak berkembang di ranah laboratorium dan akademik. Implementasi luas di layanan kesehatan, terutama di daerah dengan akses terbatas, masih harus digalakkan
Inovasi Lokal: Potensi Besar yang Sering Terabaikan
Salah satu bagian paling menarik adalah penelitian berbasis bahan lokal: Zeolit alam dari Wonosari. Dikombinasikan dengan ion Cu (Cu(II)-zeolit). Terbukti memiliki efek antimikroba signifikan.
Ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan biomaterial berbasis sumber daya lokal. Riset semacam ini sering berhenti di publikasi akademik dan tidak berlanjut ke produksi massal atau kebijakan nasional.
Era Baru: Material yang Bisa “Berpikir”
Perkembangan terbaru biomaterial mencakup: Polimer antimikroba: membunuh bakteri secara aktif. Shape memory polymers: kembali ke bentuk awal setelah berubah. Material responsif pH: melepaskan ion saat kondisi asam. Self-healing polymers: memperbaiki retakan sendiri. Peptida cerdas: menargetkan bakteri spesifik tanpa merusak ekosistem. Ini bukan lagi sekadar bahan, melainkan sistem biologis mini yang “hidup”.
Antara Harapan dan Realitas
Pidato ini menegaskan bahwa masa depan kedokteran gigi akan sangat bergantung pada biomaterial cerdas. Namun ada beberapa catatan kritis: Kesenjangan Teknologi vs Akses
Inovasi tinggi belum tentu menjangkau masyarakat luas. Risiko Biologis Jangka Panjang
Material aktif berpotensi mengganggu keseimbangan mikrobioma jika tidak dikontrol. Regulasi dan Uji KlinisSetiap inovasi membutuhkan validasi ketat yang sering kali memakan waktu panjang. Biaya, material cerdas cenderung mahal, berpotensi memperlebar ketimpangan layanan kesehatan.

Revolusi Ilmiah yang Butuh Keberpihakan Sosial
Pidato ini bukan sekadar laporan ilmiah, melainkan refleksi arah masa depan kedokteran gigi. Transformasi dari polimer konvensional ke polimer cerdas adalah lompatan besar dalam ilmu pengetahuan.
Namun tanpa kebijakan yang inklusif, distribusi teknologi yang merata, dan pendekatan preventif berbasis Masyarakat, maka inovasi ini berisiko menjadi kemewahan akademik, bukan solusi nyata bagi krisis kesehatan gigi nasional.
Pada akhirnya, yang paling penting bukanlah seberapa cerdas material yang diciptakan, namun seberapa besar dampaknya bagi masyarakat yang paling membutuhkan.
(Reporter: Andri Wicaksono, Fotografi: Dody Hendro Wibowo)