Berita

/

Artikel, Berita Terbaru

Gigi Geraham Kecil Berujung Dua: Kisah Perawatan Saluran Akar yang Tak Biasa

Saluran akar yang terbelah dua di ujungnya, itulah tantangan yang dihadapi tim dokter gigi Rumah Sakit Gigi dan Mulut Prof. Soedomo Universitas Gadjah Mada ketika menangani seorang pasien perempuan berusia 19 tahun yang datang dengan keluhan nyeri spontan pada gigi geraham kecil pertama kiri atas. Siapa yang terlibat, apa yang ditemukan, kapan perawatan dilakukan, di mana kasusnya ditangani, mengapa kasusnya istimewa, dan bagaimana solusinya? Semua itu terangkum dalam laporan kasus yang dipublikasikan dalam Advances in Health Sciences Research pada Proceedings of the 1st Aceh International Dental Meeting (AIDEM) 2019.

Pasien menceritakan bahwa giginya pernah ditambal setahun sebelumnya, namun tambalan itu lepas sebulan kemudian. Sejak saat itu, nyeri spontan kerap muncul, terutama di malam hari. Ketika tiba di klinik, rasa sakit sudah tidak terasa lagi, tetapi pemeriksaan klinis mengungkap sesuatu yang lebih serius.

Rontgen periapikal memperlihatkan gambaran radiolusen di ujung akar gigi, pertanda ada kerusakan jaringan di sekitar akar. Diagnosis pun ditegakkan: nekrosis pulpa parsial disertai periodontitis apikal asimtomatik. Dengan kata lain, jaringan di dalam gigi telah mati sebagian, dan infeksi telah mulai merembet ke jaringan penyangga di sekitar akar.

Yang membuat kasus ini menarik bukan sekadar diagnosisnya, melainkan anatomi saluran akar giginya. Saat dokter mulai menelusuri saluran akar menggunakan instrumen halus, ditemukan percabangan di sepertiga ujung akar: satu saluran membelah menjadi dua, masing-masing bermuara di foramen apikal yang berbeda. Inilah yang disebut konfigurasi Vertucci Tipe V, satu saluran di mahkota gigi, dua saluran di ujung akar.

Gigi geraham kecil pertama atas memang dikenal sebagai gigi yang paling kompleks morfologi saluran akarnya. Penelitian-penelitian sebelumnya mencatat bahwa 73 hingga 92 persen gigi ini memiliki dua saluran akar, dengan variasi bentuk yang beragam. Vertucci (2005) mengklasifikasikan pola morfologi saluran akar menjadi delapan tipe, dan Tipe V adalah salah satu yang paling menantang secara teknis.

Kerumitannya terletak pada bagian ujung akar yang bercabang. Jika pembersihan dan pengisian saluran akar tidak menjangkau kedua cabang secara sempurna, sisa jaringan nekrotik bisa menjadi tempat bakteri bertahan dan berkembang biak, yang pada akhirnya menyebabkan perawatan gagal.

Dr. drg. Yulita Kristanti, M.Kes., salah satu penulis laporan kasus ini dari Program Spesialis Ilmu Konservasi Gigi FKG UGM, bersama drg. Hernawatiningsih, Sp.KG, dan drg. Dayinah Harman Soebandhi, Sp.KG, menjelaskan pentingnya pemahaman anatomi ini dalam publikasi mereka:

“Identifikasi yang tepat dan pemahaman morfologi yang valid sangat dibutuhkan untuk mendukung keberhasilan perawatan saluran akar pada gigi dengan konfigurasi Vertucci Tipe V, karena preparasi dan obturasi pada kasus ini sulit dan menantang.”

Tim dokter memilih dua teknik utama yang saling melengkapi. Untuk pembersihan dan pembentukan saluran akar, digunakan teknik crown down dengan instrumen rotari berbahan nikel-titanium (NiTi), file ProTaper Next dari Dentsply. Teknik ini bekerja dari mahkota gigi ke arah ujung akar, dimulai dari instrumen berdiameter besar kemudian mengecil secara bertahap. Keunggulan file NiTi dibanding instrumen manual adalah lebih terfokus di dalam saluran akar, risiko transportasi apikal lebih rendah, lebih aman, dan lebih efisien.

Di antara kunjungan, saluran akar diisi sementara dengan kalsium hidroksida sebagai obat intrakanal. Pilihan ini bukan tanpa alasan: pH kalsium hidroksida yang tinggi menghasilkan ion hidroksil yang bersifat antibakteri, bekerja dengan cara merusak membran sitoplasma bakteri, mendenaturasi protein, dan merusak DNA bakteri.

Pada kunjungan kedua, setelah gutta-percha, bahan pengisi saluran akar berbahan karet alam terbukti cocok dengan panjang kerja yang telah diukur, dilakukan obturasi (pengisian permanen) menggunakan teknik warm vertical condensation atau kondensasi vertikal hangat. Teknik ini memanaskan gutta-percha sehingga bisa mengisi celah-celah kecil di saluran akar secara tiga dimensi, termasuk kedua cabang di ujung akar yang menjadi ciri khas Vertucci Tipe V.

Perawatan dituntaskan pada kunjungan ketiga dengan restorasi komposit resin Kelas II yang diperkuat short fiber reinforced composite. Material ini dipilih karena gigi yang telah menjalani perawatan saluran akar cenderung kehilangan banyak jaringan keras, sehingga membutuhkan restorasi yang tidak hanya estetis tetapi juga kuat secara mekanis. Seminggu setelah restorasi selesai, pasien kembali untuk kontrol dan tidak mengeluhkan apa pun.

Laporan kasus ini menegaskan satu prinsip yang sering diulang dalam dunia endodontik: keberhasilan perawatan saluran akar tidak semata-mata soal teknik, tetapi bermula dari pemahaman yang mendalam tentang anatomi gigi yang ditangani. Variasi saluran akar seperti Vertucci Tipe V bukan anomali langka, ia bisa ditemukan pada siapa saja, di usia berapa pun, dan pada gigi mana pun.

Bagi pasien, satu minggu tanpa keluhan setelah perawatan mungkin terasa biasa. Tetapi di balik ketenangan itu tersimpan serangkaian keputusan klinis yang hati-hati, dari pemilihan instrumen hingga teknik obturasi, yang semuanya bertumpu pada satu hal: mengenali dengan benar apa yang tersembunyi di dalam akar gigi.

Penulis : drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes., Annisa Dwi Noviyanti

Foto : pexels

Sumber DOI : https://doi.org/10.1111/jicd.12330

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
15 Juli 2026

Semakin Lebar Lubang Gigi, Semakin Besar Risiko Patah

15 Juli 2026

Minyak Kencur di Bawah Mikroskop: Saat Tanaman Dapur Meredam Penjaga Imun Tubuh

15 Juli 2026

Tanda Bahaya dari Dalam Mulut: Riset Periodontitis FKG UGM Ungkap Jejak Sitokin di Darah

id_ID