Praktik kedokteran gigi rupanya menyisakan jejak pada lingkungan. Setiap hari, timbulan limbah medis seperti sarung tangan lateks dan bahan tambal gigi terus dihasilkan dari aktivitas perawatan pasien. Penelitian di Tunisia yang terbit di The Journal of Contemporary Dental Practice mengatakan bahwa klinik gigi menghasilkan sekitar 0,5–2,5 kg limbah per kunjungan pasien. Tanpa pengelolaan limbah yang memadai, hal ini dapat menyebabkan pencemaran lingkungan.
Guna mengurangi dampak negatif tersebut, maka perlu ada konsep yang menawarkan keberlanjutan lingkungan. Pendekatan green dentistry dinilai dapat mengurangi permasalahan ini. Konsep ini berfokus pada pencegahan (preventif) dibandingkan dengan pengobatan (kuratif). Semakin dini penyakit gigi dicegah, semakin sedikit tindakan medis yang diperlukan, sehingga jumlah limbah medis pun ikut berkurang.
Konsep inilah yang menjadi sorotan utama pada kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat International Dental Summer Course (IDSC) 2026 oleh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM). Puluhan mahasiswa peserta summer course dari beberapa universitas di Indonesia dan mancanegara turun langsung ke SD Negeri Baturan 1 untuk memberikan edukasi dan pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut (15/7).
Koordinator kegiatan, drg. Fania Chairunisa, M.P.H., Ph.D., menjelaskan bahwa IDSC tahun ini mengusung konsep sustainability dan green Dentistry. Salah satu komponen utamanya adalah adalah upaya pencegahan (preventif). Upaya pencegahan ini dilakukan untuk mengurangi beban perawatan di masa depan yang diharapkan dapat menekan penggunaan beberapa bahan medis yang belum ramah lingkungan.
“Langkah preventif lainnya, kita juga bisa memanfaatkan teledentistry, yaitu layanan konsultasi gigi jarak jauh menggunakan teknologi telekomunikasi seperti video call atau aplikasi khusus. Hal ini dapat mengurangi emisi karbon dari kendaraan kalau harus pergi ke dokter gigi,” ucap Fania.
Selain pemeriksaan gigi, siswa disana juga diberikan Topical Application of Fluoride (TAF), sebuah metode perlindungan dini yang dilakukan dengan mengoleskan zat fluorida pada gigi anak guna menghambat pertumbuhan bakteri penyebab karies. Metode ini dinilai efektif memperkuat email gigi, mencegah terbentuknya karies, sekaligus menghentikan proses pembusukan awal akibat asam dan bakteri.







Kegiatan ini tentunya juga memberikan pengalaman baru bagi para peserta summer course, tak terkecuali Gina, mahasiswa semester 2 asal Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Palangkaraya (UMPR). Baginya, program pengabdian ini selain mengasah keterampilan klinis, juga memperkuat kompetensi komunikasi sebagai calon dokter gigi.
Bagi Gina, kemampuan komunikasi interpersonal merupakan kompetensi yang cukup krusial, terutama dalam penanganan pasien anak. Pendekatan yang tepat diperlukan agar anak tidak mengalami trauma medis. “Kita harus bisa beradaptasi dan dekat dengan adik-adik ini agar mereka merasa nyaman dan tidak takut. Komunikasi di lapangan seperti ini harus sering dibiasakan,” jelas Gina.
Sementara itu, Asri Ningtyas selaku guru SD Negeri Baturan 1, menyambut positif kehadiran peserta summer course FKG UGM. “Edukasi menyikat gigi ini sangat bermanfaat untuk melengkapi program sekolah. Mereka jadi aware kembali bahwa selain makan bergizi harus ada kesehatan gigi dan mulut yang dijaga,” pungkas Asri.
Pihak sekolah berharap kolaborasi dengan institusi pendidikan tinggi dapat menjadi agenda rutin tahunan untuk menjamin keberlanjutan pemantauan kesehatan gigi anak-anak sejak dini.
Penulis dan Foto: Fajar Budi Harsakti