Berita

/

Artikel, Berita Terbaru

Gosok Gigi Pun Bisa Dipelajari: Bukti dari Tiga Anak Istimewa di Yogyakarta

Selama enam minggu, tiga anak dengan disabilitas intelektual sedang di SLB Negeri Pembina Yogyakarta menjalani pelatihan menggosok gigi yang dirancang khusus sesuai kebutuhan masing-masing. Penelitian yang dipublikasikan dalam Majalah Kedokteran Gigi Indonesia edisi Agustus 2016 ini digagas oleh Leny Pratiwi Arie Sandy, S.Kp.G., MDSc. bersama tim dari Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Pencegahan dan Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat FKG UGM. Hasilnya: skor plak ketiga anak itu turun, membuktikan bahwa dengan pendekatan yang tepat, anak dengan keterbatasan intelektual pun bisa diajarkan menjaga kebersihan giginya sendiri.

Mengapa Anak dengan Disabilitas Intelektual Lebih Rentan Masalah Gigi?

Anak dengan disabilitas intelektual (DI) bukan hanya menghadapi tantangan belajar di kelas. Mereka juga kesulitan melakukan hal-hal yang tampak sederhana bagi kebanyakan orang, termasuk menggosok gigi. Keterbatasan motorik halus, otot tangan yang kurang terlatih, dan kemampuan adaptasi yang rendah membuat kegiatan ini jauh lebih sulit dari yang dibayangkan.

Akibatnya, kelompok anak DI memiliki kebutuhan perawatan gigi dan mulut yang lebih tinggi dibanding anak pada umumnya. Plak gigi yang menumpuk menjadi biang keladi penyakit periodontal, yaitu peradangan pada jaringan penyangga gigi. Plak sendiri adalah lapisan tipis berwarna kekuningan yang terbentuk dari akumulasi bakteri dan menempel erat pada permukaan gigi. Bila dibiarkan, bakteri dalam plak dapat merusak jaringan gusi hingga tulang penyangga gigi.

Data Badan Pusat Statistik tahun 2003 mencatat sekitar 1,48 juta anak berkebutuhan khusus di Indonesia. Angka ini kemudian melonjak dalam survei Departemen Sosial tahun 2007, yang memperkirakan populasinya mencapai 3,11 persen dari total penduduk. Kelompok yang besar ini kerap luput dari perhatian dalam program kesehatan gigi konvensional.

Bukan Pelatihan Biasa: Satu Program untuk Satu Anak

Inilah yang membedakan penelitian ini dari program penyuluhan gigi pada umumnya. Alih-alih menggunakan metode seragam untuk semua peserta, peneliti menerapkan Program Pembelajaran Individual (PPI), sebuah pendekatan yang merancang metode belajar berdasarkan kondisi, kemampuan, dan motivasi masing-masing anak.

Prosesnya melibatkan tim kecil yang terdiri dari orang tua, guru, dan peneliti. Mereka terlebih dahulu menilai kebutuhan dasar setiap anak, menetapkan tujuan jangka pendek dan panjang, lalu merancang cara pelatihan yang paling sesuai. Evaluasi dilakukan setiap minggu selama enam minggu, mengukur status kebersihan gigi dan mulut menggunakan indeks PHP-M (Patient Hygiene Performance-Modified) dari Martens dan Meskin.

Ketiga responden memiliki karakter yang sangat berbeda. R1, seorang anak dengan IQ 48, cenderung pendiam dan sulit beradaptasi dengan orang baru, namun memiliki motorik halus yang baik. R2 berIQ 65, lebih komunikatif, tetapi motorik halusnya masih kaku dan koordinasi tangan kanan-kiri belum stabil. Sementara R3 berIQ 61, sangat aktif dan mudah bersosialisasi, namun justru sulit fokus saat menggosok gigi.

“Pelatihan cara menggosok gigi menggunakan pendekatan Program Pembelajaran Individual (PPI) berpengaruh meningkatkan status kebersihan gigi dan mulut pada anak disabilitas intelektual sedang, hal ini ditunjukkan dengan adanya penurunan skor plak.”

Penurunan Plak Ada, Tapi Tantangan Tetap Nyata

Setelah enam minggu pelatihan, rata-rata penurunan skor plak ketiga anak mencapai angka 7 poin per minggu. R1 dan R2 berhasil mencapai kategori kebersihan mulut “sedang”, sementara R3 masih berada di kategori “buruk” meski tetap menunjukkan perbaikan dari kondisi awal.

Permukaan gigi yang paling sulit dibersihkan adalah sisi lingual (bagian dalam yang menghadap lidah), palatal (bagian dalam rahang atas), dan bukal (bagian yang menghadap pipi). Ketiga anak cenderung lebih mudah membersihkan permukaan oklusal (permukaan kunyah) dan labial (bagian depan yang menghadap bibir).

Peneliti mencatat sejumlah faktor yang memengaruhi hasil ini. Tekanan sikat yang kurang kuat, frekuensi gosok di tiap permukaan yang belum cukup, hingga kebiasaan melewatkan beberapa sisi gigi menjadi hambatan utama. Pada R3, meski kemampuan motoriknya baik, sifatnya yang mudah tidak fokus justru menjadi kendala tersendiri.

Temuan ini menegaskan bahwa kemampuan motorik halus bukan satu-satunya penentu keberhasilan menggosok gigi pada anak DI. Fokus dan konsistensi selama proses juga memegang peran penting, dan kedua hal itu pun bisa dilatih secara bertahap.

Ketika Orang Tua Ikut Jadi Tim Pelatih

Yang menarik dari penelitian ini adalah pelibatan orang tua sebagai bagian dari tim PPI. Mereka bukan sekadar pengantar anak ke sekolah, melainkan mitra aktif dalam proses pelatihan. Pendekatan ini penting karena kebiasaan menggosok gigi tidak cukup dilatih sekali seminggu di sekolah; ia perlu dipraktikkan setiap hari di rumah.

Bagi anak dengan disabilitas intelektual, pengulangan yang konsisten dalam lingkungan yang familiar adalah kunci. Keterlibatan orang tua memastikan bahwa apa yang dipelajari di sekolah tidak berhenti di gerbang SLB Negeri Pembina Yogyakarta.

Penelitian ini membuka sebuah perspektif yang sering terlupakan: bahwa hak atas kesehatan gigi bukan milik eksklusif mereka yang tidak memiliki keterbatasan. Dengan metode yang cukup sabar, cukup personal, dan cukup konsisten, anak-anak istimewa ini pun bisa belajar merawat senyum mereka sendiri.

Penulis: drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes, Hazra Alifia Muharam

Foto: Pexels

Sumber DOI: http://dx.doi.org/10.22146/majkedgiind.10742

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
23 Juli 2026

Sisi Gelap Kalsium Hidroksida dalam Perawatan Gigi

23 Juli 2026

Rongga Mulut yang Tumbuh Perlahan: Studi Anak Down Syndrome di Yogyakarta

23 Juli 2026

Terlalu Sering Diberi Susu Botol di Malam Hari, Balita Berisiko Gigi Berlubang 3,6 Kali Lebih Tinggi

id_ID