Sebuah serbuk logam berwarna abu-abu metalik, sekecil partikel debu, dimasukkan ke dalam tabung berisi darah segar kelinci. Tabung itu lalu diputar selama tiga jam dalam inkubator 37 derajat Celsius, mensimulasikan kondisi yang mendekati aliran darah di dalam tubuh. Dari situ, drg. Yosaphat Bayu Rosanto, MDSc, Sp.BMM dan timnya ingin menjawab satu pertanyaan yang selama ini belum pernah diuji secara sistematis: apakah cobalt chromium, logam yang semakin populer sebagai bahan implan gigi, aman bersentuhan dengan darah manusia?
Jawaban yang mereka temukan tidak sesederhana ya atau tidak.
Ketika Logam Bertemu Eritrosit
Implan gigi bukan sekadar pengganti estetika. Ia ditanam langsung ke dalam tulang rahang, berkontak dengan jaringan lunak, cairan tubuh, dan tentu saja darah. Standar keamanan material semacam ini mensyaratkan sifat biokompatibilitas, kemampuan material untuk hidup berdampingan dengan tubuh tanpa memicu kerusakan. Salah satu aspek biokompatibilitas yang krusial adalah hemokompatibilitas: seberapa besar material tersebut merusak sel darah merah, atau dalam istilah medisnya, memicu hemolisis.
Hemolisis adalah kondisi di mana membran eritrosit pecah dan hemoglobin terlepas ke plasma darah. Dalam skala kecil, tubuh dapat mengatasinya. Dalam skala besar, hemolisis bisa berujung pada anemia hemolitik yang membahayakan.
Penelitian yang diterbitkan dalam Majalah Kedokteran Gigi Indonesia ini menggunakan cobalt chromium jenis Remanium® GM 800 produksi Dentaurum, dengan komposisi utama cobalt 63,3% dan chromium 30%, ditambah molibdenum, nikel, karbon, besi, dan sejumlah elemen jejak. Material ini diujikan dalam enam tingkat konsentrasi berbeda: 2,5%, 5%, 10%, 20%, 40%, dan 80%, mengacu pada protokol uji hemolisis standar internasional ASTM-F075.
Batas Aman yang Terukur
Hasilnya menunjukkan gradasi yang tajam. Pada konsentrasi 2,5%, 5%, dan 10%, tidak ada hemolisis yang terdeteksi, persentasenya berada di angka 0 hingga 0,98%. Masuk ke konsentrasi 20%, rerata hemolisis naik ke 2,28%, masuk kategori hemolisis ringan. Lompatan terjadi pada konsentrasi 40% dan 80%, dengan rerata masing-masing 5,87% dan 8,47%, keduanya masuk kategori hemolisis penuh.
Analisis statistik Kruskal-Wallis mengonfirmasi bahwa perbedaan antar kelompok bersifat signifikan (p = 0,009). Semakin tinggi konsentrasi serbuk logam, semakin besar gaya gesek yang terjadi antara partikel cobalt chromium dengan dinding eritrosit, dan semakin banyak sel darah merah yang pecah.
“Semakin tinggi konsentrasi suspensi, semakin banyak jumlah serbuk logam cobalt chromium yang digunakan, sehingga semakin banyak gaya gesek yang terjadi antara eritrosit dengan logam cobalt chromium.” — Yosaphat Bayu Rosanto, MDSc, Sp.BMM, dkk., dalam Majalah Kedokteran Gigi Indonesia, 2016
Menariknya, hemolisis yang terjadi bukan disebabkan oleh pelepasan ion logam beracun, mekanisme yang selama ini paling diwaspadai dalam penelitian biokompatibilitas logam. Cobalt chromium memiliki lapisan chromium oxide (Cr₂O₃) di permukaannya yang berfungsi sebagai pelindung pasif, mencegah ion-ion berbahaya seperti Co, Cr, Mo, dan Ni terlepas ke jaringan. Kerusakan eritrosit dalam penelitian ini lebih bersifat mekanis: gesekan fisik antara permukaan serbuk yang kasar dan tidak homogen dengan membran sel darah merah.
Potensi Besar, Syarat Ketat
Temuan ini membawa implikasi ganda. Di satu sisi, cobalt chromium menunjukkan potensi nyata sebagai material implan gigi alternatif selain titanium yang selama ini mendominasi pasar. Sifat resistensinya terhadap korosi, kekerasan tinggi, bobot yang relatif ringan, dan harga yang lebih ekonomis menjadikannya kandidat serius, terutama untuk negara berkembang yang membutuhkan opsi implan yang lebih terjangkau.
Di sisi lain, penelitian ini menegaskan bahwa keamanan material tidak bisa diasumsikan begitu saja. Konsentrasi dan bentuk fisik material sama-sama menentukan tingkat bahayanya. Serbuk cobalt chromium yang dihasilkan melalui proses pembubutan atau grinding menghasilkan permukaan kasar dan ukuran partikel yang tidak seragam, faktor yang berkontribusi pada variabilitas hasil antar replikasi dalam penelitian ini.
Tim peneliti menyarankan pengujian lanjutan menggunakan serbuk dengan metode atomized spherical yang menghasilkan partikel lebih halus dan homogen. Uji perendaman logam dalam sampel darah tanpa rotasi juga direkomendasikan untuk memisahkan efek mekanis dari efek kimia secara lebih bersih.
Implan gigi yang ideal bukan hanya yang kuat menahan kunyahan atau indah secara estetika. Ia juga harus bisa dipercaya di tingkat paling fundamental: tidak merusak darah yang mengalirinya. Penelitian drg. Yosaphat Bayu Rosanto, MDSc, Sp.BMM bersama W. Widjiono dan Teguh Triyono ini meletakkan satu batu pijakan penting dalam perjalanan panjang menuju implan gigi yang benar-benar aman, terjangkau, dan layak untuk tubuh manusia.
Sumber DOI : http://dx.doi.org/10.22146/majkedgiind.10737
Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Pexels