Berita

/

Berita Terbaru

Mahasiswa UGM Kembangkan SOLAR BRIDGE: Jembatan Interlocking Bertenaga Surya untuk Krisis Darurat Korban Banjir

Terputusnya akses transportasi akibat kerusakan jembatan dan padamnya aliran listrik secara serentak kerap menjadi pukulan ganda bagi masyarakat saat terjadi bencana alam. Kondisi melumpuhkan ini tergambar jelas dalam bencana banjir besar di Aceh pada akhir 2025 lalu, di mana masyarakat terdampak tidak hanya kesulitan mengakses bantuan akibat jalan yang terputus, tetapi juga harus bertahan dalam kegelapan yang menghambat kebutuhan dasar dan komunikasi.

Berangkat dari keprihatinan atas krisis infrastruktur darurat tersebut, lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menawarkan gagasan inovatif bernama SOLAR BRIDGE. Alat ini merupakan konsep jembatan darurat yang secara cerdas mengintegrasikan akses mobilitas transportasi sekaligus penyediaan pasokan listrik sementara bagi para penyintas bencana banjir.

Gagasan tersebut dikembangkan melalui skema Program Kreativitas Mahasiswa Video Gagasan Konstruktif (PKM-VGK) 2026. Tim inovator ini terdiri dari Amanda Syifa Lusayni (Kedokteran Gigi 2024) selaku ketua, bersama empat rekannya dari lintas disiplin ilmu: Daniys Aqela Shaleha (Kedokteran Gigi 2024), Muhammad Akbar Rabbani (Teknik Elektro 2023), Annisa Hasna Aliefia (Teknik Arsitektur 2024), dan Rainy Azzahra (Teknik Sipil 2024). Inovasi ini berada di bawah bimbingan drg. Hendri Susanto, M.Kes., Ph.D., Sp.PM.

Amanda menuturkan, ide besar SOLAR BRIDGE lahir dari kebutuhan mendesak di lapangan. “Kami melihat adanya kebutuhan untuk menghadirkan solusi yang tidak hanya memulihkan akses, tetapi juga dapat membantu memenuhi kebutuhan energi listrik masyarakat dalam kondisi darurat. Oleh karena itu, kami mencoba mengintegrasikan kedua fungsi tersebut dalam satu infrastruktur,” ujarnya (4/9).

Secara desain, SOLAR BRIDGE mengadaptasi prinsip struktur Jembatan Bailey dengan menggunakan rangka baja sebagai penopang utama. Menariknya, lantai jembatan dirancang secara modular menggunakan sistem interlocking (saling mengunci) berbahan material alternatif berbasis limbah yang dapat disesuaikan dengan ketersediaan di lokasi bencana. Dengan sistem bongkar-pasang ini, jembatan dapat dirakit dan dipindahkan ke berbagai lokasi urgensi dengan mudah.

Lebih jauh, keunggulan utama SOLAR BRIDGE terletak pada kemampuannya sebagai pembangkit listrik mandiri. Struktur jembatan ini diintegrasikan langsung dengan panel surya untuk mengonversi energi matahari menjadi listrik cadangan yang disimpan di dalam baterai. Untuk memaksimalkan serapan energi, sistem ini juga dilengkapi dengan solar tracker serta teknologi Internet of Things (IoT) yang memungkinkan pemantauan kinerja panel secara real-time.

Untuk memudahkan masyarakat memahami urgensi inovasi ini, tim mengemas gagasan mereka ke dalam sebuah rancangan video naratif bertajuk “SOLAR BRIDGE: Jembatan Sistem Saling Mengunci dengan Integrasi Energi Terbarukan sebagai Solusi Akses dan Listrik Darurat bagi Penyintas Banjir.

Melalui kompetisi ini, Daniys, salah satu anggota tim, berharap inovasi mereka tidak sekadar berhenti sebagai rancangan konsep. “Kami berharap SOLAR BRIDGE dapat menjadi gagasan alternatif dalam penanganan bencana, terutama dengan menggabungkan fungsi akses dan energi dalam satu sistem yang lebih adaptif dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Kontributor: Tim PKM Solar Bridge
Penyunting Naskah: Fajar Budi

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
7 September 2026

FKG UGM Gelar Babak Semifinal OKGD dan DEPA’S INFECTION 2026

7 September 2026

Pertajam Kesadaran Kesehatan Gigi Anak, Departemen IKGA FKG UGM Sosialisasi & Launching Aplikasi MyOFunCare di TK ABA Gedongtengen

7 September 2026

FKG UGM Bekali Koas Angkatan 92 Ilmu Odontologi Forensik untuk Misi Kemanusiaan dan Hukum