Berita

/

Artikel, Berita Terbaru, SDG 10, SDG 12, SDG 15, SDG 3, SDG 9

Bunga Rosella di Laboratorium: Ketika Tanaman Kebun Menantang Bakteri Penyebab Infeksi

Warna merahnya mencolok, rasanya asam segar, dan selama ini lebih banyak dikenal sebagai bahan minuman herbal. Tapi di balik cangkir teh rosella yang biasa tersaji di meja keluarga, tersimpan potensi yang jauh lebih serius: kemampuan menghambat bakteri penyebab infeksi kulit, tipes, bahkan infeksi rumah sakit yang kerap mengancam pasien dengan imunitas rendah.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Sainstech mengungkap temuan yang patut dicermati. Ekstrak etanol bunga rosella (Hibiscus sabdariffa L.) terbukti mampu menghambat pertumbuhan tiga bakteri patogen sekaligus: Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, dan Salmonella thypi. Yang menarik, daya hambatnya tidak merata. Rosella jauh lebih agresif melawan bakteri gram positif dibanding gram negatif.

Dari Kebun Depok ke Meja Laboratorium Bogor

Perjalanan penelitian ini dimulai dari ladang sederhana di Simpangan, Depok. Bunga rosella segar yang masih kuncup, berusia tiga hingga empat minggu, dipanen dari hasil budidaya petani setempat. Dari sana, proses panjang dimulai: sortasi, pengeringan selama tiga minggu dengan cara diangin-anginkan, penghalusan menjadi serbuk, hingga ekstraksi menggunakan metode maserasi dengan etanol 70%.

Pengujian dilakukan di Laboratorium Bakteriologi Balai Besar Penelitian Veteriner (BBALITVET), Cimanggu, Bogor. Tim peneliti menggunakan dua metode standar: difusi cakram untuk mengukur zona hambat, dan dilusi untuk menentukan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM), yaitu konsentrasi terendah yang masih mampu menghentikan pertumbuhan bakteri.

Sebelum diuji ke bakteri, serbuk dan ekstrak rosella terlebih dahulu diidentifikasi kandungan kimianya. Hasilnya konsisten: flavonoid, saponin, tanin, fenolik, triterpenoid, dan glikosida semuanya terdeteksi. Keenam senyawa ini dikenal memiliki aktivitas antibakteri, dan inilah yang diduga menjadi “pasukan” di balik daya hambat rosella.

Angka yang Bicara

Pada konsentrasi ekstrak 50%, zona hambat yang terbentuk cukup mengesankan. S. aureus mencatat diameter daerah hambat pertumbuhan (DHP) tertinggi, yakni rata-rata 28 mm, dengan nilai KHM 5%. S. epidermidis mengikuti dengan DHP 26,6 mm dan KHM 4%. Sementara Salmonella thypi, bakteri gram negatif penyebab tipes, hanya menghasilkan DHP 18 mm dengan KHM 7%.

Perbedaan respons antara gram positif dan gram negatif ini bukan kebetulan. Bakteri gram negatif memiliki membran luar tambahan yang berfungsi sebagai lapisan pelindung, membuat senyawa aktif dari ekstrak rosella lebih sulit menembus dinding selnya. Sebaliknya, gram positif yang hanya memiliki lapisan peptidoglikan lebih rentan terhadap serangan senyawa fenolik dan flavonoid.

Relevansi klinis temuan ini cukup signifikan. S. epidermidis, misalnya, dikenal sebagai bakteri penyebab infeksi nosokomial yang membentuk biofilm pada peralatan medis. Bakteri ini menyerang pasien dengan imunitas rendah: penderita AIDS, bayi baru lahir, hingga pasien yang dirawat dalam jangka panjang. S. aureus di sisi lain bertanggung jawab atas bisul, jerawat, hingga artritis septik.

Potensi yang Menunggu Dikembangkan

Dr. drg. Andi Triawan, Sp.Ort., dari Departemen Ortodonsia FKG UGM, melihat temuan ini dalam konteks yang lebih luas. Dalam diskusi mengenai potensi bahan alam untuk kesehatan rongga mulut, ia mencatat bahwa bakteri seperti S. aureus dan S. epidermidis juga relevan dalam konteks infeksi oral dan peralatan ortodontik.

“Penelitian seperti ini membuka pintu untuk eksplorasi lebih lanjut. Bahan alami yang terbukti memiliki aktivitas antibakteri secara in vitro perlu ditelusuri lebih jauh, termasuk keamanannya pada jaringan biologis dan efektivitasnya dalam kondisi klinis yang lebih kompleks.”

Catatan penting memang perlu digarisbawahi: penelitian ini bersifat in vitro, dilakukan dalam kondisi laboratorium yang terkontrol. Perjalanan dari cawan petri ke aplikasi klinis masih panjang dan memerlukan serangkaian uji lanjutan.

Namun konteks sosialnya tak bisa diabaikan begitu saja. Harga obat antibiotik konvensional yang terus meningkat membuat banyak masyarakat mencari alternatif. Rosella tumbuh subur di iklim tropis Indonesia, mudah dibudidayakan, dan selama ini sudah akrab di dapur. Jika potensi antibakterinya berhasil dikembangkan menjadi formula yang terstandarisasi, tanaman ini bisa menjadi bagian dari solusi kesehatan yang lebih terjangkau.

Pertanyaannya bukan lagi apakah rosella punya manfaat. Data laboratorium sudah menjawab itu. Pertanyaannya adalah: seberapa jauh kita serius menggarapnya.

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
21 Juli 2026

FKG UGM Usung Konsep Green Dentistry pada Summer Course 2026

21 Juli 2026

Ketika Karier Mandek, Siapa yang Bertanggung Jawab?

21 Juli 2026

Nanokitosan Lawan Bakteri Tersembunyi di Balik Kawat Gigi

id_ID