Berita

/

Artikel, Berita Terbaru, SDG 10, SDG 16, SDG 3, SDG 4, SDG 9

Gel Ajaib untuk Luka Kecil: Hyaluronic Acid dan Ulkus Traumatik pada Anak

Seorang anak perempuan berusia tiga tahun datang ke klinik kedokteran gigi dengan kondisi yang tidak ringan: kecelakaan sepeda motor telah merenggut dua gigi sulung depannya, gigi 51 dan 61, sekaligus meninggalkan luka terbuka lebar di gusi regio anterior maksila. Tulang alveolar terekspos. Sang anak menolak makan dan minum karena nyeri. Keluarganya menolak rawat inap. Di sinilah sebuah pilihan terapeutik sederhana, gel topikal berbahan hyaluronic acid, diuji batas kemampuannya.

Laporan kasus yang dipublikasikan dalam Jurnal Kesehatan Gigi ini ditulis oleh Citra Saka Gama Diarum, Shoimah Alfa Makmur, dan drg. Putri Kusuma Wardani Mahendra, M.Kes., Sp.KGA. dari Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada. Hasilnya membuka wawasan baru tentang penanganan ulkus traumatik ekstensif pada pasien anak.

Luka yang Lebih dari Sekadar Lecet

Ulkus traumatik bukan luka biasa. Ketika trauma merusak mukosa mulut hingga menembus membran basal dan masuk ke jaringan ikat di bawahnya, ujung-ujung saraf ikut terekspos. Setiap sentuhan terasa seperti sengatan. Pada anak-anak, kondisi ini bisa berdampak jauh melampaui rasa sakit fisik: kemampuan makan terganggu, bicara terhambat, bahkan kehadiran di sekolah bisa terpengaruh.

Prevalensi ulkus oral pada anak mencapai sekitar 9% dari seluruh kasus ulserasi oral. Khusus ulkus traumatik, angkanya berkisar antara 1,33% hingga 8,53%, dengan distribusi serupa antara anak laki-laki dan perempuan. Penanganan lini pertama yang lazim adalah kortikosteroid topikal. Namun, penggunaannya pada bayi dan anak kecil harus dipertimbangkan dengan hati-hati karena risiko efek sistemik. Penggunaan jangka panjang pun bisa memicu resistensi obat atau infeksi jamur sekunder.

Pada kasus ini, tim klinisi memilih jalur berbeda.

Dua Bulan, Lima Kunjungan, Satu Perubahan Nyata

Penanganan awal dimulai dengan irigasi salin untuk membersihkan debris dan menghentikan perdarahan dengan tekanan kasa steril. Pemeriksaan radiografi panoramik dilakukan untuk memastikan tidak ada fraktur tulang, dan hasilnya negatif. Pasien mendapat antibiotik dan analgesik, lalu dipulangkan dengan instruksi perawatan luka harian menggunakan kasa steril dan air hangat.

Satu minggu kemudian, laserasi bibir atas mulai pulih, tetapi soket gigi 51 dan 61 masih terbuka, ditutupi lapisan pseudomembran. Di sinilah gel hyaluronic acid mulai diaplikasikan, dua kali sehari setelah makan.

Hasilnya dicatat secara bertahap. Pada kunjungan kedua, dua minggu pasca trauma, jaringan gingiva mulai menutup tulang alveolar. Skor nyeri pada Visual Analogue Scale (VAS) turun dari angka 10 saat pertama kali datang menjadi 5. Pada kunjungan ketiga, satu bulan kemudian, jaringan gingiva sudah menutup soket dengan warna yang sesuai mukosa sekitar. Sang anak mulai mau makan dan minum tanpa rasa sakit. Dua bulan setelah kecelakaan, luka telah sembuh sempurna. VAS menunjukkan angka 0. Tidak ada tanda inflamasi yang tersisa.

“The clinical outcome in this case suggests that hyaluronic acid gel contributed to the healing of a large traumatic ulcer, while also providing comfort to the pediatric patient. No adverse effects or complications were noted during the treatment period.”

Cara Kerja yang Berlapis

Hyaluronic acid bukan bahan asing bagi tubuh. Senyawa ini adalah polisakarida linier yang secara alami terdapat dalam matriks ekstraselular jaringan ikat, kulit, epitel, bahkan di dalam rongga mulut itu sendiri, mulai dari gingiva, ligamen periodontal, tulang alveolar, hingga sementum.

Dalam proses penyembuhan luka, hyaluronic acid bekerja pada fase ketiga dan keempat, yaitu migrasi fibroblas dan remodeling jaringan. Ia mempertahankan hidrasi jaringan, menstimulasi produksi faktor pertumbuhan, mendukung biosintesis kolagen, dan memfasilitasi re-epitelialisasi keratinosit. Bentuk berat molekul rendah menembus lapisan jaringan yang lebih dalam, sementara bentuk berat molekul tinggi bekerja pada lapisan permukaan luka.

Gel yang digunakan dalam kasus ini mengandung 0,2% hyaluronic acid yang dikombinasikan dengan 7,5% xylitol. Xylitol, alkohol gula berkarbon lima, dikenal mampu menghambat adhesi bakteri dan pembentukan biofilm, sekaligus meningkatkan pH rongga mulut sehingga menciptakan lingkungan yang tidak kondusif bagi bakteri patogen.

Meski hyaluronic acid tidak memiliki sifat antibakteri langsung seperti klorheksidin, viskositasnya yang tinggi membentuk barier fisik yang meminimalkan penetrasi mikroba ke dalam luka. Kombinasi kedua bahan ini menjadikan gel ini efektif sekaligus aman, bahkan untuk pasien seusia tiga tahun.

Toleransi Anak, Faktor yang Sering Terlupakan

Keberhasilan terapi pada anak bukan hanya soal efikasi klinis. Kepatuhan pasien, dan dalam hal ini kepatuhan orang tua, adalah penentu nyata dari hasil akhir. Gel hyaluronic acid memberikan sensasi dingin saat diaplikasikan, tidak berasa, dan tidak menimbulkan iritasi. Profil ini menjadikannya pilihan yang jauh lebih mudah diterima anak dibandingkan banyak agen topikal lain.

Penelitian sebelumnya mengonfirmasi rendahnya sitotoksisitas hyaluronic acid, memperkuat keamanannya untuk populasi pediatrik. Tidak ada risiko overdosis yang dilaporkan pada penggunaan topikal. Bahkan, sediaan spray dari bahan yang sama tersedia untuk kasus lesi yang lebih luas atau pasien dengan burning mouth syndrome.

Kasus seorang anak tiga tahun yang kehilangan dua gigi depannya akibat kecelakaan ini mungkin terdengar dramatis. Namun justru di sanalah letak relevansinya: bahwa luka yang tampak parah pun dapat pulih dengan pendekatan yang tepat, sabar, dan terukur. Tulang alveolar yang sempat terekspos kini tertutup gingiva sehat. Anak itu sudah bisa makan lagi.

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
17 Juli 2026

Filtrat Bawang Putih Ungguli Kalsium Hidroksida: Temuan dari Saluran Akar Gigi Susu

17 Juli 2026

Saat Komputer Belajar Membaca Rongga Mulut: Kecerdasan Buatan di Balik Kursi Gigi

17 Juli 2026

Bawang Putih di Laboratorium: Saat Herbal Dapur Terbukti Ramah bagi Sel Gusi

id_ID