Berita

/

Artikel, Berita Terbaru

Gigi Mati Tak Harus Dicabut

Seorang pria berusia 67 tahun datang ke RSGM Prof. Soedomo FKG UGM, Yogyakarta, pada Maret 2015 dengan keluhan sederhana, tambalan gigi belakang kiri bawahnya lepas. Ia tidak merasakan sakit, tapi ada rasa tidak nyaman tiap kali mengunyah. Dari pemeriksaan klinis dan foto rontgen, dokter menemukan sesuatu yang lebih serius dari sekadar tambalan copot. Gigi geraham kedua kiri bawahnya mengalami nekrosis pulpa, kematian jaringan di dalam gigi, disertai lesi periapikal, yaitu peradangan di ujung akar yang sudah merambat ke jaringan sekitar gigi. Pertanyaannya bukan lagi soal tambalan.

Studi kasus ini ditulis oleh Dr. drg. Yulita Kristanti, M.Kes., Sp.KG(K) dan drg. Laurensia Santoso, Sp.KG, dan dipublikasikan dalam Majalah Kedokteran Gigi Klinik (MKGK) edisi Agustus 2016.

Pulpa adalah jaringan lunak di dalam gigi yang berisi saraf dan pembuluh darah. Ketika pulpa mati karena infeksi bakteri, kondisi ini disebut nekrosis pulpa. Tidak seperti jaringan tubuh lain yang punya cadangan aliran darah, jaringan pulpa terkurung rapat oleh email dan dentin yang keras. Tidak ada jalur alternatif. Bila tekanan dalam ruang pulpa meningkat, pembuluh darah kolaps, dan kematian jaringan terjadi.

Yang berbahaya, proses ini tidak berhenti di situ. Racun dari bakteri terus menyebar keluar melalui lubang kecil di ujung akar gigi menuju jaringan sekitarnya, memicu peradangan yang disebut lesi periapikal. Pada foto rontgen pasien ini, kondisi itu terlihat jelas: ada pelebaran ligamen periodontal di ujung akar, tanda bahwa jaringan di sekitar akar sudah mulai meradang.

Menariknya, pasien sama sekali tidak merasakan sakit. Ini justru menjadi tanda khas nekrosis pulpa: karena jaringan sarafnya sudah mati, tidak ada lagi sinyal nyeri yang dikirim ke otak. Kondisi ini sering membuat pasien terlambat datang berobat.

Pilihan perawatan yang diambil adalah perawatan saluran akar satu kunjungan (single visit root canal treatment). Ini bukan sekadar soal efisiensi waktu, meski pasien yang seorang pengusaha sibuk itu jelas diuntungkan. Secara klinis, perawatan satu kunjungan pada kasus nekrosis pulpa dengan lesi periapikal justru mengurangi risiko kontaminasi ulang oleh bakteri, karena tidak ada jeda waktu antara pembersihan dan penutupan saluran akar.

Prosedurnya tidak sederhana. Gigi geraham bawah ini memiliki empat saluran akar: mesiobukal, distobukal, mesiolingual, dan distolingual, masing-masing dengan panjang kerja berbeda antara 20 hingga 22 milimeter. Seluruh saluran dibersihkan menggunakan file ProTaper dengan teknik crown down, diirigasi berulang kali menggunakan larutan NaOCl 2,5% untuk membunuh bakteri, lalu dikeringkan sebelum akhirnya diisi dengan gutta-percha dan sealer berbahan dasar epoxy resin. Semua tahap ini diselesaikan dalam satu sesi.

“Perawatan saluran akar satu kunjungan dapat berhasil dengan baik bila didukung oleh kemampuan, indikasi, dan diagnosis kasus yang tepat.” Laurensia Santoso & Dr. drg. Yulita Kristanti, M.Kes., Sp.KG(K)

Perawatan saluran akar yang berhasil baru separuh perjalanan. Gigi yang sudah dirawat saluran akarnya kehilangan kelembaban alaminya dan menjadi lebih rapuh dari sebelumnya. Tanpa perlindungan yang tepat, gigi bisa retak saat menerima beban kunyah.

Untuk itu, dipasang dua pasak prefabrikasi jenis tapered self-threading dowel (Unimetric, Dentsply) ke dalam saluran akar distobukal dan mesiolingual. Pasak ini berbentuk lancip, menyerupai bentuk alami saluran akar, sehingga distribusi tekanan lebih merata dan risiko fraktur akar lebih kecil. Di atasnya, dibangun inti dari resin komposit, lalu seluruh gigi ditutup dengan mahkota penuh porselen fusi metal, kombinasi logam sebagai rangka kuat dan porselen sebagai lapisan estetis.

Satu minggu setelah pemasangan mahkota, pasien kembali kontrol. Hasilnya tidak ada keluhan, gigi nyaman digunakan mengunyah, dan foto rontgen menunjukkan pelebaran ligamen periodontal yang sebelumnya tampak sudah tidak terlihat lagi. Jaringan di sekitar akar juga sudah pulih.

Fakta bahwa nekrosis pulpa kerap berkembang tanpa gejala nyeri, pasien baru menyadari ada masalah saat tambalan copot, gigi berubah warna, atau ada bengkak. Padahal di dalam, proses peradangan mungkin sudah berjalan lama. Pemeriksaan gigi rutin, bukan hanya saat sakit, tetap menjadi kunci paling sederhana untuk mencegah kerusakan meluas. Gigi si bapak 67 tahun itu kini masih berdiri di tempatnya, dilapisi mahkota porselen, mengunyah dengan nyaman. Sebuah pengingat bahwa dalam kedokteran gigi, mempertahankan sering kali lebih bermakna daripada mencabut.

Penulis : drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes., Annisa Dwi Noviyanti

Foto : FreePik

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
15 Juli 2026

Biji Ketumbar Melawan Radang Gusi: Ketika Bumbu Dapur Menantang Standar Emas Kedokteran Gigi

15 Juli 2026

Wajah yang Bercerita: Membaca Tanda Talasemia dari Profil Lateral Anak Jawa

15 Juli 2026

Gigi yang Hampir Hilang Diselamatkan dengan Cangkok Tulang dan Material Bioaktif

id_ID