Sembilan dari sepuluh pasien diabetes tipe 2 yang diperiksa di Yogyakarta ternyata membawa koloni jamur Candida di rongga mulut mereka. Tidak semua menunjukkan gejala, tidak semua merasa sakit, tapi jamur itu ada. Temuan ini muncul dari riset yang dipimpin Prof. Dr. drg. Dewi Agustina, MDSc, dari Departemen Ilmu Penyakit Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, yang dipublikasikan dalam Majalah Kedokteran Gigi Indonesia edisi April 2023.
Pertanyaannya bukan lagi apakah penderita diabetes rentan terhadap infeksi jamur mulut. Pertanyaannya kini: spesies apa yang mendominasi, siapa yang paling berisiko, dan apakah kadar gula darah benar-benar jadi penentu utama?
Apa yang Ditemukan di Balik Oral Rinse 100 Pasien
Penelitian ini melibatkan 100 pasien diabetes tipe 2 berusia 45 hingga 89 tahun dari tiga fasilitas kesehatan di Yogyakarta: Klinik Qta Minomartani Sleman, RSUD Wirosaban, dan Puskesmas Mantrijeron. Para peserta diminta berkumur dengan larutan salin steril selama 15 detik. Cairan kumur itu lalu disentrifugasi, kemudian dikultur menggunakan media CHROMagar Candida untuk mengidentifikasi spesies jamur yang hidup di mulut mereka.
Hasilnya: 89 dari 100 pasien positif membawa koloni Candida. Spesies yang paling sering ditemukan adalah Candida albicans, dengan rerata koloni 349,96, disusul C. glabrata (225,97), C. krusei (144,91), C. tropicalis (3,67), dan spesies lain (2,02).
Yang menarik, pola spesies berubah tergantung kondisi gula darah. Pada pasien dengan diabetes terkontrol, C. albicans mendominasi. Sementara pada pasien dengan diabetes tidak terkontrol, C. glabrata justru lebih banyak ditemukan. Ini bukan sekadar perbedaan angka. C. glabrata dikenal lebih agresif, menghasilkan biofilm lebih tebal, dan lebih sulit ditangani dengan obat antijamur standar.
Perempuan, Lansia, dan Risiko yang Tidak Bisa Diabaikan
Ada dua temuan yang secara statistik terbukti signifikan, dan keduanya berkaitan dengan siapa penderitanya, bukan seberapa parah diabetesnya.
Pertama, pasien perempuan memiliki rerata koloni Candida jauh lebih tinggi (859,51) dibanding pasien laki-laki (299,21), dengan nilai p = 0,009. Perbedaan ini diyakini berkaitan dengan hormon estrogen, yang diketahui meningkatkan virulensi C. albicans sekaligus memperbesar produksi glikogen pada mukosa, nutrisi yang dibutuhkan jamur untuk tumbuh.
Kedua, kelompok geriatri (83 dari 100 subjek) mencatat rerata koloni lebih tinggi (761,77) dibanding kelompok non-geriatri (545,71), meski perbedaan ini secara statistik belum mencapai signifikansi (p = 0,060). Penurunan imunitas seiring usia, polifarmasi, dan kondisi kesehatan gigi yang cenderung memburuk menjadi faktor yang menjelaskan kecenderungan ini.
“Penentuan rencana perawatan untuk pasien diabetes dengan kandidiasis oral bervariasi, tergantung pada etiologi, faktor risiko, dan sifat spesies dominan pada setiap pasien.” — Prof. Dr. drg. Dewi Agustina, MDSc, dan tim peneliti, Majalah Kedokteran Gigi Indonesia, 2023
Mengapa Kadar Gula Darah Bukan Satu-satunya Penentu
Salah satu hal yang membuat penelitian ini layak diperhatikan adalah temuan yang justru tidak sesuai dengan asumsi umum. Secara statistik, tidak ada perbedaan signifikan jumlah koloni Candida antara pasien dengan diabetes terkontrol dan tidak terkontrol (p = 0,175).
Ini mengisyaratkan bahwa kontrol gula darah saja tidak cukup untuk mencegah pertumbuhan jamur di rongga mulut. Faktor lain, seperti kebersihan mulut, penggunaan gigi tiruan, kondisi saliva, kebiasaan merokok, hingga keseimbangan mikrobioma oral, kemungkinan berperan lebih besar dari yang selama ini diperkirakan. Sayangnya, variabel-variabel ini belum sepenuhnya dieksplorasi dalam penelitian ini, dan para peneliti sendiri menyebutnya sebagai agenda riset lanjutan yang mendesak.
Implikasi untuk Penanganan Klinis dan Layanan Kesehatan
Temuan ini bukan sekadar data laboratorium. Bagi klinisi, mengetahui spesies Candida yang dominan pada populasi tertentu adalah kunci pemilihan terapi antijamur yang tepat. Setiap spesies memiliki profil resistansi yang berbeda; dosis yang efektif untuk satu spesies bisa tidak memadai untuk spesies lain. C. glabrata, misalnya, yang lebih sering muncul pada pasien tidak terkontrol, membutuhkan pendekatan pengobatan yang berbeda dari C. albicans.
Lebih dari itu, penelitian ini memberi sinyal kepada tenaga kesehatan gigi bahwa pemeriksaan kondisi mulut pasien diabetes tidak bisa berhenti pada gigi dan gusi. Rongga mulut menyimpan ekosistem yang kompleks, dan pada penderita diabetes, ekosistem itu bisa bergeser menjadi ancaman kesehatan yang nyata, bahkan sebelum gejalanya terlihat.
Yogyakarta, dengan proporsi penduduk lansia tertinggi di Indonesia, menjadi konteks yang tidak bisa lebih relevan untuk penelitian semacam ini. Angka 89% prevalensi Candida pada pasien CDM di sini bukan hanya angka, melainkan cermin dari beban kesehatan yang diam-diam berkembang di balik kondisi kronis yang sudah cukup berat untuk ditanggung.
Sumber DOI : DOI: http://doi.org/10.22146/majkedgiind.76176
Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Freepik