Bayangkan sebuah temuan yang mengubah cara kita memandang penyakit sendi: antibodi penanda artritis reumatoid ternyata bisa ditemukan di cairan celah gusi — bahkan pada orang yang tidak pernah terdiagnosis artritis sama sekali. Penelitian yang melibatkan drg. Poerwati Soetji Rahajoe, Sp.BM. dari Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial RSUP Dr. Sardjito, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, membuka jendela baru tentang hubungan mendasar antara rongga mulut dan penyakit autoimun sistemik.
Temuan ini dipublikasikan dalam Annals of the Rheumatic Diseases sebagai bagian dari abstrak konferensi EULAR 2018, dengan tim peneliti lintas disiplin dari University Medical Center Groningen, Belanda, dan RSUP Dr. Sardjito.
Cairan Gusi Sebagai Jendela Imunologi
Gingival crevicular fluid (GCF), atau cairan krevikular gingiva, adalah eksudat inflamasi yang mengisi celah antara gigi dan jaringan gusi. Selama ini, GCF lebih dikenal sebagai penanda lokal peradangan periodontal. Namun penelitian ini mendorong fungsinya jauh lebih jauh: GCF ternyata menyimpan informasi imunologis yang relevan untuk penyakit di luar rongga mulut.
Tim peneliti, yang terdiri dari M.J. de Smit, drg. Poerwati Soetji Rahajoe, Sp.BM., G.J. Schuurmans, E. Eelsing, N. Kertia, A. Vissink, dan J. Westra, merekrut dua kelompok subjek di Yogyakarta. Kelompok pertama adalah 72 pasien artritis reumatoid (RA) yang memenuhi kriteria klasifikasi ACR/EULAR 2010, direkrut dari Departemen Reumatologi RSUP Dr. Sardjito. Kelompok kedua adalah 151 pasien non-RA yang direkrut dari Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial rumah sakit yang sama. Pasien dengan diabetes atau penyakit kardiovaskular dikeluarkan dari studi.
Yang diukur bukan sembarang penanda. Penelitian ini berfokus pada IgA RF (rheumatoid factor) dan IgA ACPA (anti-citrullinated protein antibodies) — dua autoantibodi khas RA — baik di serum darah maupun langsung di GCF. Isotype IgA dipilih secara spesifik karena ia merupakan imunoglobulin yang khas bekerja di permukaan mukosa, termasuk rongga mulut.
Periodontitis dan Pembentukan Autoantibodi Lokal
Hasilnya mengejutkan. Pada pasien non-RA, tingkat keparahan periodontitis — diukur menggunakan periodontal inflamed surface area (PISA) dengan ambang batas lebih dari 130 mm² — berkorelasi signifikan dengan total IgG dan IgA di dalam GCF (p<0,0001). Lebih jauh, IgA RF dan IgA ACPA terdeteksi di GCF pasien non-RA dan berkorelasi dengan total IgA di GCF.
Yang membuat temuan ini menonjol: pada pasien non-RA, keberadaan IgA ACPA di GCF tidak berkorelasi dengan kadar IgA ACPA di serum. Ini berbeda dari pola yang ditemukan pada pasien RA, di mana kebocoran dari serum ke jaringan lokal menjadi penjelasan yang lebih logis.
Artinya, pada individu tanpa RA, autoantibodi ini tampaknya terbentuk secara lokal di jaringan periodontal yang meradang — bukan berasal dari sirkulasi sistemik. Faktor risiko turut memperkuat argumen ini: IgA ACPA positif di GCF lebih sering ditemukan pada perokok (18%) dibanding bukan perokok (9,8%), dan lebih sering pada pasien dengan periodontitis (18%) dibanding tanpa periodontitis (9,3%).
“RA-associated autoantibodies are present in GCF of patients with and without RA. In contrast to RA patients, in whom this presence is probably due to leakage from serum, presence of RA-associated autoantibodies in GCF of patients without RA is presumably the result of local formation of these autoantibodies due to periodontitis.”
Kalimat itu adalah kesimpulan resmi para peneliti — dan implikasinya tidak kecil.
Dari Gusi ke Sendi: Sebuah Hipotesis yang Menguat
Selama bertahun-tahun, periodontitis dan RA dipandang sebagai dua penyakit yang kebetulan sering berdampingan. Keduanya melibatkan peradangan kronis, keduanya lebih sering menyerang perempuan paruh baya, dan keduanya berhubungan dengan merokok. Namun mekanisme biologis yang menghubungkan keduanya masih diperdebatkan.
Penelitian ini menawarkan satu jawaban yang konkret: jaringan periodontal yang meradang bisa menjadi lokasi produksi autoantibodi khas RA. Protein yang mengalami sitrullinasi — modifikasi pasca-translasi yang menjadi target ACPA — memang sudah diketahui ada di periodontium yang meradang. Apa yang belum terbukti secara luas sebelumnya adalah bahwa sistem imun lokal di gusi benar-benar merespons protein tersebut dengan memproduksi antibodi spesifik, bahkan sebelum RA berkembang secara klinis.
Kontribusi drg. Poerwati Soetji Rahajoe, Sp.BM. dalam penelitian ini bukan sekadar administratif. Sebagai spesialis bedah mulut yang berbasis di Yogyakarta, beliau menjadi penghubung kritis antara populasi pasien lokal dengan pertanyaan ilmiah yang diajukan tim Groningen. Rekrutmen pasien non-RA dari klinik bedah mulut RSUP Dr. Sardjito — yang menjadi kelompok pembanding utama — merupakan bagian esensial dari desain studi ini.
Mulut Sebagai Titik Awal, Bukan Sekadar Cerminan
Studi ini tidak membuktikan bahwa periodontitis menyebabkan RA. Namun ia memperkuat hipotesis bahwa rongga mulut bisa menjadi lokasi inisiasi autoimunitas — tempat di mana proses yang nantinya menghancurkan sendi mungkin sudah dimulai jauh sebelum gejala pertama muncul.
Bagi klinisi gigi, temuan ini membawa pesan yang diam-diam mendesak: merawat periodontitis bukan hanya soal menyelamatkan gigi. Mungkin, pada beberapa pasien, itu juga soal mencegah sesuatu yang jauh lebih besar berkembang di dalam tubuh mereka.
Sumber DOI : 10.1136/annrheumdis-2018-eular.6197
Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Pexels