Berita

/

Artikel, Berita Terbaru

Video Bahasa Jepang Bertema Wisata Riau Terbukti Dongkrak Motivasi Belajar Mahasiswa

Seratus persen. Tidak ada satu pun dari 30 mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang Universitas Riau yang meragukan manfaat video pembelajaran pariwisata lokal yang mereka gunakan di kelas. Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang (JPBJ) edisi Februari 2026 ini menemukan bahwa video percakapan berbahasa Jepang bertema wisata Provinsi Riau mampu meningkatkan wawasan pariwisata seluruh responden, sekaligus mendorong motivasi belajar hingga 93,9 persen. Studi ini dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas Riau pada periode Maret hingga Mei 2024, sebagai respons atas minimnya media ajar bahasa Jepang yang mengintegrasikan kekayaan budaya lokal Indonesia.

Ketika Masjid An-Nur Jadi Bahan Percakapan Bahasa Jepang

Bayangkan seorang mahasiswa membuka layar, lalu muncul gambar Masjid An-Nur di Pekanbaru, ibu kota Provinsi Riau. Di bawahnya, tertulis kalimat dalam aksara Jepang: もし興味があれば、見学してください — artinya, “Jika Anda tertarik, silakan datang dan melihat-lihat.” Itulah salah satu cuplikan dari produk video ajar yang menjadi objek penelitian ini.

Video tersebut tidak hanya menampilkan satu situs budaya. Ada pula tradisi bakar tongkang dari Bagan Siapi-api, Rokan Hilir, sebuah ritual syukur etnis Tionghoa yang sudah berlangsung sejak abad ke-19. Dalam video, terdengar suara remaja mengucapkan: それはバカル・トンカン呼ばれる伝統が有名ですよ — “Tempat ini dikenal dengan tradisinya yang disebut bakar tongkang.”

Pendekatan inilah yang membedakan produk ajar ini dari buku teks konvensional. Alih-alih menggunakan contoh percakapan generik tentang Tokyo atau Kyoto, mahasiswa belajar berbahasa Jepang lewat konteks yang mereka kenal sendiri: kampung halaman mereka.

Angka-Angka yang Bicara

Penelitian ini menggunakan metode survei kuantitatif dengan instrumen kuesioner skala Likert lima poin. Tiga puluh mahasiswa angkatan 2023 yang sedang mengikuti kelas Nihongo Kentei 3 diminta menilai delapan kriteria produk, mulai dari relevansi budaya, kelengkapan kosakata, hingga daya tarik visual.

Hasilnya cukup mencolok. Sebanyak 97 persen responden menilai video ini merepresentasikan budaya Riau secara akurat. Untuk aspek tata bahasa atau gramatika, 90,9 persen menyatakan video membantu mereka memahami struktur kalimat bahasa Jepang dalam konteks pariwisata. Sementara itu, 84,8 persen merasa kosakata yang disajikan sudah memadai untuk kebutuhan komunikasi di bidang wisata.

Satu-satunya angka yang relatif lebih rendah ada pada aspek aplikatif keseharian, yakni 78,8 persen. Angka ini mengisyaratkan bahwa sebagian mahasiswa merasa konten video belum sepenuhnya bisa diterapkan dalam percakapan sehari-hari di luar konteks pariwisata formal.

“Hasil temuan menegaskan pentingnya integrasi tema budaya lokal dalam pembelajaran bahasa asing, khususnya Jepang, dan menunjukkan bahwa video pembelajaran dapat menjadi solusi efektif untuk memenuhi kebutuhan pendidikan di bidang pariwisata.”

— Tim Peneliti, Universitas Riau, JPBJ Vol. 12 No. 1, 2026

Lebih dari Sekadar Alat Belajar

Para peneliti menekankan bahwa video ini bukan sekadar pengganti papan tulis. Dalam praktiknya di kelas, mahasiswa menggunakan video sebagai bahan untuk latihan role play berpasangan. Mereka memerankan percakapan antara pemandu wisata lokal dengan wisatawan berbahasa Jepang, situasi yang sangat mungkin mereka hadapi di dunia kerja nyata.

Pendekatan ini dinilai efektif karena menggabungkan tiga elemen sekaligus: visual yang akrab, bahasa asing yang ingin dikuasai, dan konteks budaya yang bermakna secara personal. Ketika seorang mahasiswa melihat gambar tempat yang pernah ia kunjungi, lalu belajar cara mendeskripsikannya dalam bahasa Jepang, proses belajar terasa lebih hidup dibanding menghafal kosakata dari daftar kata yang lepas dari konteks.

Penelitian ini juga membuka pertanyaan yang relevan bagi institusi pendidikan lain di Indonesia. Berapa banyak daerah yang memiliki kekayaan budaya sebesar Riau, namun belum punya media ajar bahasa asing yang mengangkat kekayaan itu? Kalau video tentang Masjid An-Nur dan bakar tongkang saja bisa menggerakkan 93,9 persen mahasiswa untuk belajar lebih dalam, apa yang bisa terjadi jika model serupa diterapkan di Yogyakarta, Makassar, atau Flores?

Penulis: drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes, Hazra Alifia Muharam

Foto: Pexels

Sumber DOI: https://doi.org/10.59837/jpmba.v2i4.963

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
22 Juli 2026

27 Wisudawan Pascasarjana FKG UGM Periode Juli 2026 Resmi Dilepas

22 Juli 2026

Adaptif Dengan Teknologi Informasi, Tanpa Mengurangi Substansi & Ketahanan Pembelajaran

22 Juli 2026

Ketika Sel Kanker Lidah Dipaksa Mati dari Dalam

id_ID