Berita

/

Berita Terbaru

Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak FKG UGM Perkuat Mutu Pendidikan melalui Workshop Evaluasi Kurikulum OBE Tahap II

Transformasi pendidikan kedokteran gigi spesialis tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan fasilitas dan kemajuan teknologi, tetapi juga oleh kualitas kurikulum yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan perkembangan ilmu pengetahuan. Berangkat dari semangat tersebut, Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) menyelenggarakan Workshop Evaluasi Pembelajaran Kurikulum Outcome-Based Education (OBE) Tahap II di Ruang IUP Baru Lantai 1 Gedung OECF FKG UGM pada 18 Juli 2026. Workshop ini diikuti oleh dosen serta perwakilan residen Program Studi Spesialis Kedokteran Gigi Anak sebagai bagian dari upaya berkelanjutan dalam meningkatkan mutu pendidikan berbasis luaran (Outcome-Based Education).

Kegiatan tersebut merupakan kelanjutan dari proses pengembangan kurikulum yang menempatkan Outcome-Based Education (OBE) sebagai paradigma utama dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi kesehatan. Berbeda dengan pendekatan pembelajaran konvensional yang lebih menitikberatkan pada penyampaian materi, OBE berorientasi pada capaian kompetensi lulusan yang dapat diukur secara objektif. Dengan demikian, setiap aktivitas pembelajaran, metode asesmen, hingga pengalaman klinis mahasiswa dirancang untuk memastikan tercapainya kompetensi profesional sesuai kebutuhan pelayanan kesehatan masa kini.

Dalam workshop ini, para peserta secara aktif melakukan evaluasi terhadap implementasi kurikulum, menelaah kesesuaian antara Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) dengan strategi pembelajaran, serta mengidentifikasi berbagai aspek yang memerlukan penyempurnaan. Diskusi berlangsung secara kolaboratif dengan mengedepankan prinsip Continuous Quality Improvement (CQI), yaitu perbaikan mutu yang dilakukan secara sistematis, berkelanjutan, dan berbasis bukti. Pendekatan ini menjadi salah satu fondasi penting dalam sistem penjaminan mutu pendidikan tinggi, khususnya pada institusi yang mempersiapkan tenaga kesehatan profesional.

Secara analitis, evaluasi kurikulum OBE tidak hanya bertujuan memenuhi standar akreditasi, melainkan menjadi instrumen strategis dalam menjawab tantangan dunia kesehatan yang berkembang sangat cepat. Perubahan pola penyakit anak, kemajuan teknologi kedokteran gigi digital, berkembangnya praktik berbasis bukti (evidence-based dentistry), hingga meningkatnya tuntutan terhadap pelayanan yang berpusat pada pasien (patient-centered care) mengharuskan institusi pendidikan terus melakukan adaptasi kurikulum.

Melalui proses refleksi akademik yang komprehensif, peserta workshop menelaah efektivitas metode pembelajaran, relevansi asesmen kompetensi, integrasi pengalaman klinis, serta keterkaitan antara proses pendidikan dengan kebutuhan nyata di lapangan. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa kurikulum bukan sekadar dokumen administratif, melainkan instrumen dinamis yang harus terus diperbarui agar mampu menghasilkan lulusan yang responsif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan maupun kebutuhan masyarakat.

Lebih jauh, implementasi OBE juga mendorong perubahan paradigma dosen dari sekadar penyampai materi menjadi fasilitator pembelajaran yang berorientasi pada pencapaian kompetensi. Sementara itu, peserta didik didorong menjadi pembelajar aktif yang mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah klinis, komunikasi profesional, kolaborasi interprofesi, serta pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning). Kompetensi-kompetensi tersebut menjadi modal utama bagi dokter gigi spesialis anak dalam menghadapi kompleksitas pelayanan kesehatan modern.

Workshop ini juga menunjukkan komitmen Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak FKG UGM dalam membangun budaya akademik yang kolaboratif. Keterlibatan dosen bersama perwakilan residen mencerminkan pentingnya partisipasi seluruh pemangku kepentingan dalam proses penyempurnaan kurikulum. Melalui dialog yang konstruktif, berbagai pengalaman implementasi pembelajaran dapat diidentifikasi secara lebih objektif sehingga rekomendasi yang dihasilkan memiliki dasar empiris yang kuat.

Secara inspiratif, kegiatan ini menjadi bukti bahwa peningkatan mutu pendidikan tidak pernah berhenti pada penyusunan kurikulum semata. Kualitas pendidikan justru dibangun melalui budaya evaluasi yang berkesinambungan, keterbukaan terhadap perubahan, serta komitmen seluruh sivitas akademika untuk terus belajar dan berinovasi. Dalam konteks pendidikan kedokteran gigi spesialis, upaya tersebut memiliki dampak yang jauh lebih luas karena pada akhirnya bermuara pada peningkatan kualitas pelayanan kesehatan bagi anak-anak Indonesia.

Melalui penyelenggaraan Workshop Evaluasi Pembelajaran Kurikulum OBE Tahap II, Program Studi Spesialis Kedokteran Gigi Anak FKG UGM menegaskan komitmennya dalam menghasilkan dokter gigi spesialis anak yang kompeten, profesional, adaptif, berintegritas, dan siap menghadapi tantangan pelayanan kesehatan di era transformasi pendidikan tinggi. Evaluasi kurikulum yang dilakukan secara ilmiah, sistematis, dan berorientasi pada peningkatan mutu diharapkan menjadi fondasi kuat bagi lahirnya lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi masyarakat.

(Kontributor: drg. Fitta, Redaksi : Andri Wicaksono)

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
20 Juli 2026

Hubungan Kesehatan dan Integritas

20 Juli 2026

FKG UGM ‘Bedah’ Kurikulum & Tantangan Regulasi Baru Penyelenggaraan Pendidikan Dokter Gigi Spesialis (Sp-2)

20 Juli 2026

Ketika Tikus Transgenik Membuka Jendela Baru Memahami Kanker Mulut

id_ID