Berita

/

Artikel, Berita Terbaru, SDG 10, SDG 12, SDG 17, SDG 3, SDG 9

Ketika Suhu Air Menentukan Nasib Cetakan Gigi dari Kulit Manggis

Sebuah pertanyaan sederhana muncul di laboratorium: apakah air dingin atau air hangat yang lebih baik untuk mencampur bahan cetak gigi berbahan dasar kulit manggis? Jawabannya ternyata tidak hanya memengaruhi kecepatan reaksi, tetapi juga membuka cakrawala baru dalam pencarian alternatif bahan cetak lokal yang lebih terjangkau.

Penelitian yang dipublikasikan dalam IDJ (Indonesian Dental Journal) Volume 1, No. 1, Tahun 2012 ini digagas oleh Dian Yosi Arinawati dari Program Studi Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, bersama Dr. drg. Andi Triawan, Sp.Ort., dari Bagian Ortodonsia di institusi yang sama. Keduanya mencoba membuktikan sesuatu yang belum pernah diuji sebelumnya: apakah prinsip yang berlaku pada alginat konvensional juga berlaku pada bahan cetak inovatif berbasis kulit buah manggis (Garcinia mangostana)?

Dari Buah Tropis ke Kursi Perawatan Gigi

Bahan cetak adalah tulang punggung prosedur kedokteran gigi restoratif. Tanpanya, dokter gigi tidak bisa membuat replika akurat gigi dan jaringan rongga mulut sebagai dasar pembuatan restorasi. Selama ini, bahan cetak hidrokoloid ireversibel atau alginat mendominasi praktik klinis. Masalahnya, alginat masih bergantung pada impor dan harganya relatif mahal.

Kulit manggis hadir sebagai kandidat alternatif yang menarik. Komposisi bahan cetak eksperimental ini terdiri dari serbuk kulit buah manggis 10 persen, gips 5 persen, kalium sulfat 10 persen, silika gel 20 persen, zeolit 25 persen, dan tepung ubi kayu 30 persen. Perpaduan bahan lokal yang terbilang sederhana, namun menyimpan potensi besar.

Salah satu syarat krusial sebuah bahan cetak adalah setting time yang memadai, yakni waktu yang dibutuhkan bahan untuk mengeras secara sempurna sejak mulai dicampur. Terlalu cepat, dan dokter gigi tidak punya cukup waktu memasang cetakan. Terlalu lambat, pasien harus menahan bahan di mulut lebih lama dari yang seharusnya. Faktor yang memengaruhi setting time mencakup rasio air terhadap bubuk (W/P ratio), bahan pengisi, dan temperatur air pencampur. Namun memodifikasi W/P ratio berisiko mengubah sifat elastisitas dan kekuatan gel. Mengubah suhu air dianggap cara yang lebih aman.

Eksperimen Lima Suhu, Dua Puluh Lima Spesimen

Tim peneliti menyiapkan 25 spesimen yang dibagi rata ke dalam lima kelompok suhu: 10°C, 15°C, 20°C, 25°C, dan 30°C. Setiap spesimen dibuat dari 5 mg serbuk bahan cetak kulit manggis yang dicampur dengan 5 ml air sesuai suhu kelompoknya, diaduk hingga homogen selama satu menit, lalu dituang ke dalam metal ring.

Pengukuran setting time dilakukan dengan alat indikator berbentuk batang silindris dari bahan poly(methyl methacrylate) berdiameter 6 mm dan panjang 100 mm. Batang tersebut disentuhkan ke permukaan bahan cetak setiap 10 detik. Ketika bahan cetak tidak lagi melekat pada batang, saat itulah setting time dinyatakan tercapai.

Hasilnya cukup tegas. Pada suhu 10°C, rata-rata setting time mencapai 202 detik. Suhu 15°C menghasilkan rata-rata 148 detik. Suhu 20°C turun ke 94 detik, dan 25°C ke 86 detik. Paling cepat adalah kelompok 30°C, dengan rata-rata hanya 46 detik.

“Semakin tinggi temperatur air pencampur yang diuji, setting time semakin pendek (cepat). Setting time tercepat terdapat pada kelompok suhu air pencampur 30°C.” — Dian Yosi Arinawati & Dr. drg. Andi Triawan, Sp.Ort.

Uji statistik ANAVA satu jalur mengonfirmasi bahwa perbedaan suhu ini bermakna secara statistik (p < 0,05). Uji LSD 0,05 lebih lanjut menunjukkan perbedaan signifikan antar hampir semua kelompok, kecuali satu pengecualian yang menarik: suhu 20°C dan 25°C tidak menunjukkan perbedaan bermakna satu sama lain. Keduanya berada dalam rentang suhu ruangan, dan memang secara fisiologis keduanya memberikan respons reaksi kimia yang serupa.

Satu Angka Penting, Satu Pertanyaan Terbuka

Temuan ini sejalan dengan prinsip yang sudah lama diketahui pada alginat konvensional: air hangat mempercepat setting, air dingin memperlambatnya. Kini, prinsip yang sama terbukti berlaku pula pada bahan cetak berbasis kulit manggis. Itu bukan hal kecil, karena sebelumnya belum ada bukti ilmiah yang memvalidasi perilaku ini pada material inovatif tersebut.

Namun para peneliti juga mengingatkan batas temuan ini. Bahan cetak yang baik tidak cukup hanya dinilai dari setting time-nya saja. Stabilitas dimensi, kekuatan, elastisitas, dan reaksi kimia yang terjadi di antara komponen bahan pengisi masih perlu diteliti lebih lanjut, terutama untuk memenuhi standar ANSI/ADA No. 18 yang menjadi acuan internasional bahan cetak alginat.

Artinya, kulit manggis baru melewati satu ujian dari sekian banyak ujian yang harus dilalui sebelum bisa bersanding, atau bahkan menggantikan, alginat impor di kursi perawatan gigi. Perjalanannya masih panjang, tetapi arahnya jelas: bahan lokal, ilmu terukur, dan potensi yang belum sepenuhnya tergali.

Penulis :

Foto : Pexels

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
21 Juli 2026

FKG UGM Usung Konsep Green Dentistry pada Summer Course 2026

21 Juli 2026

Ketika Karier Mandek, Siapa yang Bertanggung Jawab?

21 Juli 2026

Nanokitosan Lawan Bakteri Tersembunyi di Balik Kawat Gigi

id_ID