Berita

/

Artikel, Berita Terbaru

Ketika Karier Mandek, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Sebanyak 43,86 persen karyawan di sebuah lembaga jaminan sosial ketenagakerjaan di Jawa Tengah telah bertahun-tahun bekerja tanpa satu kali pun mendapat promosi jabatan. Fakta itu terungkap dari penelitian yang dipublikasikan dalam prosiding 2nd International Conference on Banking, Accounting, Management and Economics (ICOBAME 2018). Dr. drg. Bambang Priyono, S.U. bersama tim peneliti dari Universitas Stikubank Semarang meneliti 110 karyawan lembaga tersebut untuk memahami apa yang membuat karier seseorang berhenti di tempat, dan apa yang bisa mencegahnya.

Fenomena ini dikenal sebagai career plateau, kondisi saat seorang karyawan merasa peluang untuk naik jabatan hampir tidak ada. Bukan karena malas, bukan pula karena tidak kompeten. Melainkan karena struktur organisasi yang semakin datar, persaingan yang ketat, dan minimnya program pengembangan yang bermakna.

Dua Faktor yang Menentukan

Penelitian ini menempatkan dua variabel utama sebagai kunci: empowerment (pemberdayaan karyawan) dan quality of work life (kualitas kehidupan kerja). Keduanya diuji pengaruhnya terhadap kepuasan kerja dan career plateau pada 110 responden yang bekerja di kantor cabang lembaga tersebut di Jawa Tengah.

Hasilnya cukup tegas. Pemberdayaan yang baik terbukti meningkatkan kepuasan kerja secara signifikan. Karyawan yang diberi ruang untuk bertanggung jawab, membuat keputusan, dan berkontribusi nyata pada organisasi cenderung merasa lebih puas dengan pekerjaan mereka. Namun pengaruh yang lebih kuat justru datang dari kualitas kehidupan kerja, yang mencakup kompensasi yang adil, lingkungan kerja yang sehat, kesempatan berkembang, hingga pengakuan atas hak-hak karyawan.

Dengan nilai koefisien regresi 0,650 untuk kualitas kehidupan kerja dibandingkan 0,339 untuk pemberdayaan, penelitian ini menegaskan bahwa bagaimana karyawan merasakan keseluruhan pengalaman bekerjanya sehari-hari jauh lebih menentukan kepuasan mereka dibanding sekadar diberi wewenang tambahan.

Kepuasan Kerja Sebagai Jangkar

Temuan paling menarik dari studi ini bukan pada hubungan langsung antara pemberdayaan dan career plateau, melainkan pada peran kepuasan kerja sebagai variabel perantara. Melalui uji Sobel dengan teknik bootstrapping, peneliti membuktikan bahwa kepuasan kerja menjadi “jembatan” yang menghubungkan pemberdayaan maupun kualitas kehidupan kerja dengan tingkat career plateau.

“Work satisfaction becomes anchor or intervening variable. It works between empowerment and career plateau, and between quality of work life and care er plateau.” —Dr. drg. Bambang Priyono, S.U.dkk., ICOBAME 2018

Artinya, pemberdayaan yang kuat tidak serta-merta menekan career plateau secara langsung. Ia harus terlebih dahulu menciptakan kepuasan kerja, yang kemudian berperan meredam rasa stagnan dalam karier. Pola yang sama berlaku untuk kualitas kehidupan kerja. Nilai indirect effect untuk jalur kualitas kehidupan kerja ke career plateau melalui kepuasan kerja tercatat -0,3920, sementara untuk jalur pemberdayaan tercatat -0,2788. Keduanya signifikan secara statistik.

Implikasi bagi Pengelola Sumber Daya Manusia

Secara praktis, temuan ini memberi pesan yang jelas bagi manajer dan pengelola sumber daya manusia: investasi pada program pemberdayaan saja tidak cukup jika tidak diiringi dengan perbaikan menyeluruh pada kondisi dan pengalaman kerja karyawan.

Ketika karyawan merasa bahwa keahlian mereka masih dibutuhkan, bahwa organisasi peduli pada kesejahteraan mereka, dan bahwa pekerjaan mereka bermakna, rasa stagnan itu perlahan memudar. Sebaliknya, ketika kualitas kehidupan kerja diabaikan, bahkan program pemberdayaan yang paling ambisius pun bisa kehilangan efektivitasnya.

Penelitian ini juga membuka agenda riset yang lebih luas. Para peneliti menyarankan agar studi lanjutan mengeksplorasi variabel lain seperti gaya kepemimpinan, karakteristik pekerjaan, dan motivasi sebagai prediktor, dengan tetap menempatkan kepuasan kerja sebagai variabel perantara menuju career plateau.

Pada akhirnya, angka 43,86 persen karyawan yang mandek kariernya bukan sekadar statistik. Ia adalah cermin dari bagaimana sebuah organisasi memperlakukan orang-orang yang bekerja di dalamnya setiap hari.

Penulis: drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes, Hazra Alifia Muharam

Foto: Pexels

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
21 Juli 2026

Nanokitosan Lawan Bakteri Tersembunyi di Balik Kawat Gigi

21 Juli 2026

REVOLUSI HIJAU DI KURSI GIGI: KETIKA SENYUMAN SEHAT TAK LAGI KORBANKAN BUMI

21 Juli 2026

Model Bisnis Berkelanjutan untuk Konversi Motor Listrik: Penelitian Bambang Priyono Ungkap Tiga Kunci Utama

id_ID