Berita

/

Artikel, Berita Terbaru

Gigi Fungsional dan Kerapuhan Tubuh Lansia: Riset UGM Ungkap Kaitan yang Selama Ini Terabaikan

Gigi Fungsional dan Kerapuhan Tubuh Lansia

Bayangkan seorang nenek berusia 68 tahun di Sleman yang sudah kehilangan sebagian besar giginya. Ia makan seadanya nasi lembek, lauk yang mudah dikunyah, jarang menyentuh daging atau sayuran berserat. Perlahan, tubuhnya melemah. Ia mudah lelah, genggamannya mengendur, jalannya melambat. Apakah ini sekadar proses menua yang wajar? Atau ada sesuatu yang bisa dicegah lebih awal?

Penelitian terbaru dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada menawarkan jawaban yang mengejutkan: kondisi gigi dan fungsi mulut ternyata berhubungan erat dengan frailty sindrom kerapuhan fisik yang kerap menjadi pintu masuk menuju penurunan kesehatan serius pada lansia.

Apa yang Diteliti, Siapa Subjeknya, dan Mengapa Ini Penting

Studi yang dipimpin drg. Elastria Widita, MSc, PhD dari Departemen Ilmu Penyakit Mulut FKG UGM ini melibatkan 405 lansia berusia 60 tahun ke atas yang tinggal di lima kecamatan di Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Penelitian berlangsung dengan desain cross-sectional berbasis komunitas, menggunakan metode multistage cluster random sampling melalui Posyandu Lansia setempat.

Para peserta diperiksa giginya secara langsung oleh dua dokter gigi terlatih dan dikalibrasi, serta diwawancara menggunakan kuesioner terstruktur. Yang diukur bukan hanya jumlah gigi, melainkan functional tooth units (FTU) satuan yang menghitung pasangan gigi atas-bawah yang benar-benar bisa berfungsi untuk mengunyah, termasuk gigi asli, gigi tiruan cekat, implan, maupun gigi tiruan lepasan. Skor maksimalnya 12 FTU untuk gigi fungsional lengkap.

Selain itu, peneliti juga mengukur karies gigi, disfagia (gangguan menelan), xerostomia (mulut kering), dan perilaku kesehatan gigi seperti frekuensi menyikat gigi dan kunjungan ke dokter gigi. Semua ini dianalisis terhadap status frailty yang dinilai berdasarkan lima kriteria: penyusutan berat badan tidak disengaja, kelemahan otot, kelelahan, kelambatan gerak, dan rendahnya aktivitas fisik.

Hasilnya? Dari 405 peserta, 16 persen tergolong frail, 75 persen pre-frail, dan hanya 9 persen yang benar-benar robust atau bugar.

Semakin Sedikit Gigi Fungsional, Semakin Rentan Tubuh

Temuan paling kuat dari studi ini adalah hubungan antara jumlah FTU dengan status frailty. Setelah peneliti menyesuaikan data dengan faktor perancu seperti usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status gizi, penyakit kronis, dan konsumsi obat-obatan asosiasi itu tetap signifikan.

Lansia dengan jumlah FTU lebih banyak memiliki peluang lebih rendah untuk dikategorikan sebagai frail (OR: 0,78; 95% CI: 0,66–0,92) maupun pre-frail (OR: 0,85; 95% CI: 0,75–0,96). Sebaliknya, jumlah FTU yang lebih rendah berkaitan dengan tingginya risiko kelelahan dan kelemahan otot dua dari lima komponen utama frailty.

“Temuan ini memperkuat bukti yang terus berkembang bahwa kesehatan mulut berkaitan dengan penurunan fungsi fisik di usia lanjut.” drg. Elastria Widita, MSc, PhD, peneliti utama, FKG UGM

Mekanismenya masuk akal secara biologis. Ketika seseorang kehilangan gigi fungsional, kemampuan mengunyah menurun. Akibatnya, pilihan makanan menyempit protein hewani, sayuran keras, dan makanan bergizi tinggi mulai dihindari. Asupan asam amino rantai cabang (branched-chain amino acids) berkurang, dan ini berkorelasi langsung dengan penurunan kekuatan genggaman tangan. Otot melemah. Tubuh makin rapuh.

Disfagia dan xerostomia turut memperparah kondisi ini. Disfagia ditemukan berkaitan dengan kelelahan (OR: 1,69; 95% CI: 1,09–2,62), begitu pula xerostomia (OR: 0,91; 95% CI: 0,85–0,97). Mulut kering mengganggu pembentukan bolus makanan dan proses menelan, yang pada akhirnya memperburuk status gizi dan mempercepat kelelahan fisik.

Siapa yang Paling Berisiko dan Di Mana Celah Intervensinya

Data sosiodemografi peserta memberi gambaran yang tidak mengejutkan, namun tetap penting. Lansia yang frail cenderung lebih tua, berpendidikan lebih rendah, dan memiliki status gizi lebih buruk. Hampir seluruh peserta dari semua kelompok frail, pre-frail, maupun robust tidak rutin mengunjungi dokter gigi. Nol persen dari kelompok frail tercatat melakukan kunjungan gigi secara teratur.

Ini bukan sekadar angka. Ini cermin dari realitas akses kesehatan gigi di masyarakat lansia Indonesia di mana kunjungan ke dokter gigi masih dianggap kebutuhan tersier, bukan bagian dari perawatan kesehatan rutin.

Studi ini diterbitkan di jurnal internasional BMC Geriatrics pada 2026 dan merupakan salah satu penelitian pertama yang secara komprehensif memetakan hubungan kesehatan mulut dengan frailty dalam konteks Indonesia negara berkembang dengan keterbatasan akses layanan kesehatan, kualitas gizi yang beragam, dan perilaku kesehatan gigi yang masih perlu ditingkatkan.

drg. Elastria Widita, MSc, PhD dan tim merekomendasikan agar pemeriksaan kesehatan gigi mencakup skrining disfagia, xerostomia, dan status gigi fungsional diintegrasikan ke dalam asesmen geriatri komprehensif. Posyandu Lansia, yang menjadi titik kumpul utama penelitian ini, bisa menjadi pintu masuk yang realistis untuk intervensi semacam itu.

Pertanyaan besar yang tersisa adalah pertanyaan kausalitas: apakah memperbaiki kesehatan gigi lansia benar-benar bisa memperlambat atau mencegah frailty? Studi ini, dengan desain cross-sectional-nya, belum bisa menjawab itu. Tapi ia meletakkan fondasi yang kokoh untuk penelitian longitudinal berikutnya.

Sementara itu, ada satu hal yang sudah bisa dilakukan sekarang: berhenti menganggap gigi lansia sebagai urusan kecil. Karena di balik gigi yang fungsional, ada tubuh yang masih bisa berdiri tegak.

Sumber DOI : https://doi.org/10.1186/s12877-026-07167-6

Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Freepik

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
21 Juli 2026

FKG UGM Usung Konsep Green Dentistry pada Summer Course 2026

21 Juli 2026

Ketika Karier Mandek, Siapa yang Bertanggung Jawab?

21 Juli 2026

Nanokitosan Lawan Bakteri Tersembunyi di Balik Kawat Gigi

id_ID