Berita

/

Artikel, Berita Terbaru

Ketika Hormon Berbicara Lewat Air Liur: Estrogen dan Keratinisasi Mukosa Mulut

Dua tetes air liur, sebuah usapan kuas kecil pada langit-langit mulut, dan serangkaian reaksi biokimia di laboratorium. Dari prosedur sederhana itulah peneliti Departemen Biologi Oral Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada menemukan sesuatu yang cukup mengejutkan: kadar estrogen dalam saliva ternyata berkorelasi kuat dengan jumlah sel epitel oral yang mengekspresikan sitokeratin 5, protein struktural kunci yang terlibat dalam keratinisasi mukosa mulut.

Penelitian yang diterbitkan di jurnal F1000Research pada Maret 2020 ini dipimpin oleh Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., PBO. beserta kolega dari FKG UGM dan AIMST University, Malaysia. Mereka melibatkan 30 perempuan yang dibagi ke dalam tiga kelompok usia: anak-anak (8-10 tahun), dewasa (20-30 tahun), dan lansia (di atas 60 tahun), masing-masing sepuluh orang.

Puncak di Usia Dewasa, Turun Saat Menua

Saliva dikumpulkan tanpa stimulasi pada sore hari, lalu dianalisis menggunakan metode ELISA untuk mengukur kadar estradiol. Sementara itu, sel epitel mukosa palatum keras diambil menggunakan sitobrush, diwarnai secara imunohistokimia, dan dihitung jumlah sel yang positif mengekspresikan sitokeratin 5.

Hasilnya jelas. Kelompok dewasa mencatat kadar estrogen saliva dan jumlah sel sitokeratin 5-positif tertinggi. Angka itu turun pada kelompok lansia, dan paling rendah pada anak-anak. Uji korelasi Pearson menunjukkan hubungan yang kuat antara kedua variabel tersebut, dengan nilai r = 0,815. Perbedaan antarkelompok usia pun signifikan secara statistik (p < 0,05).

Temuan ini masuk akal secara fisiologis. Pada anak-anak, gonadotropin hampir tidak disekresikan sehingga ovarium belum aktif. Memasuki usia dewasa, kadar estrogen meningkat tajam mengikuti siklus menstruasi. Namun seiring penuaan, produksi estrogen menurun drastis. Estrogen sendiri diketahui mampu menstimulasi proliferasi sel epitel basal dan diferensiasi epitelium, yang pada akhirnya mendorong keratinisasi.

Saliva sebagai Cermin Kondisi Oral

Yang menarik dari penelitian ini bukan sekadar korelasinya, melainkan implikasinya. Sitokeratin 5, bersama sitokeratin 14, berperan menjaga proliferasi dan diferensiasi sel pada lapisan basal epitel berlapis. Artinya, ketika estrogen tinggi pada perempuan dewasa, mekanisme pembaruan sel epitel mulut pun berjalan lebih aktif.

Lebih jauh, pengukuran estrogen lewat saliva membuka jendela diagnostik yang non-invasif. Kondisi hormonal seseorang bisa terbaca dari cairan mulut, tanpa perlu pengambilan darah. Ini relevan untuk memahami berbagai kondisi klinis rongga mulut yang dipengaruhi fluktuasi hormon.

Pertanyaan tentang mekanisme molekuler yang menghubungkan estrogen dengan siklus sel epitel oral masih terbuka lebar. Namun satu hal sudah jelas: mukosa mulut bukan sekadar lapisan pasif. Ia merespons, mencatat, dan mencerminkan dinamika hormonal yang terjadi jauh di dalam tubuh.

Sumber DOI:

Penulis: Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto: ChatGPT

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
2 Juli 2026

Ketika Rahang Patah, Tulang Mana yang Lebih Cepat Pulih?

2 Juli 2026

Temu Putih Melawan Radang: Bukti dari Laboratorium FKG UGM

2 Juli 2026

Minyak Temu Putih Turunkan Gula Darah Sekaligus Atasi Gingivitis pada Tikus Hiperglikemia

id_ID