Berita

/

Artikel, Berita Terbaru

Gusi Bermasalah, Metabolisme Ikut Terganggu: Temuan Peneliti UGM pada Lansia Yogyakarta

Dua puluh tiga persen. Angka itu mungkin terlihat kecil, tapi di baliknya tersimpan sebuah pertanyaan yang selama ini jarang ditanyakan oleh dokter maupun pasien: apakah kondisi gusi yang rusak bisa menjadi cermin dari kekacauan metabolisme dalam tubuh?

Itulah yang mendorong drg. Elastria Widita, MSc, PhD, peneliti dari Departemen Ilmu Penyakit Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, bersama timnya untuk turun langsung ke lima pos kesehatan lansia (Posyandu Lansia) di Daerah Istimewa Yogyakarta. Mereka merekrut 122 lansia berusia 60 tahun ke atas, memeriksa rongga mulut mereka secara menyeluruh, mengambil sampel darah puasa, mengukur tekanan darah, dan menelusuri riwayat kesehatan masing-masing. Hasilnya dipublikasikan dalam Journal of Korean Society of Dental Hygiene edisi 2026.

Mulut sebagai Jendela Tubuh yang Sering Diabaikan

Penelitian ini bukan sembarang survei. Tim peneliti melakukan pemeriksaan periodontal menyeluruh pada enam titik di setiap gigi, mengukur dua parameter klinis utama: kedalaman poket probing (probing pocket depth/PPD) dan tingkat perlekatan klinis (clinical attachment level/CAL). Dua ukuran ini mencerminkan seberapa parah jaringan pendukung gigi telah rusak akibat infeksi periodontal.

Di sisi lain, sindrom metabolik, atau yang dikenal sebagai MetS, didiagnosis bila seseorang memiliki tiga atau lebih gangguan metabolisme sekaligus: lingkar pinggang berlebih, tekanan darah tinggi, kadar gula darah tinggi, trigliserida tinggi, dan kolesterol HDL rendah. Kondisi ini bukan hanya soal penampilan fisik; MetS adalah pintu masuk menuju penyakit kardiovaskular, stroke, dan diabetes tipe 2.

Dari 122 peserta yang diperiksa, 28 orang (23%) memenuhi kriteria MetS. Mereka yang mengidap MetS ternyata memiliki jumlah situs dengan PPD ≥ 4 mm dan CAL ≥ 9 mm yang jauh lebih banyak dibanding mereka yang tidak mengidap MetS, perbedaan yang secara statistik bermakna (masing-masing p=0,031 dan p=0,034).

Angka yang Bicara Lebih Keras dari Gejala

Analisis regresi logistik yang dilakukan tim peneliti menghasilkan temuan yang sulit diabaikan. Setelah mengontrol berbagai faktor perancu seperti jenis kelamin, kebiasaan merokok, aktivitas fisik, frekuensi menyikat gigi, hingga kadar protein inflamasi dalam darah, hubungan antara penyakit periodontal dan MetS tetap signifikan.

Setiap penambahan satu situs dengan PPD ≥ 4 mm meningkatkan peluang seseorang mengidap MetS sebesar 4% (OR=1,04; 95% CI: 1,01–1,07). Angka ini terlihat kecil, tapi dalam konteks rongga mulut yang memiliki ratusan situs pemeriksaan, akumulasinya menjadi signifikan secara klinis.

Yang lebih mencolok adalah temuan pada CAL. Setiap penambahan satu situs dengan CAL ≥ 9 mm meningkatkan peluang MetS hingga 19% (OR=1,19; 95% CI: 1,06–1,32). CAL ≥ 9 mm menggambarkan kehilangan perlekatan jaringan periodontal yang berat dan kumulatif, bukan sekadar peradangan lokal yang bersifat sementara.

“Temuan ini menambah bukti bahwa penyakit periodontal berkaitan dengan kesehatan metabolik pada populasi lansia. Studi longitudinal dengan populasi yang lebih besar dan beragam diperlukan untuk memperjelas hubungan temporal dan jalur kausal antara penyakit periodontal dan sindrom metabolik.”

Mekanisme biologis yang mungkin mendasari hubungan ini melibatkan jalur inflamasi bersama. Bakteri gram-negatif penyebab periodontitis, seperti P. gingivalis dan T. forsythia, memicu pelepasan sitokin pro-inflamasi seperti IL-1β dan TNF-α. Mediator inflamasi yang sama juga ditemukan meningkat pada pasien MetS. Stres oksidatif pun diduga berperan sebagai penghubung antara keduanya, merusak jaringan periodontal sekaligus memperburuk profil lipid dan resistensi insulin.

Yogyakarta yang Menua, dan Apa yang Harus Dilakukan

Konteks demografis penelitian ini tidak bisa diabaikan. Yogyakarta memiliki angka harapan hidup tertinggi di Indonesia dan diproyeksikan menjadi salah satu provinsi dengan proporsi penduduk lansia terbesar, lebih dari 10% berusia di atas 65 tahun pada 2035. Semakin banyak lansia berarti semakin besar beban penyakit kronis, termasuk MetS dan penyakit periodontal yang keduanya cenderung meningkat seiring usia.

Penelitian ini memang memiliki keterbatasan yang diakui sendiri oleh para penelitinya: desain potong lintang tidak bisa membuktikan hubungan sebab-akibat, dan sampel yang direkrut melalui Posyandu Lansia mungkin cenderung lebih sehat dari rata-rata populasi lansia secara umum. Namun sebagai studi berbasis komunitas pertama yang mengkaji hubungan ini secara spesifik pada lansia Indonesia, kontribusinya tetap bermakna.

Yang paling mendesak dari temuan ini bukan sekadar angka statistiknya. Pesannya lebih sederhana dari itu: kondisi mulut lansia bukan urusan estetika atau kenyamanan semata. Ia adalah bagian dari gambaran kesehatan yang lebih besar, dan mengabaikannya bisa berarti melewatkan sinyal peringatan dini yang sesungguhnya sudah tertulis di jaringan gusi.

Pemeriksaan gigi rutin, selama ini sering dianggap sekunder dibanding kontrol tekanan darah atau gula darah, mungkin perlu mendapat tempat yang lebih serius dalam agenda kesehatan lansia Indonesia.

Sumber DOI : https://doi.org/10.14693/jdi.v24i3.1056

Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Freepik

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
29 Juli 2026

FKG UGM Menerima Kunjungan SMA Negeri 1 Kota Bima

28 Juli 2026

Kuliah Pakar Prof. Dr. drg. Setyo Harnowo, Sp.B.M.Mf., Subsp. Ortognat-D., FICD., FICCDE bersama Prodi Bedah Mulut & Maksilofasial FKG UGM

27 Juli 2026

FKG UGM Pacu Akselerasi Budaya Mutu Akademik Melalui Sistem AMI 2026

id_ID