Dunia radiologi kedokteran gigi di Indonesia tengah berada di titik perkembangan yang signifikan. Di saat kesenjangan layanan kesehatan antar wilayah, keterbatasan alat diagnostik, hingga minimnya pemerataan tenaga ahli, kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) mulai membuka jalan baru menuju layanan kesehatan gigi yang lebih presisi, cepat, dan inklusif.
Substansi itu hadir dalam presentasi ilmiah bertajuk “Reimagining Oral Radiology in Indonesia : A Journey Toward Precision Dentistry” yang disampaikan oleh drg. Isti Rahayu Suryani, M.Biotech, Sp.RKG, Subsp.RDP(K),Ph.D dari Departemen Radiologi Dentomaksilofasial FKG UGM pada forum ilmiah internasional bidang pencitraan kedokteran gigi turut serta didampingi oleh Dr. drg. Rurie Ratna Shantiningsih, MDSc & Dr. drg. Rini Widyaningrum, M.Biotech., Sp.RKG pada Forum The 15th Asian Congress of Oral and Maxillofacial Radiology in conjunction with The 58th Annual Scientific Meeting of Korean Academy of Oral and Maxillofacial Radiology di Seoul, Korea Selatan.
Dalam paparannya, drg. Isti menyoroti bahwa perkembangan radiologi oral di Indonesia tidak lagi sekadar berbicara tentang modernisasi alat, melainkan tentang bagaimana teknologi dapat menjawab ketimpangan layanan kesehatan di negara kepulauan dengan lebih dari 17 ribu pulau tersebut.

“Indonesia sedang bergerak menuju precision dentistry, namun perjalanan itu tidak mudah. Kita masih menghadapi tantangan besar dalam akses alat radiologi, standardisasi layanan, dan distribusi keahlian radiologi kedokteran gigi,” ujar Isti dalam presentasinya.
Menurutnya, penggunaan Cone Beam Computed Tomography (CBCT) memang meningkat pesat di kota-kota besar. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan masih banyak daerah yang belum memiliki akses memadai terhadap teknologi pencitraan diagnostik modern tersebut.
Ketimpangan itulah, menurut drg. Isti, tidak hanya menyangkut ketersediaan alat, tetapi juga kualitas interpretasi hasil radiografi dan integrasi sistem digital di fasilitas kesehatan. Akibatnya, ketepatan diagnosis dan perencanaan perawatan pasien belum merata di seluruh Indonesia.
“Teknologi tidak boleh hanya terkonsentrasi di kota-kota besar. Precision dentistry harus bisa menjangkau masyarakat di daerah dengan kualitas layanan yang setara,” tegasnya.
Isti menjelaskan, kemajuan AI kini mulai merevolusi bidang radiologi kedokteran gigi. Algoritma deep learning mampu membantu deteksi otomatis berbagai kelainan gigi dan mulut, termasuk identifikasi patologi, perencanaan implan, hingga pemetaan anatomi berbasis data CBCT tiga dimensi.
Bahkan, sejumlah penelitian terbaru menunjukkan tingkat akurasi sistem AI dalam analisis radiografik telah melampaui 90 persen pada berbagai aplikasi klinis.
“AI bukan untuk menggantikan dokter gigi atau radiolog, tetapi perannya memperkuat kemampuan klinisi dalam mengambil keputusan yang lebih cepat, akurat, dan personal,” ungkapnya.
Drg. Isti menambahkan, integrasi AI dengan sistem perencanaan perawatan digital akan menjadi fondasi penting menuju layanan kedokteran gigi modern yang minim invasif dan berbasis data anatomi tiga dimensi.
Namun demikian, Isti mengingatkan bahwa transformasi digital tidak akan berjalan optimal tanpa kesiapan sumber daya manusia yang up to date dengan teknologi radiologi. Ia menilai Indonesia masih menghadapi kesenjangan kompetensi dalam interpretasi pencitraan lanjutan, terutama di daerah terpencil yang minim akses pendidikan dan pelatihan teknologi radiologi terkini.
Karena itu, drg. Isti mendorong lahirnya kolaborasi nasional lintas institusi pendidikan, rumah sakit, organisasi profesi, dan pemerintah untuk mempercepat pemerataan kompetensi radiologi kedokteran gigi di Indonesia.
“Kolaborasi adalah kunci. Kita membutuhkan jejaring konsultasi berbasis telemedisin, pelatihan regional, dan sistem dukungan diagnostik berbasis AI agar kualitas layanan tidak bergantung pada lokasi geografis,” katanya.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi kritik halus terhadap realitas sistem kesehatan nasional yang masih timpang dalam distribusi teknologi medis. Di satu sisi, rumah sakit besar di kota metropolitan mulai memasuki era digitalisasi berbasis AI, sementara di sisi lain banyak fasilitas kesehatan di daerah masih berkutat dengan keterbatasan alat dasar radiografi.

“Transformasi ini bukan sekadar tentang teknologi canggih, tetapi tentang menghadirkan layanan kesehatan yang lebih merata, presisi, dan terjangkau bagi seluruh masyarakat Indonesia,” pungkas drg. Isti.
(Reporter: Andri Wicaksono, Foto: Arsip Departemen Radiologi Kedokteran Gigi FKG UGM)