Selama hampir setahun penuh, perempuan berusia 63 tahun itu hanya merasakan gusi depan atasnya membengkak. Tidak nyeri, tidak mengganggu makan — ia pun tidak terburu-buru memeriksakan diri. Namun hasil foto panoramik yang akhirnya diambil mengungkap sesuatu yang lebih serius: sebuah kista radikuler berdiameter 2 sentimeter bersembunyi di balik akar gigi depan rahang atasnya, diam dan terus membesar tanpa peringatan.
Kasus inilah yang kemudian menjadi objek studi yang dipublikasikan dalam Majalah Kedokteran Gigi Indonesia edisi Desember 2025. Ditulis oleh Tresy Charlotte Marito bersama tim dokter Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial FKG UGM — drg. Erdananda Haryosuwandito, drg. Pingky Krisna Arindra, Sp.B.M.M.Subsp.Ped.O.M.(K), dan drg. Bramasto Purbo Sejati — laporan ini menyoroti bagaimana enukleasi kista, teknik bedah yang menuntut presisi tinggi, berhasil dilakukan dengan hasil yang bersih tujuh bulan pascaoperasi.
Dari Akar yang Mati, Kista Lahir Diam-Diam
Kista radikuler bukan entitas yang datang tiba-tiba. Ia adalah produk dari proses inflamasi kronis yang bermula dari pulpa gigi yang sudah mati — kondisi yang disebut nekrosis pulpa. Di salah satu ibu kota provinsi di Indonesia, data tahun 2019 mencatat 76 persen dari 610 pasien yang datang ke fasilitas kesehatan mengalami nekrosis pulpa. Angka itu menggambarkan betapa umum akar masalah ini.
Dari jaringan granulasi yang meradang di ujung akar gigi, sisa-sisa sel epitel Malassez yang ada di ligamen periodontal terstimulasi untuk berproliferasi. Lapisan epitel semipermeabel terbentuk, cairan perlahan merembes masuk melalui osmosis, dan kista pun berkembang secara bertahap. Kista radikuler menjadi jenis kista odontogenik paling umum di rongga mulut, menyumbang 52 hingga 68 persen dari seluruh kista odontogenik. Enam puluh persen di antaranya tumbuh di rahang atas — angka yang bukan kebetulan, mengingat regio anterior maksila lebih rentan terhadap karies, trauma, dan efek iritasi bahan restorasi.
Pada pasien dalam kasus ini, pemeriksaan radiologis panoramik menunjukkan area radiolusen berbatas tegas dan berlapis radiopak di regio akar gigi 14, 13, 12, dan 11. Aspirasi biopsi yang kemudian dilakukan di Instalasi Laboratorium Klinik RSGM UGM Prof. Soedomo mengonfirmasi diagnosis: kista berisi kristal kolesterol — temuan khas yang memperkuat identifikasi kista radikuler.
Keputusan Bedah yang Ditimbang Berlapis
Tidak semua kista radikuler harus dioperasi. Untuk lesi kecil dengan diameter di bawah 1 sentimeter, perawatan saluran akar secara konvensional sering kali sudah memadai. Namun lesi yang lebih besar membutuhkan intervensi bedah — dan pilihannya pun bercabang: enukleasi, marsupialisasi, atau dekompresi.
Pada kasus ini, tim memilih enukleasi, yakni pengangkatan seluruh kapsul kista sekaligus. Keputusan itu didasarkan pada tiga pertimbangan utama: ukuran lesi yang cukup besar, lokasi kista yang tidak berasosiasi dengan struktur vital seperti sinus maksilaris, foramen infraorbital, atau kavitas nasal, serta kondisi sistemik pasien yang bersih dari komorbiditas.
Faktor usia sempat menjadi perhatian tersendiri. Pasien berusia 63 tahun — mendekati ambang 65 tahun yang secara klinis dianggap meningkatkan risiko anestesi umum secara signifikan. Pemeriksaan subjektif dan objektif yang menyeluruh dilakukan sebelum tindakan operatif. Hasilnya: tidak ditemukan kontraindikasi. Anestesi umum pun dipilih, mengingat ukuran kista yang besar membutuhkan akses bedah yang luas dan nyaman bagi pasien.
Sayatan Trapesoid dan Rongga yang Harus Bersih
Prosedur dimulai dengan insisi flap trapesoid dari sulkus distolabial gigi 21 hingga sulkus distolabial gigi 15, memanjang ke arah vestibulum. Flap trapesoid dipilih karena memberikan akses yang lebih lebar dibandingkan flap segitiga — penting mengingat pencitraan panoramik dua dimensi tidak selalu menggambarkan batas lesi secara akurat.
Setelah flap dibuka dengan raspatorium, kapsul kista dipisahkan dari tulang sekitar secara hati-hati hingga seluruh kapsul terangkat. Gigi 11, 12, dan 13 yang terkait ikut diekstraksi. Rongga tulang kemudian diirigasi, jaringan tersisa dikuret, dan spikula tulang dihaluskan sebelum penutupan luka primer dilakukan.
Drainase menggunakan kasa yang direndam povidone-iodine 10 persen dipasang di dalam rongga kista melalui celah soket gigi 13. Tujuannya berlapis: mencegah akumulasi cairan dan gas di ruang mati pascaoperasi, mengurangi tekanan pada jaringan sekitar, sekaligus meningkatkan perfusi luka agar penyembuhan berjalan optimal.
“Irrigation and drainage of the bone cavity and curettage of the remaining tissue should be done to ensure the lesion has been removed completely,” tulis para penulis dalam laporan tersebut.
Drainase secara bertahap dikurangi volumenya pada hari pertama hingga ketiga pascaoperasi, lalu dilepas sepenuhnya pada hari ketiga. Empat belas hari setelah operasi, soket gigi sudah tertutup. Tujuh bulan kemudian, pemeriksaan klinis dan radiologis tidak menunjukkan tanda-tanda rekurensi maupun infeksi.
Diam Bukan Berarti Tidak Berbahaya
Yang membuat kasus ini relevan secara luas bukan hanya teknik bedahnya. Ada pelajaran yang lebih mendasar: kista radikuler hampir selalu asimtomatik pada stadium awal. Ia tidak nyeri, tidak meradang secara kasat mata, dan sering baru terdeteksi secara tidak sengaja saat pasien melakukan foto rontgen untuk keperluan lain.
Pasien dalam kasus ini menunggu hampir setahun sebelum mencari pertolongan — bukan karena lalai, melainkan karena memang tidak ada sinyal rasa sakit yang memaksanya segera bertindak. Kenyataan ini mengingatkan bahwa pemeriksaan gigi berkala, termasuk radiografis, bukan kemewahan melainkan kebutuhan. Kista yang diam pun bisa tumbuh, dan semakin besar ia tumbuh, semakin kompleks pula jalan untuk mengangkatnya.
Sumber DOI : http://doi.org/10.22146/majkedgiind.91486
Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Pexels