Berita

/

Berita Terbaru

FKG UGM Gelar Studium Generale Pascasarjana FKG UGM, Bekali Mahasiswa Baru Tata Kelola Kesehatan Mental

Di tengah kepungan pragmatisme pendidikan tinggi modern, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) menggelar Orientasi Akademik dan Studium Generale Pascasarjana dan Spesialis, Rabu (19/26) di Ruang Auditorium Lantai 5. Forum yang dirancang sebagai pembekalan teknis dan penguatan nilai-nilai ke UGM-an ini menjadi arena dialektika yang hangat, menembus batas-batas prosedural administrasi hingga menyentuh kesadaran kritis & konstruktif mahasiswa.

Sebelum memaparkan laporan & membuka kegiatan secara resmi, pihak panitia mengajak seluruh peserta menundukkan kepala sejenak untuk mendoakan para korban bencana alam di Nusa Tenggara Timur (NTT). Momen hening cipta tersebut menegaskan kembali identitas UGM sebagai kampus kerakyatan yang tidak berdiri di atas menara gading, melainkan senantiasa mengakar pada empati kemanusiaan dan persoalan bangsa.

Acara yang dibuka langsung oleh Dekan FKG UGM, Prof. Dr. drg. Suryono, S.H., M.M., Ph.D., ini menjadi momentum penting untuk membekali mahasiswa dengan wawasan akademis dan nilai-nilai kebangsaan.Dalam sambutannya, Prof. Suryono menyampaikan apresiasi tinggi serta rasa bangganya kepada seluruh mahasiswa baru yang berhasil lolos seleksi ketat untuk melanjutkan studi di FKG UGM.

“Saya yakin adik-adik sekalian merupakan bagian dari sekian banyak yang mendaftar ke FKG UGM yang terpilih. Mumpung ada di Jogja dan bergabung dengan FKG UGM, seraplah ilmu sebanyak mungkin,” ujar Prof. Suryono.

Selain fokus pada ranah akademis, Dekan FKG UGM menekankan pentingnya memanfaatkan kesempatan tinggal di Yogyakarta untuk mempelajari nilai-nilai budaya lokal. Menurutnya, menimba ilmu di Jogja tanpa memahami budayanya akan menjadi sebuah kerugian bagi mahasiswa.Hal menarik dalam sambutan tersebut adalah ketika Prof. Suryono mengenang narasumber utama kegiatan, Prof. Dr. drg. Etti Indriati, Ph.D., yang merupakan murid dari tokoh ternama sekaligus Rektor ke-7 UGM, Prof. Teuku Jacob.

Memasuki sesi teknis, forum diwarnai interaksi aktif antara mahasiswa pascasarjana dan petugas layanan akademik. Berbagai persoalan krusial diangkat, mulai dari kejelasan status registrasi finansial bagi penerima beasiswa, kendala integrasi akun e-mail pada sistem One Stop Service (OSS), sinkronisasi data domisili, hingga mekanisme presensi perkuliahan.

Petugas Layanan Akademik UGM memberikan arahan analitis terkait pentingnya memvalidasi data pribadi serta memantau status keaktifan di portal Simaster. Petugas menekankan bahwa status keaktifan akademik yang terbit setelah pengisian Kartu Rencana Studi (KRS) menjadi indikator utama dalam sistem registrasi universitas, khususnya bagi mahasiswa penerima beasiswa.

“Jika ada beasiswa, pelunasannya di sistem bisa tertulis nol karena pembayaran langsung melalui universitas. Namun, yang paling utama adalah status keaktifannya. Jika sudah KRS, otomatis statusnya menjadi aktif. Ini yang kami jadikan acuan utama.” jelas petugas layanan akademik di hadapan para peserta.

Selain itu, pihak pengelola akademik memaparkan mekanisme integrasi data ke Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Mahasiswa diimbau untuk memastikan validitas biodata sebelum data resmi dikirimkan ke PDDikti.

“Informasi NIM PDDikti nantinya sama dengan NIM mahasiswa tanpa menggunakan garis miring. Transparansi data ini memungkinkan siapa saja melacak status keaktifan. Jangan sampai karena lalai memantau proses registrasi, status mahasiswa di pangkalan data berubah menjadi ‘mundur’ meski yang bersangkutan aktif mengikuti perkuliahan,” tambah pembicara mewakili tim akademik.

Terkait presensi, pengelola kampus menjelaskan bahwasanya UGM menyediakan tiga opsi fleksibel bagi pengajar: pemindaian QR Code, pemindaian sidik jari (fingerprint), serta absensi manual. Penggunaan metode manual oleh sebagian dosen, khususnya pada program spesialis, ditujukan untuk menjaga kedisiplinan serta keterlibatan langsung dalam proses interaksi belajar-mengajar.

Sesi berlanjut ke pilar utama Studium Generale,pematerian Ke UGM-an. Diskusi dipandu oleh moderator drg. Isti Rahayu Suryani, M. Biotech., Sp. Rad. O.M.(K) yang menghadirkan narasumber utama Prof. Dr. drg. Ahmad Syaify, Sp.Perio(K)Guru Besar FKG UGM yang juga menjabat sebagai Ketua Senat FKG UGM.

Dalam pemaparannya, Prof. Syaify merunut rekam jejak sejarah berdirinya UGM dan FKG yang sarat akan spirit perjuangan kemerdekaan. Nama Gadjah Mada sendiri diusulkan oleh Mr. Budiarto sebagai pahlawan dan Mahapatih Majapahit yang melambangkan simbol keteguhan, persatuan Nusantara, dan pengabdian melalui Sumpah Palapa.

Sejarah FKG UGM mencatat dinamika heroik. Cikal bakal fakultas ini bermula dari Perguruan Tinggi Kedokteran Klinis di Klaten pada 5 Maret 1948. Dekan pertama FKG UGM, Prof. Soedomo, bersama tokoh-tokoh perintis lainnya seperti Prof. Sardjito, harus menyelamatkan dan memindahkan peralatan laboratorium kedokteran gigi melewati pematang sawah dan jalan-jalan desa demi menghindari kejaran agresi militer Belanda.

“Perjuangan mendirikan fakultas ini tidak mudah. Prof. Soedomo mengangkut alat-alat pembelajaran bukan melalui jalan raya, melainkan menyusuri pematang sawah dan melintasi perkampungan agar terhindar dari bentrokan agresi Belanda. Dari perjuangan di Klaten, berpindah ke Kompleks Mangkubumen, hingga akhirnya berdiri kokoh seperti saat ini,” kenang Prof. Syaify

Perubahan momentum penetapan hari jadi (Dies Natalis) FKG UGM dari 29 Desember 1960 menjadi 5 Maret 1948 didasarkan pada penemuan data historis (novum) bahwa FKG telah meluluskan 14 dokter gigi pertama sejak masa perjuangan di Klaten.

Tidak sekadar bernostalgia dengan sejarah, Prof. Syaify melontarkan analisis kritis terhadap fenomena sosial-akademik di kalangan mahasiswa masa kini. Beliau menyoroti kecenderungan pragmatisme yang mulai menggejala, di mana mahasiswa kerap membatasi diri hanya pada pencapaian akademis personal dan kelulusan cepat.

Menanggapi pertanyaan moderator mengenai peran mahasiswa pascasarjana dalam merespons krisis sosial dan dinamika media sosial, Prof. Syaify menegaskan bahwa kampus UGM sejak lahir ditakdirkan sebagai pusat perjuangan dan kawah candradimuka pemikiran kritis.

“UGM itu bukan sekadar lembaga pendidikan, tapi pusat perjuangan. Kecenderungan saat ini adalah berpikir pragmatis: masuk kuliah, cepat dapat gelar spesialis, lalu mendapat materi. Pragmatisme ada di mana-mana. Namun, Jogja dan UGM adalah ruang luar biasa untuk mengasah kepribadian dan kepedulian. Siapa lagi yang akan memikirkan masa depan Indonesia jika bukan generasi muda ini?” tegas Prof. Syaify secara inspiratif.

Beliau juga mengulas dinamika ekspresi kritis mahasiswa di ruang publik yang sering kali memicu perdebatan. Menurutnya, substansi ketajaman berpikir dan keberanian menyuarakan kebenaran harus tetap dihidupkan sebagai jati diri civitas akademika UGM, dengan tetap memelihara nilai-nilai kesantunan.

Melalui penyelenggaraan Studium Generale Pascasarjana FKG UGM 2021 ini, pengelola fakultas menaruh harapan besar agar seluruh mahasiswa baru baik jenjang Magister, Doktor, maupun Spesialis dapat mengintegrasikan kesiapan akademis, ketertiban administratif, dan kedalaman spiritual intelektual.

Materi yang disajikan dalam Studium Generale ini dirancang khusus untuk mendukung kelancaran dan kesuksesan seluruh Adik-adik mahasiswa selama masa studi di FKG UGM. Mulai dari pemahaman layanan akademik, penguatan nilai-nilai Ke UGM-an, pemanfaatan fasilitas perpustakaan pusat dan fakultas, hingga pemahaman atas kesehatan mental.

(Reporter: Andri Wicaksono, Nanda, Annisa, Foto: Fajar Budi Harsakti)

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
20 Agustus 2026

Kuliah Umum Pascasarjana FKG UGM: Perkuat Kesetaraan & Inklusifitas Perguruan Tinggi

20 Agustus 2026

Residen BMM FKG UGM Raih Beragam Prestasi di PIT PABMI 2026

20 Agustus 2026

Pengalaman Klinis Dari Negeri Ginseng

id_ID