Bayangkan dua penyakit yang tampak tidak berkaitan — satu menyerang sendi-sendi tangan hingga bengkak dan kaku, satu lagi menggerogoti jaringan penyangga gigi secara perlahan — ternyata berbagi “bahasa” yang sama di dalam tubuh. Itulah benang merah yang ditelusuri drg. Poerwati Soetji Rahajoe, Sp.BM., dari Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial RSUP Dr. Sardjito/Universitas Gadjah Mada, bersama tim peneliti dari University Medical Center Groningen, Belanda, dalam sebuah artikel ulasan yang diterbitkan jurnal Oral Diseases pada 2019.
Pertanyaan yang mendorong riset ini sederhana namun dalam: apakah cairan yang merembes dari celah antara gusi dan gigi — disebut gingivocrevicular fluid (GCF) — bisa menjadi cermin yang memperlihatkan keterkaitan antara periodontitis dan rheumatoid arthritis (RA)?
Dua Penyakit, Satu Badai Peradangan
Rheumatoid arthritis adalah penyakit autoimun sistemik yang merusak sendi secara ireversibel. Periodontitis, di sisi lain, adalah infeksi bakteri yang menghancurkan tulang dan jaringan lunak penyangga gigi. Keduanya tampak jauh berbeda. Namun keduanya meninggalkan jejak yang nyaris identik: kerusakan tulang, kehancuran jaringan lunak, dan kadar penanda inflamasi yang tinggi di dalam darah.
Tim yang dipimpin drg. Poerwati Soetji Rahajoe, Sp.BM., menyisir basis data MedLine/PubMed hingga Juni 2019 dan menemukan 64 artikel yang berpotensi relevan. Setelah proses seleksi ketat, 19 studi memenuhi kriteria inklusi: 10 studi observasional dan 9 studi tentang pengaruh terapi. Hasilnya merangkum satu gambaran yang konsisten — pasien RA memiliki kadar sitokin pro-inflamasi yang lebih tinggi, baik dalam darah maupun dalam GCF, bahkan ketika mereka sudah menjalani terapi anti-reumatik.
Sitokin-sitokin yang diteliti meliputi nama-nama yang lazim dalam dunia imunologi: TNF-α, IL-1β, IL-6, IL-17A, hingga matrix metalloproteinase (MMP) yang berperan dalam degradasi jaringan. Ketika periodontitis hadir bersamaan dengan RA, kadar sitokin-sitokin ini melonjak lebih tinggi lagi, menunjukkan bahwa dua penyakit ini tidak sekadar berdampingan — mereka saling memperburuk.
Cairan Tipis di Celah Gusi sebagai Jendela Diagnostik
GCF adalah eksudat yang terbentuk di sulkus gingiva, celah sempit antara gigi dan gusi. Jumlahnya meningkat ketika jaringan periodontal meradang. Di dalamnya tersimpan komponen serum, produk kerusakan jaringan, mediator inflamasi, hingga substansi dari biofilm bakteri. Secara teknis, GCF bisa dikumpulkan dengan strip kertas kecil — prosedur yang relatif non-invasif.
Ulasan ini menggarisbawahi potensi GCF sebagai biomarker lokal yang mencerminkan kondisi sistemik. Pada pasien RA dengan periodontitis, GCF menunjukkan kadar MMP-9 yang lebih tinggi dibanding pasien periodontitis tanpa RA. Kadar MMP-8 pun meningkat seiring dengan bertambahnya keparahan penyakit periodontal, baik pada pasien RA maupun bukan.
“Analisis GCF pada pasien RA mengungkapkan bahwa hubungan antara periodontitis dan RA bersifat dua arah, kemungkinan besar disebabkan oleh beban inflamasi non-spesifik.”
Demikian simpulan yang dituliskan dalam paper tersebut — sebuah pernyataan yang membuka pintu bagi pendekatan baru dalam manajemen pasien RA.
Terapi yang Saling Menguntungkan
Temuan yang mungkin paling bernilai klinis dari ulasan ini adalah efek timbal balik antara terapi periodontal dan terapi anti-reumatik. Ketika pasien RA mendapat terapi anti-TNF-α — salah satu kelas biological disease-modifying anti-rheumatic drugs (DMARDs) — kadar TNF-α, IL-1β, dan IL-8 dalam GCF turun secara signifikan. Lebih dari itu, indeks inflamasi periodontal juga membaik, terlepas dari status kebersihan mulut pasien.
Sebaliknya, terapi periodontal non-bedah berupa scaling and root planing pada pasien RA terbukti menurunkan kadar sitokin pro-inflamasi di GCF, terutama IL-1β, IL-6, TNF-α, MMP-8, dan prostaglandin E2. Efek anti-inflamasi lokal ini bahkan lebih nyata pada pasien RA dibanding pasien periodontitis tanpa RA. Sejumlah studi juga mencatat penurunan skor aktivitas penyakit RA (DAS28) setelah terapi periodontal dilakukan.
Artinya: merawat gusi bukan hanya urusan mulut. Bagi pasien RA, kebersihan periodontal yang terjaga bisa turut meringankan beban inflamasi sistemik yang selama ini menghantui sendi-sendi mereka.
Keterbatasan dan Pertanyaan yang Belum Terjawab
Ulasan ini tidak menutup mata terhadap keterbatasan yang ada. Metode pengambilan GCF sangat teknik-sensitif; kualitas dan kuantitas sampel mudah dipengaruhi oleh cara pengumpulan. Desain metodologis yang tidak seragam di antara studi-studi yang dianalisis turut menghasilkan data yang kadang kontradiktif.
Yang lebih mendasar: autoantibodi khas RA seperti anti-citrullinated protein antibodies (ACPAs) dan rheumatoid factor (RF) belum pernah diteliti secara sistematis dalam GCF pasien RA. Padahal, jika hipotesis bahwa periodontitis menjadi titik awal pemicu autoimunitas pada RA itu benar, maka justru di GCF-lah jejak paling awal dari proses tersebut seharusnya bisa ditemukan.
Penelitian drg. Poerwati Soetji Rahajoe, Sp.BM., dan tim ini menegaskan bahwa rongga mulut bukan wilayah yang berdiri sendiri dalam peta kesehatan manusia. Ia terhubung, dengan cara yang kompleks dan kadang mengejutkan, ke sistem-sistem lain yang jauh lebih dalam. Dan GCF — cairan tipis yang hampir tidak terlihat di celah gusi itu — mungkin menyimpan lebih banyak informasi dari yang selama ini kita bayangkan.
Sumber DOI : 10.1111/odi.13145
Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Pexels