Berita

/

Artikel, Berita Terbaru, SDG 10, SDG 17, SDG 3, SDG 4, SDG 5, SDG 9

Gigi Tonggos, Bibir Tebal, dan Sudut Wajah yang Menyempit: Temuan dari Klinik Anak RSGM UGM

Bayangkan seorang anak usia sembilan tahun duduk di kursi perawatan, gigi insisivus atasnya menonjol ke depan. Secara klinis, kondisi itu disebut proklinasi. Secara psikologis, dampaknya bisa jauh lebih dalam: kepercayaan diri yang terkikis, ejekan dari teman sebaya, keengganan tersenyum. Namun ada satu hal yang selama ini kurang diperhatikan: bagaimana gigi yang maju itu, bersama bibir yang menyelimutinya, secara diam-diam mengubah geometri wajah bagian bawah.

Sebuah penelitian dari Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada menjawab pertanyaan itu dengan data konkret. Dipublikasikan dalam Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran edisi Agustus 2025, studi ini menganalisis hubungan antara inklinasi gigi insisivus rahang atas dan ketebalan bibir atas terhadap sudut nasolabial pada anak usia 8–11 tahun dengan maloklusi Angle Kelas I.

Sudut Kecil yang Menyimpan Cerita Besar

Sudut nasolabial adalah sudut yang terbentuk di antara kolumela hidung dan bibir atas, tepat di titik subnasale. Nilainya mencerminkan harmoni sepertiga wajah bagian bawah. Dalam estetika wajah, sudut ini bukan sekadar angka: ia adalah cermin dari posisi gigi, ketebalan jaringan lunak, dan pertumbuhan hidung yang terus berubah selama masa kanak-kanak.

Penelitian ini melibatkan 37 sefalogram lateral dari pasien anak di RSGM UGM Prof. Soedomo, terdiri dari 21 anak laki-laki dan 16 perempuan, semua berusia 8–11 tahun dengan maloklusi Angle Kelas I modifikasi Dewey Tipe 2, yakni kondisi di mana gigi insisivus rahang atas mengalami proklinasi. Data dikumpulkan dari arsip klinik preventif dan interseptif ortodontik tahun 2018–2024, kemudian dilakukan tracing sefalometri secara manual menggunakan CorelDraw X8.

Tim peneliti yang terdiri dari Fadlilah Nur Rohmah, drg. Sri Kuswandari, Sp.KGA, dan Prof. Dr. drg. Al. Supartinah, Sp.KGA mengukur empat variabel utama: inklinasi gigi insisivus terhadap bidang SN, ketebalan bibir atas dari titik prosthion, sudut nasolabial total, dan sudut nasolabial komponen bawah. Pemilihan sudut nasolabial komponen bawah sebagai variabel terpengaruh utama bukan tanpa alasan.

“Sudut nasolabial komponen bawah tidak dipengaruhi kemiringan basal hidung yang bervariasi pada setiap individu, sehingga pengukuran menjadi lebih objektif.”

Ini penting, karena pada anak yang sedang tumbuh, hidung pun ikut berkembang dan kemiringan basalnya berubah dari tahun ke tahun. Menggunakan sudut nasolabial total sebagai satu-satunya patokan berisiko menghasilkan interpretasi yang menyesatkan.

Dua Variabel, Satu Kesimpulan yang Konsisten

Hasil analisis korelasi Pearson menunjukkan temuan yang tegas. Inklinasi gigi insisivus rahang atas memiliki korelasi negatif sedang dengan sudut nasolabial komponen bawah (r = -0,42; p < 0,05). Ketebalan bibir atas menunjukkan korelasi negatif yang lebih kuat (r = -0,53; p < 0,05). Artinya: semakin besar proklinasi gigi dan semakin tebal bibir, sudut nasolabial komponen bawah semakin menyempit.

Sebaliknya, baik inklinasi gigi maupun ketebalan bibir tidak menunjukkan korelasi bermakna terhadap sudut nasolabial total. Temuan ini konsisten dengan penelitian-penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa jaringan lunak wajah bersifat independen dan memiliki kapasitas adaptasi tersendiri terhadap perubahan posisi gigi di bawahnya.

Uji regresi linier berganda menghasilkan persamaan Y = 144 – 0,44X1 – 2,17X2, dengan koefisien determinasi R² = 0,345. Ketebalan bibir tampil sebagai prediktor yang lebih dominan: setiap penambahan 1 mm ketebalan bibir menurunkan sudut nasolabial komponen bawah sebesar 2,17°, sementara setiap kenaikan 1° inklinasi insisivus hanya menurunkan sudut tersebut sebesar 0,44°. Kedua variabel bersama-sama menjelaskan 34,5% variasi sudut nasolabial komponen bawah; sisanya dipengaruhi faktor lain yang belum diteliti, seperti morfologi bibir, aktivitas otot orbicularis oris, atau pola pertumbuhan kraniofasial individual.

Implikasi untuk Klinik: Merencanakan Lebih dari Sekadar Gigi

Temuan ini punya implikasi praktis yang langsung terasa di meja perawatan. Pada pasien anak dengan maloklusi Angle Kelas I tipe proklinasi, dokter gigi anak dan ortodontis tidak cukup hanya memperhatikan posisi gigi. Ketebalan bibir atas perlu diukur dan dipertimbangkan dalam analisis sefalometri, karena kontribusinya terhadap estetika wajah ternyata lebih besar dari yang selama ini diasumsikan.

Lebih dari itu, penelitian ini menegaskan pentingnya intervensi dini. Prevalensi maloklusi Angle Kelas I pada anak usia 9–11 tahun di Indonesia mencapai 57,3%, angka yang tidak kecil. Bila proklinasi dibiarkan tanpa penanganan, perubahan sudut nasolabial yang terjadi selama masa pertumbuhan bisa bersifat permanen dan semakin sulit dikoreksi.

Penelitian ini juga memberikan pesan metodologis: dalam evaluasi estetika sepertiga wajah bawah pada anak, sudut nasolabial komponen bawah adalah parameter yang lebih andal dibanding sudut nasolabial total, justru karena ia tidak “terganggu” oleh variasi kemiringan hidung yang terus berubah selama masa tumbuh kembang.

Wajah seorang anak bukan kanvas statis. Ia bergerak, tumbuh, dan dibentuk oleh banyak hal sekaligus. Gigi yang maju dan bibir yang tebal bukan hanya soal penampilan hari ini, melainkan jejak yang akan terbaca bertahun-tahun kemudian dalam sudut-sudut kecil yang sering luput dari perhatian.

Sumber DOI : http://10.24198/jkg.v37i2.60915

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
16 Juli 2026

Bibir Tak Bisa Menutup Rapat: Solusi Alat Mioungsional untuk Anak

16 Juli 2026

Permukaan Implan Gigi Pun Bisa Menjadi “Rumah” bagi Bakteri Mematikan

16 Juli 2026

Tambal Gigi Retak, Apakah Cukup Hanya Ditambal Ulang?

id_ID