Delapan dari sepuluh anak. Itulah proporsi yang ditemukan peneliti saat memeriksa cara menelan anak-anak prasekolah di enam TK Kecamatan Wates, Kabupaten Kulon Progo. Dari 96 anak yang kehilangan mahkota gigi desidui anterior atas, sebanyak 80,21 persen terbukti mengalami tongue thrusting, yakni kebiasaan mendorong lidah ke depan di antara gigi saat menelan. Angka ini kontras tajam dengan kelompok anak yang giginya masih utuh: hanya 21,88 persen yang menunjukkan pola serupa.
Hasil ini bukan sekadar statistik. Ini adalah bukti klinis pertama yang secara langsung menguji kaitan antara kehilangan mahkota gigi susu depan atas dan munculnya kebiasaan menelan yang menyimpang pada anak usia 4 hingga 6 tahun.
Ketika Gigi Susu Hilang, Lidah Mencari Jalan Sendiri
Penelitian bertajuk “Pengaruh Kehilangan Mahkota Gigi Desidui Anterior Atas terhadap Tongue Thrusting pada Anak Usia 4–6 Tahun” ini diterbitkan dalam Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, Volume 37, Nomor 3, Desember 2025. Tim peneliti terdiri dari drg. Suci Kurniawati selaku peneliti utama, drg. Putri Kusuma Wardani Mahendra, dan Dr. drg. Indra Bramanti, M.Sc., Sp.KGA(K) dari Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak FKG Universitas Gadjah Mada.
Penelitian dilakukan secara cross-sectional dari Juni hingga Agustus 2024, melibatkan 192 anak yang dipilih secara acak, masing-masing 96 dari kelompok dengan mahkota gigi anterior atas yang hilang dan 96 dari kelompok dengan gigi utuh. Pemeriksaan tongue thrusting menggunakan metode Weiss dan Van Houten: anak diminta menelan sekitar 10 ml air, lalu operator membuka bibir bawah anak sambil merasakan aktivitas otot masseter dengan jari telunjuk. Anak dinyatakan mengalami tongue thrusting apabila lidah terdorong ke depan di antara gigi insisivus atas dan bawah selama proses menelan berlangsung.
Uji chi-square mengonfirmasi perbedaan yang sangat signifikan antara kedua kelompok, dengan nilai p=0,001.
Mengapa Lidah “Mengisi” Ruang yang Kosong
Secara anatomis, mekanismenya dapat dipahami. Mahkota gigi insisivus desidui atas berfungsi sebagai seal anterior saat menelan, membantu mulut menutup rapat di bagian depan. Ketika mahkota gigi itu tidak ada, baik karena karies parah yang menyisakan akar, trauma, maupun pencabutan dini, lidah beradaptasi dengan cara mengisi celah tersebut. Pola ini menyerupai cara menelan bayi, yang secara fisiologis normal hingga usia tiga tahun namun menjadi gangguan fungsional jika menetap setelah itu.
“Kehilangan mahkota gigi desidui anterior atas dapat mengganggu fungsi gigi anterior yang berperan sebagai seal pada proses penelanan. Hal ini menyebabkan kesulitan untuk menutup bagian depan mulut saat menelan, sehingga lidah ditempatkan di antara regio anterior atas dan bawah bertemu dengan bibir membentuk pola menelan tongue thrust.”
Sistem neuromuskuler lidah, yang dikendalikan oleh nervus hipoglosus dan otot genioglossus sebagai penggerak utamanya, memiliki kemampuan adaptasi luar biasa. Sayangnya, adaptasi ini tidak selalu menguntungkan. Jika dibiarkan berlanjut, tongue thrusting dapat memicu maloklusi, proklinasi gigi insisivus maksila, open bite anterior, gangguan bicara, bahkan masalah estetis yang memengaruhi kepercayaan diri anak.
Temuan ini juga menyisakan pertanyaan menarik: mengapa 19,79 persen anak yang kehilangan mahkota giginya tidak mengalami tongue thrusting? Para peneliti menduga anak-anak ini kehilangan gigi dalam waktu singkat sebelum pemeriksaan, atau perkembangan orofasial mereka sudah cukup matang sehingga otot-otot menelan dapat beradaptasi tanpa mendorong lidah ke depan.
Pesan untuk Orang Tua dan Klinisi
Selama ini, perdebatan tentang apakah kehilangan gigi susu anterior menyebabkan tongue thrusting hanya bertumpu pada kajian teoritis dan data rekam medis sekunder, tanpa pemeriksaan klinis langsung. Penelitian dari Kulon Progo ini menutup kesenjangan itu.
Implikasinya jelas bagi dokter gigi: mempertahankan mahkota gigi desidui anterior atas bukan sekadar soal estetika atau fungsi mengunyah. Ini adalah upaya pencegahan gangguan fungsi orofasial yang dampaknya bisa berlanjut hingga usia sekolah dan seterusnya. Restorasi mahkota gigi susu, seperti pemasangan stainless steel crown atau restorasi komposit, perlu dipertimbangkan lebih serius sebagai langkah preventif terhadap maloklusi di kemudian hari.
Bagi orang tua, penelitian ini menjadi pengingat bahwa gigi susu bukan gigi “sementara” yang bisa diabaikan begitu saja. Anak yang giginya keropos hingga tinggal akar, atau yang sudah dicabut sebelum waktunya, perlu dipantau lebih ketat, termasuk cara menelannya.
Penelitian ini memang mengakui keterbatasannya: evaluasi perkembangan orofasial secara menyeluruh belum dilakukan, ukuran lidah tidak diukur, dan informasi dari orang tua tentang kapan gigi mulai hilang tidak selalu lengkap. Pertanyaan-pertanyaan itu menunggu penelitian lanjutan yang lebih komprehensif.
Sementara itu, di ruang-ruang kelas TK di Kulon Progo, ratusan anak terus menelan, lidah mereka bergerak mengikuti pola yang terbentuk jauh sebelum siapa pun menyadarinya.
Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Pexels