Berita

/

Berita Terbaru

FKG UGM Bersama POTMAGI Bangun Sinergitas Pendidikan yang Kuat, Transparan, & Berorientasi Global

Tidak banyak fakultas yang mengawali perjalanan mahasiswa baru dengan mengundang orang tua untuk duduk bersama membicarakan kurikulum, sistem evaluasi, ujian profesi, peluang internasional, organisasi kemahasiswaan, hingga mekanisme surat peringatan akademik. Lebih jarang lagi yang secara terbuka menjelaskan bahwa mahasiswa dapat diminta mengundurkan diri apabila tidak memenuhi standar akademik pada tahapan tertentu.

Namun itulah yang dilakukan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM). Di hadapan ratusan orang tua dan wali mahasiswa baru FKG UGM yang terwadahi dalam forum POTMAGI (Persatuan Orang Tua Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi). Fakultas memilih membuka seluruh “peta perjalanan” pendidikan dokter gigi sejak hari pertama. Tidak ada ruang yang disembunyikan: mulai dari beratnya beban studi, ketatnya evaluasi akademik, tuntutan kompetensi klinik, hingga peluang berkiprah di tingkat internasional.
Pendekatan tersebut menyampaikan satu pesan penting: keberhasilan mahasiswa kedokteran gigi bukan hanya tanggung jawab kampus ataupun mahasiswa semata. Ia merupakan hasil kerja sama tiga unsur yang saling menguatkan, yakni institusi pendidikan, keluarga, dan mahasiswa itu sendiri.

Di tengah meningkatnya kompleksitas pendidikan profesi kesehatan serta tingginya ekspektasi masyarakat terhadap kualitas pelayanan medis, langkah FKG UGM menghadirkan orang tua sebagai bagian dari ekosistem pendidikan menunjukkan perubahan paradigma yang patut dicermati.

Pendidikan Kedokteran Gigi Bukan Sekadar Kuliah Delapan Semester

Selama ini banyak masyarakat memandang pendidikan dokter gigi sebatas kuliah selama empat tahun kemudian melanjutkan profesi. Kenyataannya jauh lebih kompleks.

Ketua Program Studi S1 Kedokteran Gigi FKG UGM, drg. Aryan Morita, M.Sc., Ph.D., menjelaskan bahwa mahasiswa harus menyelesaikan pendidikan sarjana selama delapan semester dengan total 158 SKS sebelum memasuki pendidikan profesi. Pada fase ini mahasiswa belum diperbolehkan melakukan tindakan terhadap pasien. Fokus utama pendidikan adalah penguasaan ilmu dasar, praktikum laboratorium, skill lab, serta Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Penjelasan tersebut sesungguhnya mengoreksi persepsi publik bahwa mahasiswa kedokteran gigi sejak awal sudah belajar langsung menangani pasien. Sebaliknya, fondasi akademik justru dibangun melalui proses panjang sebelum mahasiswa memasuki dunia klinik.

Pendekatan seperti ini mencerminkan filosofi dasar pendidikan profesi kesehatan: keselamatan pasien dimulai dari kualitas pendidikan. Seorang calon dokter tidak hanya dituntut menguasai teori, tetapi juga harus memiliki kematangan berpikir, kemampuan analitis, ketelitian, komunikasi, hingga integritas profesional.

Ketika Kampus Tidak Membiarkan Mahasiswa “Tersesat”

Salah satu bagian paling menarik dalam sosialisasi tersebut adalah penjelasan mengenai sistem evaluasi akademik. FKG UGM menerapkan evaluasi sejak tahun kedua. Mahasiswa pada semester empat diwajibkan telah mengumpulkan minimal 30 SKS dengan IPK sekurang-kurangnya 2,00. Bila tidak menunjukkan perkembangan yang memadai, mahasiswa dapat diminta mengundurkan diri. Selain itu, masa studi S1 dibatasi maksimal tujuh tahun. Surat Peringatan (SP) diberikan secara bertahap mulai semester delapan, sepuluh, hingga sebelas. Mahasiswa yang belum menyelesaikan studi pada tahapan tertentu bahkan dapat mengalami penguncian portal akademik dan wajib mengajukan perpanjangan studi. Seluruh pemberitahuan akademik ditembuskan kepada orang tua serta dosen pembimbing akademik.

Kebijakan tersebut memperlihatkan bahwa FKG UGM memilih pendekatan pengawasan yang aktif, bukan pasif. Dalam banyak perguruan tinggi, mahasiswa sering kali baru menyadari adanya persoalan ketika masa studi hampir habis. Sistem yang diterapkan FKG UGM justru mencoba mendeteksi risiko sejak dini sehingga mahasiswa memperoleh kesempatan melakukan perbaikan sebelum terlambat.

Secara kritis, model ini menunjukkan bahwa kualitas pendidikan tinggi tidak semata-mata ditentukan oleh kurikulum, melainkan juga oleh sistem monitoring yang konsisten. Namun efektivitasnya akan sangat bergantung pada kualitas pendampingan akademik. Surat peringatan semestinya tidak hanya menjadi instrumen administratif, melainkan pintu masuk bagi pembinaan yang lebih personal.

Orang Tua Tidak Lagi Menjadi Penonton

Perubahan paling mendasar yang tampak dalam kegiatan ini adalah posisi orang tua. Selama bertahun-tahun pendidikan tinggi di Indonesia cenderung memisahkan mahasiswa dari keluarga. Ketika mahasiswa memasuki perguruan tinggi, komunikasi akademik hampir sepenuhnya berlangsung antara mahasiswa dan kampus.

FKG UGM mengambil pendekatan berbeda. Melalui forum dialog terbuka, orang tua diberi kesempatan memahami seluruh proses pendidikan sekaligus menyampaikan berbagai pertanyaan, mulai dari kurikulum International Undergraduate Program (IUP), masa kepaniteraan klinik, peluang percepatan studi, Entry Exam, hingga beasiswa.

Dalam forum tersebut muncul apresiasi sekaligus rasa ingin tahu dari para wali mahasiswa. Ibu Lely Kusumaningrum, misalnya, menanyakan perbedaan kurikulum IUP dengan program reguler, lokasi kepaniteraan klinik, serta jejaring universitas mitra di luar negeri. Pertanyaan lain datang mengenai percepatan studi, sistem ujian profesi, maupun informasi beasiswa.

Dialog semacam ini memperlihatkan bahwa pendidikan tinggi kini semakin menuntut transparansi. Orang tua tidak hanya ingin mengetahui biaya pendidikan, tetapi juga ingin memahami bagaimana anak-anak mereka dibentuk menjadi tenaga kesehatan profesional.

Menjaga Mutu Sebelum Mahasiswa Menangani Pasien

Tahapan paling menentukan dalam pendidikan dokter gigi adalah ketika mahasiswa memasuki Program Studi Profesi Dokter Gigi atau kepaniteraan klinik. Ketua Program Studi Profesi Dokter Gigi, Dr. drg. Ruri Ratna Santiningsih, M.D.Sc., Sp.R.K.G., menjelaskan bahwa mahasiswa wajib melewati Entry Exam yang terdiri atas Computer Based Test (CBT) dan Objective Structured Clinical Examination (OSCE). Evaluasi tersebut dilaksanakan empat kali dalam setahun sebagai mekanisme untuk memastikan kesiapan mahasiswa memasuki pendidikan klinik.
Sesudah itu mahasiswa masih harus menjalani ujian klinik pada setiap stase, ujian komprehensif, hingga try out menghadapi Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter Gigi (UKMPPDG). Lulusan kemudian diwajibkan mengikuti program internship sesuai regulasi Kementerian Kesehatan. Rangkaian evaluasi tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan profesi kesehatan tidak mengenal jalan pintas. Setiap tahapan dirancang untuk meminimalkan risiko ketika mahasiswa nantinya menangani pasien secara langsung.

Global, Tetapi Tetap Berakar di Indonesia

FKG UGM juga memperlihatkan bahwa internasionalisasi pendidikan tidak identik dengan meninggalkan kebutuhan masyarakat lokal. Program International Undergraduate Program (IUP) memberikan kesempatan kepada mahasiswa mengikuti international exposure selama dua hingga tiga minggu di semester lima atau enam melalui kerja sama dengan berbagai universitas di Malaysia, Jepang, dan Belanda. Meski demikian, pendidikan profesi seluruh mahasiswa WNI tetap dilaksanakan di Rumah Sakit Gigi dan Mulut UGM. Mahasiswa IUP bahkan tetap dituntut mampu berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia dan Jawa ketika melayani pasien. Pendekatan tersebut memperlihatkan keseimbangan antara wawasan global dan tanggung jawab lokal.

Satu-Satunya Program Sarjana Higiene Gigi

Keunggulan lain yang dipaparkan dalam sosialisasi adalah keberadaan Program Studi Sarjana Higiene Gigi. Menurut Ketua Program Studi S1 Higiene Gigi, Dr. Leny Pratiwi Arie Sandy, S.Kp.G., MDSc. program ini merupakan satu-satunya pendidikan Sarjana Higiene Gigi di Indonesia. Program tersebut telah memperoleh akreditasi Unggul dari LAM-PTKes dan akreditasi internasional ASIIN. Mahasiswa menjalani kurikulum 144 SKS yang memadukan kuliah, laboratorium, praktik klinik di RSGM UGM, praktik lapangan, hingga kesempatan mengikuti pertukaran mahasiswa dengan Niigata University, Jepang. Keberadaan program ini memperlihatkan bahwa pengembangan kesehatan gigi tidak lagi bertumpu pada profesi dokter gigi semata, tetapi juga membutuhkan tenaga profesional lain yang memiliki kompetensi promotif, preventif, edukatif, dan penelitian.

Organisasi Mahasiswa sebagai Laboratorium Kepemimpinan

Pendidikan dokter gigi ternyata tidak berhenti di ruang kuliah. Ketua BEM KM FKG UGM, Ataila Faza Aditama, menjelaskan bahwa organisasi mahasiswa menjadi ruang belajar kepemimpinan yang tidak dapat diperoleh dari perkuliahan formal. BEM KM FKG UGM saat ini menaungi 167 staf dengan 71 program kerja. Menurut Ata, banyak pengurus organisasi yang tetap mampu mempertahankan prestasi akademik, menjadi asisten praktikum, meraih prestasi nasional di PIMNAS, hingga berprestasi di bidang olahraga.

Pesan yang ingin disampaikan cukup jelas. Mahasiswa kesehatan tidak cukup hanya menjadi individu yang cerdas secara akademik. Mereka juga harus mampu bekerja dalam tim, berkomunikasi, memimpin, serta mengambil keputusan di tengah tekanan.

Pendidikan Berkualitas Memerlukan Kepercayaan

Keseluruhan rangkaian sosialisasi ini menunjukkan satu benang merah yang kuat. FKG UGM berupaya membangun kepercayaan melalui keterbukaan informasi. Mulai dari aturan akademik yang ketat, peluang internasional, mekanisme ujian profesi, organisasi kemahasiswaan, hingga peluang beasiswa disampaikan secara terbuka kepada orang tua. Dalam konteks pendidikan tinggi modern, transparansi merupakan modal penting membangun kepercayaan publik. Semakin tinggi standar yang diterapkan sebuah institusi, semakin besar pula kebutuhan untuk menjelaskan alasan di balik setiap kebijakan.

Membangun Dokter Gigi Masa Depan

Pada akhirnya, sosialisasi ini tidak sekadar menjadi kegiatan penyambutan mahasiswa baru. Ini merupakan deklarasi mengenai bagaimana FKG UGM memandang pendidikan dokter gigi. Bahwa menjadi dokter gigi bukan sekadar lulus ujian. Bukan pula sekadar menyelesaikan SKS.

Melainkan proses panjang membangun karakter, integritas, kepemimpinan, kemampuan komunikasi, kompetensi klinis, wawasan global, serta kepedulian kepada masyarakat.

Dalam era ketika dunia kesehatan menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari perkembangan teknologi, tuntutan keselamatan pasien, hingga meningkatnya ekspektasi masyarakat terhadap mutu pelayanan, pendidikan kedokteran gigi tidak lagi cukup hanya menghasilkan lulusan yang pintar.

Yang dibutuhkan adalah lulusan yang mampu berpikir kritis, bekerja kolaboratif, belajar sepanjang hayat, serta tetap memiliki empati kepada pasien.

Melalui sistem akademik yang terstruktur, evaluasi berlapis, internasionalisasi pendidikan, pembinaan organisasi kemahasiswaan, serta pelibatan aktif keluarga, FKG UGM tampaknya sedang berusaha menjawab tantangan tersebut.

Perjalanan mahasiswa memang baru dimulai. Namun sejak langkah pertama itulah, fondasi seorang dokter gigi sesungguhnya sedang dibangun bukan di ruang praktik, melainkan di ruang kelas, laboratorium, forum diskusi, organisasi, dan dalam kemitraan yang erat antara kampus, mahasiswa, serta keluarga.

(Reporter: Andri Wicaksono, Nanda. Foto: Fajar Budi Harsakti)

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
6 Agustus 2026

Penutupan Monev Kolegium & KKI Kedokteran Gigi Anak di Prodi Spesialis Kedokteran Gigi Anak FKG UGM

6 Agustus 2026

dr. Hasto Wardoyo Menantang Mahasiswa Baru FKG UGM Menjadi Insan Kedokteran Gigi Berintegritas

6 Agustus 2026

Satu Wajah, Banyak Tangan: Penanganan Celah Bibir dan Langit-Langit dengan Pendekatan Lintas Spesialisasi

id_ID