Sebuah usapan kecil pada pipi bagian dalam — itulah titik awal penelitian yang membuka pertanyaan besar: apakah pil dan suntik KB mengubah sesuatu yang jauh lebih dalam dari yang selama ini kita bayangkan? Bukan di rahim, bukan di siklus menstruasi, melainkan di lapisan terdalam sel epitel rongga mulut.
Itulah yang diteliti Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., PBO, dari Departemen Biologi Oral Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, bersama mahasiswanya, Aurita S. Rahmawati. Hasil penelitian mereka dipublikasikan dalam Journal of International Oral Health edisi Juli–Agustus 2020 — sebuah jurnal internasional bereputasi yang diterbitkan Wolters Kluwer.
Ketika Hormon Bicara kepada Sel Epitel
Mukosa bukal — lapisan dalam pipi — bukan sekadar pembatas antara gigi dan daging. Ia adalah garis pertahanan pertama tubuh terhadap partikel asing yang masuk melalui mulut, sekaligus salah satu area yang paling sensitif terhadap perubahan hormonal pada perempuan. Dari pubertas, kehamilan, fase menstruasi, hingga menopause, fluktuasi estrogen dan progesteron meninggalkan tanda-tandanya di sini.
Yang menjadi fokus penelitian ini adalah cytokeratin 5 (CK5), sebuah protein filamen intermediat yang diekspresikan di sel-sel basal epitel, baik yang berkeratin maupun tidak. CK5 bekerja sebagai semacam “rangka” struktural sel, dan polanya berubah seiring proses maturasi atau pematangan jaringan epitel. Pertanyaan yang diajukan Handajani dan Rahmawati sederhana namun tajam: apakah kontrasepsi hormonal — baik pil maupun suntik — memengaruhi ekspresi CK5 dan proses pematangan sel epitel oral?
Tiga Puluh Perempuan, Satu Usapan Sitobrush
Penelitian observasional analitik dengan pendekatan potong lintang ini melibatkan 30 perempuan sehat dari wilayah Bantul, Yogyakarta, berusia 20–35 tahun. Mereka dibagi ke dalam tiga kelompok masing-masing sepuluh orang: pengguna pil KB, pengguna KB suntik, dan kelompok kontrol tanpa kontrasepsi hormonal. Semua peserta telah menggunakan kontrasepsi lebih dari tiga bulan, memiliki kesehatan mulut dan umum yang baik, serta tidak sedang menjalani perawatan ortodontik.
Sel epitel bukal diambil menggunakan sitobrush — alat kecil menyerupai sikat — lalu dioleskan pada kaca objek. Dua metode pewarnaan digunakan: Papanicolaou untuk menganalisis maturasi sel epitel, dan imunositokomia untuk mengamati ekspresi CK5 secara langsung. Di bawah mikroskop cahaya dengan pembesaran 200 kali, sel-sel basal tampak berwarna biru, sementara ekspresi positif CK5 muncul sebagai warna coklat di nukleus dan sitoplasma.
Suntik KB Tertinggi, Korelasinya Nyaris Sempurna
Hasilnya mengejutkan dalam kesederhanaannya. Uji ANOVA menunjukkan perbedaan signifikan ekspresi CK5 di antara ketiga kelompok (P < 0,05). Pengguna KB suntik memiliki ekspresi CK5 tertinggi, diikuti pengguna pil, lalu kelompok kontrol. Perbedaan antar kelompok pun bermakna secara statistik.
Yang lebih menarik adalah korelasi Pearson antara jumlah sel basal dan ekspresi CK5 yang mencapai angka 0,945 — korelasi yang sangat kuat, hampir sempurna.
“Hormonal contraception may increase the expression of CK5 in the epithelial oral cell, and there is a strong correlation between epithelial maturation and CK5 expression.” — Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., PBO, dalam kesimpulan penelitian
Penjelasan mekanisnya merujuk pada kandungan estrogen dan progesteron dalam kontrasepsi hormonal yang diduga menstimulasi pembelahan sel di lapisan basal, mempercepat proses keratinisasi. KB suntik menghasilkan respons lebih kuat dibanding pil, kemungkinan karena perbedaan cara kerja dan konsentrasi hormonal yang diserap tubuh.
Rongga Mulut sebagai Cermin Perubahan Sistemik
Temuan ini memperkuat sebuah gagasan yang selama ini belum cukup mendapat perhatian klinis: rongga mulut bukan entitas yang berdiri sendiri. Ia merespons perubahan hormonal sistemik dengan cara yang terukur dan dapat diamati.
Bagi para dokter gigi, ini bukan sekadar data laboratorium. Pengguna kontrasepsi hormonal jangka panjang mungkin memerlukan perhatian lebih terhadap kondisi mukosa oral mereka, termasuk potensi perubahan dalam pola keratinisasi yang bisa memengaruhi ketahanan jaringan terhadap iritasi dan infeksi.
Penelitian yang didanai Dana Masyarakat FKG UGM ini selesai dengan catatan etis yang ketat — izin dari Komisi Etik Penelitian FKG UGM dan persetujuan tertulis dari seluruh subjek sesuai Deklarasi Helsinki II. Kecil, metodis, dan dijalankan dengan teliti di laboratorium Biologi Oral Yogyakarta — namun implikasinya menjangkau jauh ke dalam pemahaman kita tentang bagaimana tubuh perempuan, dari hormon hingga sel terkecil di pipi, bekerja sebagai satu sistem yang utuh.
Sumber DOI : https://doi.org/10.4103/jioh.jioh_342_19
Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.