Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) menyelenggarakan kegiatan Pembekalan Materi Kerumahsakitan bagi mahasiswa dokter gigi muda (koas) pada Kamis (27/8/2026) di Ruang Lab CBT, Gedung Learning Center (DLC) Lantai 5 FKG UGM. Kegiatan ini dirancang untuk membekali para dokter gigi muda dengan pemahaman profesional, etika klinis, serta prinsip keselamatan pasien sebelum terjun melayani masyarakat di berbagai rumah sakit jejaring.
Hadir sebagai pembicara utama, Penanggungjawab Koas Kerumahsakitan FKG UGM, drg. Didit Istadi, Sp.BM., Subsp.Ped.O.M.(K), menyampaikan arahan komprehensif terkait perubahan durasi stase, etika kedokteran, hingga pentingnya kemampuan kolaborasi interprofesi di lingkungan rumah sakit.
Penguatan Sikap Profesional dan Perubahan Durasi Pembekalan
Dalam sesi pembekalan tersebut, drg. Didit menekankan pentingnya pergeseran pola pikir mahasiswa saat berhadapan langsung dengan pasien di rumah sakit. Meskipun masih berada dalam masa pendidikan koasisteran, para mahasiswa diimbau untuk bersikap percaya diri dan menempatkan diri sebagai seorang profesional medis yang penuh tanggung jawab.
“Jika di hadapan pasien, posisikan diri Anda sebagai dokter. Harus percaya diri dan mantap, namun tetap berada dalam koridor koordinasi dengan dosen pembimbing karena seluruh izin praktik klinis berada di bawah supervisi mereka,” tegas drg. Didit.
Selain penguatan etika profesional, disampaikan pula penyesuaian durasi stase kerumahsakitan yang kini menjadi 11 hari kerja. Pemangkasan durasi ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi kelulusan tanpa mengurangi esensi pembelajaran klinis. Para koas nantinya akan didistribusikan ke tiga rumah sakit utama, yaitu Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM, RSUD Sleman, dan RSPAU Dr. S. Hardjolukito.

Pentingnya Kolaborasi Interprofesi dan Orientasi Pasien
drg. Didit menekankan bahwa tantangan utama pelayanan medis modern di rumah sakit adalah kemampuan berkolaborasi secara setara (equal) dengan tenaga medis lain. Dokter gigi muda dituntut mampu berkomunikasi dengan dokter spesialis bidang lain, perawat, maupun tim penunjang medis demi menjamin patient safety atau keselamatan pasien.
“Kolaborasi itu bukan sekadar sama-sama kerja, melainkan kerja sama. Untuk bisa berkolaborasi dengan baik, Anda harus profesional dan paham peran Anda sendiri. Ingat, fokus utama kita di rumah sakit adalah pelayanan yang berorientasi pada kebutuhan dan keselamatan pasien,” ujar drg. Didit memberi dorongan inspiratif.
Melalui pembekalan ini, FKG UGM terus berkomitmen mencetak lulusan dokter gigi yang tidak hanya unggul secara keterampilan medis dan akademis, tetapi juga memiliki empati tinggi, etos kerja profesional, serta siap berkontribusi nyata dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat.
(Redaksi: Andri Wicaksono ,Hazra, Foto: Anisa)