Setiap kali seorang pasien menjalani foto panoramik di klinik gigi, radiasi sinar-X yang melintas sekitar kepala tidak hanya merekam gambar gigi dan tulang rahang. Ia juga meninggalkan respons biologis yang terukur: cairan sulkus gingiva, atau gingival crevicular fluid (GCF), meningkat volumenya dalam hitungan menit setelah paparan. Fenomena kecil ini menjadi titik tolak penelitian yang dilakukan tim dari Departemen Radiologi Dentomaksilofasial FKG UGM.
Penelitian yang dipublikasikan di Majalah Kedokteran Gigi Indonesia pada Desember 2019 itu menguji apakah patch gingiva mukoadesif berbahan β-karoten mampu meredam respons biologis tersebut.
Pelindung yang Menempel di Langit-Langit Mulut
Patch yang diuji bukan produk sembarangan. Dibuat dari campuran HPMC E-15, CMC Na, β-karoten, propilen glikol, dan akuades, patch berukuran 5×15 mm ini dirancang menempel pada mukosa palatal gigi insisivus maksila. Cara kerjanya bertumpu pada sifat antioksidan dan antiinflamasi β-karoten: memutus rantai reaksi oksidasi dan meredam singlet oksigen yang terbentuk akibat ionisasi radiasi.
Sepuluh subjek berusia 18–25 tahun dilibatkan dalam studi quasi-experimental ini. Pada setiap subjek, gusi di sisi kanan (gigi 11 dan 12) mendapat perlakuan patch, sementara sisi kiri (gigi 21 dan 22) dibiarkan sebagai kontrol. Sampel GCF diambil dari sulkus gingiva labial menggunakan kertas absorbent, ditetesi ninhydrin 2%, lalu diukur dengan kaliper geser.
Hasilnya: kedua kelompok mengalami peningkatan GCF yang signifikan secara statistik setelah paparan panoramik. Kelompok kontrol naik dari rata-rata 0,235 μl menjadi 0,321 μl, sementara kelompok perlakuan naik dari 0,241 μl menjadi 0,289 μl. Selisihnya ada, namun uji independent t-test menyatakan perbedaan antara kedua kelompok tidak bermakna secara statistik (p>0,05).
Ketika Lokasi Jadi Penentu
Mengapa patch tidak bekerja cukup kuat? Tim peneliti menawarkan dua penjelasan yang saling melengkapi.
Pertama, soal anatomi. Patch ditempel di gingiva palatal, sementara pengambilan GCF dilakukan di sulkus labial. Kedua area itu memiliki suplai darah yang berbeda: gingiva labial diperdarahi arteri alveolar anterior superior, sedangkan palatal diperdarahi arteri nasopalatina. Perlindungan β-karoten kemungkinan hanya efektif di area tempat ia diserap, bukan di sisi seberangnya.
Kedua, soal dosis. Konsentrasi β-karoten yang berhasil diantarkan ke mukosa hanya sekitar 3,6–4,2 μg per subjek, angka yang kecil karena kelarutan β-karoten dalam alkohol memang rendah. Dosis yang tidak sebanding dengan tekanan oksidatif akibat radiasi membuat antioksidan ini kewalahan sebelum sempat bekerja penuh.
Temuan ini bukan kegagalan, melainkan peta masalah yang lebih jelas. Patch dengan area lebih luas atau formulasi yang meningkatkan kelarutan β-karoten menjadi langkah logis berikutnya, sebelum kita benar-benar bisa menitipkan perlindungan jaringan pada selembar patch di langit-langit mulut pasien.
Sumber DOI : https://doi.org/10.1063/1.5098429
Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : ChtGPT