Berita

/

Artikel, Berita Terbaru

Ketika Temu Putih Melatih Sel Penjaga Tubuh Melawan Bakteri Periodontal

Satu sel makrofag mampu menelan hingga 35 partikel sekaligus. Angka itu bukan rekor laboratorium biasa — ia muncul dari percobaan yang menguji apakah minyak atsiri temu putih (Curcuma zedoaria) bisa mengubah cara kerja sistem imun dalam melawan bakteri penyakit gusi.

Itulah temuan utama penelitian Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., PBO. dari Bagian Biologi Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, yang dipublikasikan dalam Dentika Dental Journal pada 2013. Penelitian ini menjawab pertanyaan yang lebih spesifik: bukan sekadar apakah temu putih bermanfaat, melainkan bagaimana mekanisme opsonisasi serum — proses “penandaan” bakteri oleh protein imun agar lebih mudah difagosit — berperan setelah tubuh terpapar minyak atsiri tanaman rimpang itu.

Bakteri Gusi, Sel Penjaga, dan Rimpang Kuning Emas

Aggregatibacter actinomycetemcomitans adalah bakteri Gram-negatif yang lazim ditemukan di plak gigi dan poket periodontal. Meski komensal di rongga mulut, ia kerap dikaitkan dengan penyakit periodontal, bahkan endokarditis. Ketika bakteri ini menyusup melewati barier epitel, makrofag — sel fagosit berumur panjang yang bertugas menghancurkan patogen — menjadi garda pertama sekaligus pengatur respons imun adaptif.

Dalam eksperimen ini, sepuluh tikus Wistar jantan dibagi dua kelompok. Kelompok perlakuan diberi minyak atsiri temu putih dosis 30,6 μl/ml selama 14 hari secara oral; kelompok kontrol hanya mendapat akuabides. Mulai hari ke-7, gingiva anterior rahang bawah semua tikus diolesi suspensi A. actinomycetemcomitans selama tujuh hari berturut-turut. Pada hari ke-15, serum darah diambil, lalu digunakan untuk mengopsonisasi latex beads — partikel penanda yang meniru bakteri — sebelum dipaparkan ke makrofag peritoneal.

Hasilnya kontras. Makrofag dari kelompok perlakuan memfagosit sekitar 35 partikel latex beads, sementara kelompok kontrol hanya sekitar 12 partikel. Uji-t menunjukkan perbedaan bermakna (p = 0,00), dengan persentase fagositosis mencapai 126,86 persen.

Opsonin sebagai Kunci, Temu Putih sebagai Pemicunya

Mengapa opsonisasi serum begitu menentukan? Serum dari tikus yang diberi minyak atsiri temu putih diduga telah kaya protein larut seperti TNF-α, sitokin yang mengaktivasi makrofag melalui jalur respiratory burst-dependent dan NO-dependent killing. Protein-protein ini kemudian berfungsi sebagai opsonin — melapisi permukaan partikel asing sehingga makrofag mengenalinya lebih cepat melalui reseptor komplemen CR1, CR3, dan CR4, serta reseptor Fc-gamma untuk IgG.

Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., PBO. menduga mekanisme ini berjalan dua arah: paparan bakteri A. actinomycetemcomitans menstimulasi makrofag memproduksi sitokin yang memperkuat dirinya sendiri (autocrine) sekaligus mengaktifkan sel-sel imun di sekitarnya (paracrine). Minyak atsiri temu putih, dengan kandungan seskuiterpen dan sineol-nya, menjadi katalis awal yang menggerakkan seluruh rangkaian itu.

Temuan ini membuka celah menarik: tanaman yang selama ini dikenal sebagai jamu pascamelahirkan dan obat tradisional luka ternyata menyimpan potensi imunomodulator yang bisa diukur secara ilmiah — termasuk, kelak, relevansinya untuk kesehatan rongga mulut.

Penulis: Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto: ChatGPT

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
2 Juli 2026

Ketika Rahang Patah, Tulang Mana yang Lebih Cepat Pulih?

2 Juli 2026

Temu Putih Melawan Radang: Bukti dari Laboratorium FKG UGM

2 Juli 2026

Minyak Temu Putih Turunkan Gula Darah Sekaligus Atasi Gingivitis pada Tikus Hiperglikemia

id_ID