Seorang anak laki-laki berusia 5,5 tahun datang ke klinik bersama ibunya dengan satu keluhan sederhana: gigi depannya gigis. Tidak pernah sakit, tidak pernah jatuh, tidak ada trauma apa pun. Tapi hasil pemeriksaan intra oral bicara lain. Keempat gigi insisivus desidui-nya, yaitu gigi 52, 51, 61, dan 62, sudah mengalami karies dentin yang meluas ke seluruh permukaan mahkota. Menurut sistem ICDAS, ini masuk kategori karies kelas 5. Kondisi yang, jika tidak ditangani, bisa berdampak jauh melampaui soal penampilan.
Kasus ini didokumentasikan oleh drg. Putri Kusuma Wardani Mahendra, M.Kes., Sp.KGA., staf Departemen Kedokteran Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, bersama koleganya dari Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak UGM. Laporan kasus tersebut diterbitkan di Jurnal Surya Medika edisi Agustus 2023 dan menyoroti sebuah metode restorasi yang masih jarang dikenal di Indonesia: strip crown.
Lebih dari Sekadar Soal Penampilan
Banyak orang tua, dan bahkan sebagian dokter gigi, masih menganggap karies pada gigi susu bukan masalah besar. Toh, gigi itu akan tanggal sendiri. Anggapan ini keliru secara klinis.
Karies atau kehilangan gigi desidui anterior membawa serangkaian konsekuensi fungsional: nyeri, kesulitan berbicara, gangguan pengunyahan, hilangnya dimensi vertikal, hingga maloklusi. Di luar itu, ada dimensi yang sering luput dari perhatian. Pada anak-anak, masalah estetika gigi memiliki pengaruh nyata terhadap perkembangan psikososial dan interaksi dengan teman sebaya. Anak yang giginya terlihat rusak bisa menarik diri, kehilangan rasa percaya diri, bahkan menjadi sasaran perundungan.
WHO mencatat lebih dari 530 juta anak di seluruh dunia menderita karies pada gigi desidui mereka. Di Indonesia, kondisi ini kerap berakhir dengan satu dari dua pilihan: dibiarkan, atau dicabut. Pilihan ketiga, yaitu merestorasi dengan teknik yang tepat, masih belum cukup dikenal.
Mahkota Seluloid yang Mengubah Senyum
Strip crown adalah mahkota berbahan seluloid transparan yang diisi dengan resin komposit, glass ionomer cement, atau resin modified glass ionomer cement (RMGIC). Teknik ini dikenal sebagai pilihan estetik terbaik untuk merestorasi gigi insisivus desidui, menghasilkan permukaan yang halus, mengkilap, dan warnanya bisa disesuaikan dengan gigi asli.
Pada kasus ini, perawatan dilakukan dalam dua kunjungan. Kunjungan pertama pada 25 Oktober 2021 untuk gigi 51 dan 61, kunjungan kedua pada 6 Desember 2021 untuk gigi 52 dan 62. Prosedurnya mencakup pemilihan strip crown sesuai ukuran mesiodistal gigi, pembersihan jaringan karies, aplikasi lining semen ionomer kaca pada dentin yang terbuka, etsa, bonding, lalu pengisian crown form dengan resin komposit flowable warna A2. Setelah penyinaran selama satu menit pada sisi labial dan palatal, mahkota seluloid dilepas, dan tahap akhir adalah finishing serta polishing.
Hasilnya: keempat gigi anterior anak tersebut kembali memiliki bentuk dan warna yang natural.
“Restorasi strip crown dapat menjadi pilihan perawatan pada gigi anterior desidui dengan karies yang melibatkan seluruh bagian permukaan, dengan hasil estetika memuaskan dan waktu pengerjaan yang relatif singkat.” — drg. Putri Kusuma Wardani Mahendra, M.Kes., Sp.KGA., dan tim peneliti
Teknik yang Menuntut Presisi
Keunggulan strip crown cukup panjang daftarnya. Selain estetis, teknik ini minim trauma pada jaringan periodontal, tidak melukai pulpa pada gigi vital, dan tersedia dalam pilihan ukuran yang beragam. Prosedurnya pun relatif cepat, sebuah pertimbangan penting untuk pasien anak yang ketahanan kooperatifnya terbatas.
Namun teknik ini bukan tanpa tantangan. Strip crown tergolong technique-sensitive. Retensinya sangat bergantung pada jumlah struktur gigi yang tersisa setelah jaringan karies diangkat. Perdarahan atau kontaminasi saliva selama prosedur bisa mengurangi kualitas hasil akhir. Teknik ini juga tidak dianjurkan untuk pasien dengan bruxisme atau overbite parah. Sebuah penelitian yang dikutip dalam laporan ini menemukan bahwa 80% strip crown dapat dipertahankan selama tiga tahun, sementara 20% sisanya hanya bertahan setengah dari mahkotanya.
Di sinilah kompetensi spesialistik menjadi kunci. Rencana perawatan pada pasien anak harus mempertimbangkan status perkembangan gigi, penilaian risiko karies, kebersihan mulut, kepatuhan orang tua, dan kemampuan anak untuk bekerja sama selama prosedur. Komunikasi, informasi, dan edukasi kepada orang tua bukan sekadar formalitas, melainkan bagian integral dari keberhasilan restorasi.
Familiar Tapi Belum Merata
Laporan kasus ini muncul dari kesadaran bahwa strip crown masih asing di banyak praktik dokter gigi di Indonesia. Padahal tekniknya sudah mapan secara klinis dan tersedia dalam literatur internasional. Kesenjangan antara ketersediaan metode dan penerapannya di lapangan inilah yang membuat publikasi semacam ini relevan, bukan hanya sebagai dokumentasi klinis, melainkan juga sebagai jembatan antara riset dan praktik sehari-hari.
Bagi anak itu sendiri, perubahan yang terjadi mungkin tidak ia pahami sepenuhnya dalam istilah medis. Tapi senyum yang ia bawa pulang setelah dua kunjungan itu, sebuah senyum dengan gigi depan yang utuh dan berwarna natural, adalah bukti yang cukup bahwa ada pilihan yang lebih baik dari sekadar mencabut atau membiarkan.
Sumber DOI : https://doi.org/10.33084/jsm.v9i2.5710
Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Pexels