Berita

/

Artikel, Berita Terbaru

Satu Wajah, Banyak Tangan: Penanganan Celah Bibir dan Langit-Langit dengan Pendekatan Lintas Spesialisasi

Perempuan itu datang ke Rumah Sakit Gigi dan Mulut Prof. Soedomo UGM dengan satu keluhan sederhana: tampilan gigi depannya membuatnya tidak percaya diri. Usianya 20 tahun, 2 bulan. Di balik keluhan itu tersimpan kompleksitas yang jauh lebih dalam, sebuah kondisi yang sudah menyertai hidupnya sejak lahir.

Ia lahir dengan celah bibir dan langit-langit bilateral komplit nonsindromik, kondisi yang dalam istilah medis disebut complete bilateral cleft lip, alveolus, and palate (CBCLAP). Operasi perbaikan bibir dan langit-langit telah dilakukan saat ia berusia satu tahun. Namun selama hampir dua dekade berikutnya, tidak ada intervensi ortodontik lanjutan. Kedua sisi celah alveolar masih terbuka. Langit-langit lunak hanya tertutup sebagian. Ada fistula di palatum anterior. Dan wajahnya menampilkan profil cekung khas maloklusi Kelas III skeletal.

Kasus ini kemudian menjadi subjek laporan ilmiah yang diterbitkan di Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) pada Maret 2023, ditulis oleh tim peneliti yang melibatkan drg. Aulia Ayub, Sp.Ort dari Departemen Ortodonsia FKG UGM, bersama Retno Iswati, Cendrawasih Andusyana Farmasyanti, Ananto Ali Alhasyimi, dan pakar ortodonti internasional Prof. Anne Marie Kuijpers-Jagtman dari University Medical Centre Groningen, Belanda.

Wajah yang Menyimpan Sejarah Bedah

Pemeriksaan sefalometrik mengungkap gambaran yang kompleks. Sudut ANB pasien tercatat –4°, jauh dari rentang normal, menandakan ketidaksesuaian signifikan antara posisi maksila dan mandibula. Insisivus atas mengalami retroinklinasi berat (U1-palatal plane: 106°), sementara bibir atas sangat retrusi. Rongga mulut menunjukkan crowding di lengkung maksila, crossbite anterior dan posterior, serta kebersihan mulut yang buruk, ditandai perdarahan saat penyikatan.

Gambaran panoramik memperlihatkan ketiadaan insisivus lateral atas kanan dan kiri, akar sisa (radix relicta) pada premolar kedua, gangren pada dua gigi posterior, serta nekrosis pulpa pada gigi insisivus sentral atas kiri. Sejarah operasi perbaikan celah di masa kecil meninggalkan jaringan parut yang mempersempit lengkung maksila secara signifikan, sebuah efek samping yang sudah lama diketahui dari prosedur palatoplasti dini.

Kondisi ini menggambarkan tantangan nyata yang dihadapi pasien celah bibir dan langit-langit: bukan sekadar masalah estetika, melainkan akumulasi gangguan pertumbuhan dentofasial yang berlapis.

Lima Spesialisasi, Satu Tujuan

Tim yang menangani pasien ini tidak terdiri dari satu spesialis. Rencana perawatan disusun bersama oleh ortodontis, endodontis, dokter gigi konservasi, periodontis, dan prostodontis. Keterbatasan finansial pasien turut menjadi pertimbangan, sehingga intervensi bedah tambahan seperti bone grafting tidak masuk dalam rencana.

Perawatan dimulai dengan tahapan bedah-konservatif: pencabutan akar sisa premolar dan gigi gangrenous, perawatan saluran akar pada insisivus sentral, serta restorasi karies. Setelah itu, ekspansi maksila lambat (slow maxillary expansion/SME) dilakukan selama empat bulan untuk mencapai ekspansi empat milimeter. Pilihan SME, bukan ekspansi cepat, didasari pertimbangan bahwa gaya intermiten yang kuat dari alat ekspansi tipe sekrup berpotensi merusak jaringan lunak yang sudah mengalami parut akibat operasi sebelumnya.

“Perawatan ortodontik untuk pasien ini merupakan sebuah tantangan. Pendekatan multidisiplin menghasilkan perbaikan signifikan pada estetika wajah dan gigi, sekaligus meningkatkan fungsi.” — Iswati et al., Dental Journal, 2023

Setelah ekspansi tercapai, alat cekat standard edgewise 0,022 inci dipasang pada kedua lengkung. Elastik intermaksiler Kelas III digunakan untuk mendorong rotasi mandibula searah jarum jam, memperbaiki hubungan sagital. Sebelas bulan setelah pemasangan alat cekat, crossbite anterior dan posterior telah terkoreksi sepenuhnya.

Dari Crossbite ke Profil Harmonis

Total perawatan ortodontik berlangsung 24 bulan. Hasil akhirnya: relasi Kelas I tercapai, overjet dan overbite ideal, profil wajah membaik dengan posisi bibir atas yang lebih maju dan bibir bawah yang lebih ke posterior. Analisis sefalometrik pasca-perawatan menunjukkan sudut konveksitas bergerak dari –7° menjadi –4°, dan posisi bibir atas terhadap E-line Ricketts membaik dari –6 mm menjadi –1 mm.

Fase akhir melibatkan gingivektomi dan gingivoplasti oleh periodontis untuk menyeragamkan margin gingiva, restorasi veneer pada insisivus sentral oleh dokter gigi konservasi, serta pembuatan gigi tiruan lepasan untuk menggantikan insisivus lateral yang tidak ada. Retainer Hawley dengan dua gigi tiruan lateral sekaligus berfungsi sebagai obturator, menutup sisa defek palatum untuk memperbaiki fungsi bicara dan menelan.

Pasien menyatakan puas dengan hasil yang dicapai.

Kasus ini menegaskan bahwa penanganan celah bibir dan langit-langit bukan pekerjaan satu tangan. Ia membutuhkan koordinasi yang cermat, waktu yang panjang, dan kepercayaan pasien yang dijaga dari awal hingga akhir. Untuk seorang perempuan yang sudah membawa bekas operasi sejak usia satu tahun, dua puluh empat bulan di kursi perawatan mungkin terasa lama. Tapi hasilnya, sebuah senyum yang akhirnya bisa ia tunjukkan dengan percaya diri, bisa jadi sepadan.

Sumber DOI : 10.20473/j.djmkg.v56.i1.p7–12

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
6 Agustus 2026

Penutupan Monev Kolegium & KKI Kedokteran Gigi Anak di Prodi Spesialis Kedokteran Gigi Anak FKG UGM

6 Agustus 2026

dr. Hasto Wardoyo Menantang Mahasiswa Baru FKG UGM Menjadi Insan Kedokteran Gigi Berintegritas

5 Agustus 2026

Prodi IKGA FKG UGM Menjawab Tantangan & Hadirkan Inovasi Orofasial, Dalam Monev Kolegium KGA

id_ID