Berita

/

Artikel, Berita Terbaru

Kulit Kentang yang Dibuang Ternyata Bisa Lawan Bakteri Penyebab Gigi Berlubang

Kulit kentang hampir selalu berakhir di tempat sampah. Tapi sebuah penelitian dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada membuktikan bahwa limbah dapur yang selama ini dianggap tak berguna itu menyimpan potensi medis yang mengejutkan: mampu meredakan nyeri, mengurangi peradangan, dan menghambat pembentukan biofilm bakteri penyebab gigi berlubang.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Indonesian Journal of Cancer Chemoprevention pada Februari 2020 ini dipimpin oleh drg. Ivan Arie Wahyudi, M.Kes., Ph.D., dari Departemen Biomedika Kedokteran Gigi FKG UGM. Bersama tim penelitinya, ia menguji ekstrak kulit kentang (Solanum tuberosum L.) pada hewan coba dan bakteri laboratorium untuk mengukur tiga aktivitas sekaligus: analgesik (pereda nyeri), anti-inflamasi (anti-peradangan), dan anti-biofilm.

Dari Tempat Sampah ke Laboratorium

Kentang adalah salah satu bahan pangan paling umum di dunia, tapi kulitnya hampir tidak pernah dimanfaatkan. Padahal, sejumlah penelitian sebelumnya mencatat bahwa kulit kentang mengandung senyawa fenolik dan flavonoid dalam jumlah yang cukup signifikan. Flavonoid adalah kelompok senyawa kimia alami yang sudah lama dikenal memiliki efek pereda nyeri dan anti-peradangan.

Mekanismenya bekerja lewat jalur biokimia yang sama dengan obat-obatan umum seperti parasetamol dan diklofenak: menghambat enzim siklooksigenase (COX) dan lipoksigenase (LOX), dua enzim kunci yang memicu produksi prostaglandin dan leukotrien, yakni senyawa yang bertanggung jawab atas rasa nyeri dan respons peradangan dalam tubuh.

Selain flavonoid, kulit kentang juga mengandung asam klorogenat dan asam galat. Dua senyawa fenolik ini diketahui memiliki sifat antibakteri: asam klorogenat merusak membran sel bakteri sehingga isi sel bocor keluar, sementara asam galat memiliki spektrum aktivitas lebih luas, mulai dari antibakteri, antivirus, antijamur, hingga anti-inflamasi.

Tiga Uji, Satu Temuan Menjanjikan

Tim peneliti merancang tiga serangkaian uji yang berbeda. Untuk mengukur efek analgesik, 25 ekor tikus Wistar jantan diletakkan di atas hot plate bersuhu 60°C. Waktu yang dibutuhkan tikus untuk bereaksi, baik dengan menjilat kaki atau melompat, dicatat sebagai “latency time”. Semakin lama tikus bertahan sebelum bereaksi, semakin kuat efek pereda nyerinya.

Hasilnya: tikus yang diberi ekstrak kulit kentang dengan dosis 100 mg/kg dan 200 mg/kg menunjukkan latency time yang lebih panjang dibandingkan kelompok kontrol negatif yang hanya diberi air suling. Artinya, ekstrak ini benar-benar memperlambat respons nyeri secara signifikan secara statistik (p<0,05).

Untuk uji anti-inflamasi, 30 ekor tikus disuntik karagenan pada telapak kaki kiri untuk memicu pembengkakan. Kelompok yang mendapat ekstrak kulit kentang dengan dosis 100 mg/kg, 200 mg/kg, dan 400 mg/kg semuanya menunjukkan peningkatan volume edema yang lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol negatif, dan perbedaan ini juga signifikan secara statistik.

Satu catatan penting dari kedua uji ini: efek ekstrak kulit kentang memang nyata, tapi belum menyamai kinerja obat pembanding. Parasetamol masih unggul dalam meredakan nyeri, dan natrium diklofenak masih lebih efektif menekan pembengkakan.

Uji ketiga menyasar Streptococcus mutans, bakteri utama penyebab karies gigi. Dengan metode crystal violet assay, tim mengukur seberapa besar ekstrak kulit kentang mampu menghambat pembentukan biofilm, yaitu lapisan pelindung yang dibentuk bakteri agar lebih sulit diberantas. Hasilnya positif: semua konsentrasi yang diuji (5%, 10%, dan 20%) menunjukkan penghambatan biofilm yang bermakna dibandingkan kontrol negatif (p<0,05).

“Potato peel extract has analgesic, anti-inflammatory, and anti-biofilm-forming activities, as demonstrated in this study.”

drg. Ivan Arie Wahyudi, M.Kes., Ph.D., dan tim peneliti, dalam Indonesian Journal of Cancer Chemoprevention, 2020

Janji yang Masih Perlu Dibuktikan Lebih Jauh

Temuan ini membuka celah yang menarik. Jika ekstrak kulit kentang terbukti aman dan efektif, bahan ini berpotensi dikembangkan menjadi produk kesehatan gigi, entah dalam bentuk obat kumur, gel, atau suplemen herbal, yang lebih terjangkau dan berbasis bahan alami yang mudah didapat.

Namun, para peneliti sendiri menegaskan bahwa ini baru langkah awal. Uji toksisitas untuk memastikan keamanan penggunaan jangka panjang belum dilakukan. Identifikasi lebih rinci terhadap komponen aktif dalam ekstrak juga masih diperlukan sebelum bisa dibicarakan soal aplikasi klinis pada manusia.

Dunia farmasi herbal memang penuh dengan temuan yang menjanjikan di laboratorium, tapi tidak semuanya berhasil melewati panjangnya proses uji klinis. Kulit kentang sudah membuktikan dirinya layak diteliti lebih serius. Apakah ia juga akan membuktikan dirinya di klinik, itu adalah pertanyaan yang jawabannya masih harus ditunggu.

Penulis: drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes, Hazra Alifia Muharam

Foto: Freepik

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
17 Juli 2026

Literasi Kesehatan Gigi Rendah, Gusi Pun Meradang: Temuan Peneliti FKG UGM pada Lansia Yogyakarta

17 Juli 2026

Filtrat Bawang Putih Ungguli Kalsium Hidroksida: Temuan dari Saluran Akar Gigi Susu

17 Juli 2026

Saat Komputer Belajar Membaca Rongga Mulut: Kecerdasan Buatan di Balik Kursi Gigi

id_ID