Berita

/

Artikel, Berita Terbaru

Kontaminasi Darah Mengancam Kekuatan Tambalan Ujung Gigi

Saat dokter gigi melakukan operasi bedah apikal, prosedur pembedahan untuk menyelamatkan gigi yang gagal dirawat secara konvensional, mereka berhadapan dengan tantangan nyata. Cairan merah yang mengalir bebas di area operasi itu bukan sekadar penghalang pandang, melainkan ancaman langsung bagi material tambalan yang dipasang di ujung akar gigi. Prof. drg. Diatri Nari Ratih, M.Kes., Ph.D., Sp.KG(K), peneliti dari Departemen Ilmu Konservasi Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM), membuktikan hal itu melalui sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Medical and Biological Engineering pada 2017. Penelitian yang dilakukan bersama drg. Asri Riany Putri, Sp.KG. ini menguji seberapa besar kontaminasi darah melemahkan daya rekat Mineral Trioxide Aggregate (MTA), salah satu material tambalan terbaik yang kini digunakan dalam bedah gigi, dan menemukan bahwa pilihan cairan pencampur MTA menentukan seberapa parah kerusakannya.

Bedah apikal bukan prosedur yang diambil ringan. Dokter gigi baru merekomendasikannya ketika perawatan saluran akar secara konvensional sudah tidak bisa lagi mengatasi masalah. Infeksi yang membandel, peradangan di jaringan sekitar ujung akar, atau saluran akar yang tidak dapat dijangkau dari dalam mahkota gigi, semuanya bisa menjadi alasan dilakukannya prosedur ini.

Dalam bedah apikal, dokter membuka gusi, mengakses tulang rahang, lalu memotong ujung akar yang bermasalah. Setelah itu, rongga kecil di ujung akar yang telah dipotong itu harus ditutup rapat dengan material khusus yang disebut retrograde filling atau tambalan retrograd. Tujuannya satu: menutup pintu masuk bakteri dan iritasi dari saluran akar ke jaringan sekitarnya.

MTA menjadi pilihan utama untuk keperluan ini. Material berbentuk serbuk ini, yang pertama kali diperkenalkan dalam dunia kedokteran gigi pada 1993, memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak material lain: kemampuan menutup yang baik, ramah terhadap jaringan tubuh, mendukung regenerasi jaringan, dan mampu mengeras bahkan dalam kondisi lembab. Namun ada satu kelemahan yang belum sepenuhnya terjawab sebelum penelitian ini: apa yang terjadi pada daya rekat MTA ketika ia bersentuhan langsung dengan darah?

Untuk menjawab pertanyaan itu, Prof. Diatri dan tim merancang eksperimen dengan 30 sampel gigi premolar bawah manusia. Setiap gigi dipotong di bagian tengah akarnya menjadi irisan setebal 3 mm, lalu lubang di tengahnya distandarisasi hingga berdiameter 1,3 mm, menyerupai rongga yang akan diisi material tambalan dalam prosedur bedah nyata.

Tiga puluh irisan akar itu dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan cairan yang digunakan untuk mencampur serbuk MTA. Kelompok pertama menggunakan air steril, yang merupakan cairan standar rekomendasi pabrik. Kelompok kedua menggunakan anestesi lokal berbasis lidokain 2%, karena dalam praktik klinis, ketika ampul air steril habis, anestesi lokal sering menjadi pengganti yang mudah didapat. Kelompok ketiga menggunakan larutan kalsium klorida 5% (CaCl₂), sebuah akselerator yang ditambahkan dengan harapan mempercepat waktu pengerasan MTA.

Masing-masing kelompok kemudian dibagi dua. Sebagian sampel dikontaminasi darah segar manusia yang disuntikkan langsung ke dalam rongga sebelum MTA dipasang, sementara sebagian lainnya dibiarkan tanpa kontaminasi. Semua spesimen kemudian disimpan dalam inkubator bersuhu 37°C selama 72 jam, menyerupai kondisi tubuh manusia, sebelum akhirnya diuji.

Pengujian dilakukan dengan metode push-out, yakni mendorong material MTA keluar dari rongga menggunakan alat khusus yang terpasang pada mesin uji universal. Gaya maksimal yang dibutuhkan untuk melepaskan MTA dari dinding dentin dicatat, lalu dikonversi menjadi satuan megapascal (MPa), ukuran kekuatan rekat yang umum digunakan dalam penelitian material gigi.

Hasilnya, kontaminasi darah menurunkan kekuatan rekat MTA pada semua kelompok, tanpa terkecuali. Namun besarnya penurunan itu berbeda-beda tergantung cairan pencampur yang digunakan. Pada kelompok tanpa kontaminasi darah, ketiga cairan menghasilkan kekuatan rekat yang relatif berdekatan: CaCl₂ 5% tertinggi dengan 22,14 MPa, disusul anestesi lokal 21,03 MPa, dan air steril 19,15 MPa. Begitu darah masuk, kesenjangan itu melebar dramatis. MTA yang dicampur CaCl₂ 5% tetap bertahan paling baik dengan kekuatan 13,48 MPa. MTA dengan air steril turun ke 7,55 MPa. Yang paling mengkhawatirkan, MTA yang dicampur anestesi lokal hanya menyisakan kekuatan 5,29 MPa, turun lebih dari 75 persen dari kondisi tanpa kontaminasi.

Angka-angka itu menggambarkan sesuatu yang penting secara klinis. Dalam operasi bedah mulut, material tambalan yang kehilangan tiga perempat kekuatan rekatnya akibat darah adalah material yang rentan terlepas dari tempatnya, dan bila itu terjadi, seluruh tujuan prosedur operasi bisa gugur.

Secara kimiawi, penelitian ini memberikan penjelasan yang masuk akal untuk fenomena tersebut. MTA bekerja dengan cara membentuk kristal-kristal kecil selama proses pengerasan. Kristal-kristal berbentuk jarum ini, yang disebut ettringite, berperan penting mengunci seluruh massa material agar menjadi padat dan melekat kuat pada dinding dentin. Darah mengganggu pembentukan kristal-kristal ini.

Di samping itu, darah mengandung berbagai sel dan protein, termasuk albumin. Protein-protein ini dapat menyumbat tubulus dentin, yaitu saluran-saluran mikroskopis di dalam dentin, dan mengisi celah antara MTA dengan dinding akar. Akibatnya, proses biomineralisasi yang seharusnya terjadi, yaitu terbentuknya lapisan hidroksiapatit yang mengikat MTA secara kimiawi ke dentin, terganggu sejak awal.

Adapun mengapa anestesi lokal memberikan hasil terburuk, jawabannya ada pada keasaman cairan itu. Anestesi lokal bersifat asam, dan keasaman ini diketahui meningkatkan porositas MTA setelah mengeras. Semakin berpori suatu material, semakin mudah ia larut dan semakin lemah kekuatan mekaniknya. Kombinasi antara sifat asam anestesi lokal dan gangguan dari kontaminasi darah menjadikan kekuatan rekat kelompok ini paling rendah dari semua yang diuji.

Sebaliknya, CaCl₂ 5% terbukti menjadi cairan pencampur paling menguntungkan. Larutan ini mempercepat waktu pengerasan MTA hingga sekitar 35 menit, jauh lebih cepat dibandingkan air steril. Dengan pengerasan yang lebih cepat, material mendapat lebih sedikit waktu untuk terkontaminasi oleh darah yang terus mengalir. Selain itu, CaCl₂ juga meningkatkan kepadatan struktur kristal MTA dan mengurangi porositas, sehingga material menjadi lebih resistan terhadap gaya yang berusaha melepasnya dari dinding akar.

Penelitian ini bukan sekadar latihan laboratorium. Setiap hari, di klinik-klinik bedah mulut di seluruh dunia, dokter gigi menghadapi keputusan, sperti cairan apa yang akan digunakan untuk mencampur MTA ketika air steril tidak tersedia? Atau apakah anestesi lokal yang sudah ada di tangan cukup aman dipakai?

Temuan Prof. Diatri memberikan jawaban yang kurang menggembirakan bagi praktik tersebut. Meski anestesi lokal memang steril dan mudah didapat, penggunaannya sebagai cairan pencampur MTA, terutama dalam konteks bedah yang melibatkan paparan darah, menghasilkan kekuatan rekat yang paling rendah. Ini berarti risiko kegagalan tambalan retrograd meningkat.

Di sisi lain, penggunaan CaCl₂ 5% sebagai akselerator sekaligus cairan pencampur memberikan manfaat ganda: mempercepat pengerasan dan meningkatkan kekuatan rekat, bahkan dalam kondisi terkontaminasi darah. Hasil ini mendukung pertimbangan klinis untuk mempersiapkan larutan ini sebagai alternatif yang lebih andal.

Penelitian ini juga menegaskan bahwa penilaian material gigi tidak bisa dilakukan hanya dalam kondisi ideal laboratorium. Kondisi lapangan, termasuk kehadiran darah, cairan mulut, dan berbagai kontaminan lain, harus ikut diperhitungkan dalam menentukan standar prosedur klinis.

Pada pengamatan di bawah stereomikroskop, sebagian besar sampel menunjukkan pola kegagalan campuran antara adhesif dan kohesif. Artinya, ada material MTA yang tertinggal di dinding dentin, dan ada pula yang terlepas bersama material itu sendiri. Temuan ini menunjukkan bahwa setelah 72 jam, ikatan MTA dengan dentin sudah mulai berkembang dari sekadar ikatan mekanis menjadi ikatan kimiawi yang lebih kompleks.

Penulis : drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes., Annisa Dwi Noviyanti

Foto : FreePik

Sumber DOI : https://doi.org/10.1007/s40846-016-0199-8

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
22 Juli 2026

Ketika Sel Kanker Lidah Dipaksa Mati dari Dalam

22 Juli 2026

Saat Gen Penekan Kanker Disuntikkan Langsung ke Tumor Lidah

22 Juli 2026

Baterai Lebih Kuat dari Karbon Biasa: Terobosan Material Anoda Baru untuk Baterai Lithium-Ion

id_ID